Indonesia Art News Agency


Mengingat Sawah
November 22, 2007, 9:22 pm
Filed under: visual arts

rosid-3.jpg

Teks oleh Heru Hikayat 

Gambar-gambar Rosid kali ini memperlihatkan sosok orang tua. Seorang kakek. Sejumlah gambar potret, gambar figur, ada juga yang merinci bagian-bagian tubuh tertentu. Sebagian gambar berukuran besar. Cukup besar untuk menunjukan bahwa melalui gambar tersebut, ada keakraban antara si pelukis dan subjek lukisannya. Keakraban tentang raut, mimik muka, rinci tubuhnya, gestur. 

 

Pada kenyataannya figur itu memang dikenal baik oleh Rosid. Ia adalah Pak Dapin, ayah Rosid, seorang petani di desa Parigi, Ciamis Selatan, Jawa Barat. Ide menggambarkan sang ayah datang dari tindakan Rosid mempersempahkan pameran tunggalnya tahun 2005 pada Bu Supijem, orang yang telah melahirkannya. Pada pembukaan pameran itu, Rosid menggambar potret sang ibu, lalu sungkem. Kini Rosid sedang menyatakan penghormatan pada sang ayah. 

Saat itu, bukan pertama kali Rosid menggambar potret ibunya. Rosid memulai kariernya sebagai juru gambar potret di desa Parigi. Umumnya anak petani mulai bekerja pada usia dini. Pertanian butuh banyak persiapan didukung dengan pengolahan kebun, pemeliharaan ternak, dll. Kasusnya tentu saja berbeda dengan petani pemilik lahan yang luas. Mereka cukup kaya untuk tidak melibatkan anak-anaknya pada pekerjaan pengolahan lahan. Tapi petani pemilik lahan kecil seperti Pak Dapin, atau apalagi buruh tani, tidak punya pilihan lain: anak adalah tenaga kerja. Rosid kecil tidak asyik-masuk dengan berbagai pekerjaan pertanian. Saat remaja ia suka menggambar potret. Ia mulai dengan menggambar potret orang-orang terdekat di keluarganya. Ia dinilai cukup terampil oleh orang-orang di sekitarnya. Paruh kedua tahun 1980-an Rosid mulai mendapatkan uang dari keterampilan menggambar. Tetangga-tetanggga Rosid di Parigi menyatakan bahwa sebelumnya tidak ada juru gambar seperti Rosid. Mereka senang jika ada juru gambar yang bisa menggambar potret mereka. Sebagian membutuhkan gambar potret dari sanak saudara yang telah tiada. Sebagian lain memerlukan pajangan potret dirinya. Cukup sering Rosid menggambar potret dengan acuan pas-foto dari KTP. Karena hanya pas-foto macam itu yang mereka punya. Pada akhir masa SMA Rosid sudah tidak meminta uang pada orang tuanya lagi. Hal ini menumbuhkan keyakinan pada dirinya, bahwa ia bisa hidup dari keterampilan menggambar. Dengan itu, dia merantau ke kota. Ia berangkat ke Bandung berbekal uang hasil menggambar.

rosid-2.jpgHingga hari ini sebagian warga Parigi masih menyimpan karya-karya gambar Rosid dari masa Rosid remaja. Masih ada pula yang meminta Rosid untuk menggambar potretnya.

Tahun 1989 Rosid merantau ke Bandung. Ia belajar di Sanggar Siliwangi, lalu mulai bekerja sebagai artisan di studio R.66 milik Heyi Ma’mun. Guru-guru Rosid tampaknya bersepakat bahwa potensi utama Rosid ada pada drawing figur hitam-putih. Sedikit demi sedikit, dengan arahan dari guru-gurunya, Rosid mulai membuka ruang pergaulan dan mendapatkan kesempatan pameran. Pameran tunggal Rosid tahun 2000 dijuduli “Wajah Polos Bocah Pinggiran”. Judul ini jelas menunjukan citra Rosid telah terbentuk. Juru gambar potret semasa di desa, arahan pada gambar figur hitam-putih dari guru-gurunya, ketertarikan pada kepolosan dan kejujuran kanak-kanak, memantapkan Rosid pada teknik drawing, serta secara tematis menjelajahi isu seputar kanak-kanak.

Sejak awal Rosid terbiasa menggambar orang-orang di sekitarnya. Ia menggambar anak-anak tetangganya. Ia memotret orang tua yang ditemui di jalan. Lukisan potret awalnya merupakan hak prerogatif kaum bangsawan. Hingga kini, hanya potret “orang-orang besar” yang diduplikasi banyak-banyak dan disiarkan luas. Sementara sejarah penggambaran figur manusia penuh dengan bias rasisme. Dalam pemilahan ini, Rosid sejak awal menggambar orang-orang kecil. Tubuh-tubuh yang tidak sempurna.

Walaupun menggunakan teknik dasar drawing dan sepenuhnya manual, Rosid sebenarnya menggambar dengan logika kamera. Pada pameran ini, subjek karya sepenuhnya berpose. Subjek tidak “ditangkap” dalam suatu keseharian. Di depan kamera ia berjarak dengan keseharian. Bukan berarti tidak ada ihwal keseharian itu. Keseharian meninggalkan jejak pada tubuh. Pernah memperhatikan tubuh seorang petani? Kulit bangsa kita berwarna tanah. Kulit petani lebih serupa tanah. Rinci pada tubuhnya adalah jejak dari kerja yang ia jalani. Rosid mengungkapkan apa yang ia pikirkan mengenai ayahnya melalui “kosa-rupa” yang selama ini telah ia kuasai: potret dan tubuh. 

Rosid sangat mengagumi sang ayah, karena hingga kini di usia pensiun, ketika anak-anaknya telah mandiri semua, Pak Dapin tetap mengisi hidupnya dengan bekerja. Pada saya, bukan tindakan bekerja itu sendiri yang layak diteladani anak dari ayahnya; karena bekerja, menafkahi keluarga, merupakan kewajiban orang tua. Tapi semangat mengisi hidup dengan bekerja, dengan menghidupi orang lain, itulah teladan sesungguhnya. 

rosid-1.jpgRosid dibesarkan dalam keluarga petani. Petanilah yang mengolah bumi. Saat peradaban telah demikian canggih, nyatanya manusia tetap bergantung pada alam, makan dari hasil olah bumi. Ironisnya, petani yang merupakan tulang punggung pemenuhan hajat hidup manusia, teramat sering jadi korban gemuruh roda kemajuan. Hal ini saja sudah menunjukan kehendak manusia untuk berkuasa atas sesamanya dan atas alam, bukan untuk hidup berdasarkan irama alam. Sudah sepatutnya petani diagungkan[1]. Pengagungan yang wajar, sewajar seorang anak belajar dari sang ayah yang menghidupinya.  

Rosid tidak meneruskan tradisi bertani. Ia telah menjadi orang kota, menjalani profesi pelukis, suatu dunia yang “sangat kota”. Lalu ia berusaha tidak lupa dunia semacam apa yang membesarkannya. Melalui seni, ia mengingat sawah yang menghidupi.[]  


[1] Mengenai judul, saya diilhami syair-syair lagu Muktimukti. Syair lagu Mukti banyak berkisah tentang petani, tanah, sawah. Mukti juga banyak bercerita tentang konflik-konflik di seputarnya.     


6 Komentar so far
Tinggalkan komentar

fotona alus2 euy!!

Komentar oleh Deni_borin

Makasih. Karya Rosid difoto oleh Agus Bebeng.

Komentar oleh Heru Hikayat

Oh… pantes!!

Siang tadi.. saya juga baru kesana lihat2.. sambil moto-moto..
dan dikasih pin oleh Pak Rosid-nya… saya kira siapa dia? awalnya minta tolong ke saya untuk motoin dia dengan seorang temannya.. eh, temannya manggil dia dengan nama Rosid.. oh, ternyata saya baru tahu, beliau toh yang namanya Pak Rosid itu, Akang kuratornya ya?

Hebat2 euy karya Rosid-nya! walaupun saya tdk terlalu ngerti seni, tapi kayaknya energi dari karyanya nyampe banget ke saya..

Saya datang kesana karena penasaran dengan judul sawahnya.. maklum bapak saya juga petani yang alhamdullilah mampu mengantarkan saya kuliah di Bandung..

Pokokna hidup petani lah…!!

foto2 saya di Galeri Soemardja siang tadi, bisa dilihat di blog multiply saya!!- baru belajar motret2 nih… pake pocket… ketularan Bang Frino..

Komentar oleh Deni_borin

tulisannya keren….begitu mengalir.

Komentar oleh reni

wah tulisannya luarbinasa sekali om heru

Komentar oleh agus bebeng

weheheh, ngga representatif ama aslinya tuh…
yang aslinya beuuuuh…dahsyat

Komentar oleh aul




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s