Indonesia Art News Agency


Harga Sebuah Fanatisme
Februari 10, 2008, 10:48 pm
Filed under: music | Tag: ,

rshs.jpg

Sepuluh anak muda tewas usai menonton musik cadas di Gedung Asia Africa Culture Centre [AACC], di Jalan Braga Bandung, Sabtu [9/02/08] malam kemarin. Peristiwa terjadi saat massa yang berada di dalam gedung ingin keluar, sementara yang di luar gedung memaksa ingin ke dalam. Kurang lebih 1 jam mereka berdesakan diantara pintu masuk dan selasar gedung. Kehilangan kendali. Banyak yang terluka, banyak yang menangis. Mereka terinjak teman sendiri. Akhirnya, satu demi satu anak-anak yang masih muda itu roboh ke lantai.

Minggu pagi hari seluruh korban yang berada di ruang mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung diotopsi. Semuanya menangis. Peristiwa “Spirit of Februari 9th” ini adalah sejarah kelam dunia musik “underground” kota Bandung. Ini adalah kematian yang berulang kali. Entah demi sebuah pencarian jati diri atau perlawanan diri sendiri. Tapi kita semua bertanggung jawab atas peristiwa ini. Kita bertanggung jawab karena terlalu menggampangkan musik yang terdengar berantakan ini. Kita terlalu menggampangkan rasa fanatisme mereka.

Kawan, mereka tidak mencintai musik, mereka mencintai semangat musik ini.

Innalillahi wa innalillahi rojiun

 

Kantor Beritaseni Indonesia

Frino Bariarcianur Barus


23 Komentar so far
Tinggalkan komentar

cinta pada semangat musik yg harus dibayar dgn harga sgt mahal…

sebenernya, apa sih arti mencintai musik itu sendiri…?

Komentar oleh auly

cinta pada semangat musik yg harus dibayar dgn harga sgt mahal…

sebenernya, apa sih arti mencintai musik itu sendiri…?

Komentar oleh auly

Frino…
maukah kau berbaik hati memuat komentar dan tanggapan dari si penyelenggara dan orang tua korban…
bukan karena ingin menyalahkan pihak tertentu atas tragedi ini.. hanya saja atta ingin memastikan bahwa tidak hanya atta yang belajar dari tragedi ini…

jadi kangen konser damai sawung jabo dan abah iwan di rumah nusantara…

Komentar oleh atta

kelihatannya anda sudah ingin menyalahkan jenis musiknya (yang terdengar berantakan, kata anda), padahal dari pihak keolisian sendiri masih menyelidiki apa penyebab sebenarnya, yg salah satunya mungkin minuman beralkohol yg dibagikan itu….
nggak usah jenis musik ini. grup musik Ungu saja bisa kok bikin penontonnya mati. Ini masalah tata cara kerapian penyelenggaraan. Bukan masalah fanatisme ke jenis musik tertentu.

Komentar oleh bayu

Auly, aku belum menemukan jawaban mencintai musik. aku hanya punya kata ‘semangat’. sorry.

Atta, teman-teman kita, sudah banyak mewawancara dan menuliskannya. Intinya sangat sedih. Tapi seperti biasa, aku gak kuat mewancara orang yang lagi berduka. Hanya memeluk, memberi rokok, mengatakan turut berduka. Selebihnya mereka bercerita sendiri meskipun tak diminta, dan telingaku gak kuat mendengarnya. Maklum masih amatiran.

Untuk wawancara pihak penyelenggara, aku masih menunggu waktu Atta, karena kayaknya pihak polisi masih “sibuk” dengan penyelenggara. Begitu juga dengan pihak keluarga korban, aku harus menunggu waktu yang tepat. Sekali lagi maaf, masih amatiran.

Bayu, aku sudah melakukan wawancara dengan beberapa orang. Soal minuman keras yang dibagikan itu belum pasti! Tapi ternyata memang benar, si BESIDE-lah yang membagikan minuman [bir] kepada penonton. Tidak banyak. Bisa dicek di http://myspace.com/besidemetal.

Aku sempat melihat jenazah sepuluh korban, warnanya membiru dan lebam. Ada luka ditubuh, juga kepala. Sampai-sampai anggota keluarga agak lama mengenali korban, tapi tidak semua anggota keluarga sulit mengenali korban. Tapi aku percaya, bukan minuman keras itu yang menjadi penyebab. O ya, kalau ada dokter-dokter muda tim otopsi yang membaca komentar ini tolong dikasih tau, apa penyebab utama kematian korban? sekalian mau kasih tau bahwa yang melakukan otopsi berasal dari mahasiswa kedokteran Unpad, Maranatha, dan dua kampus dari Jakarta [sori lupa]. Mereka berjumlah sekira 20 orang.

Ingat Bay, kurang lebih 1 jam mereka berdesakan, dan jarak polisi hanya sekira 100 meter saja. Malah aku dengar terakhir, ada oknum polisi yang cuek ketika para panitia meminta tolong saat peristiwa itu terjadi. Dan memang tak bisa dibantah peristiwa ini wujud dari keburukan sistem manajemen enk ink enk production. Terkait dengan sistem, ternyata kita tidak memiliki model standarisasi keamanan, tim medical, kepastian kepasitas ruang, etc. Menurutku, gedung itu hanya bisa memuat 500 orang saja.

Bay, bagaimana mungkin aku menyalahkan jenis musik ini sementara aku mencintai semangat yang dibawanya?

Dan aku memang lebih suka menyebutnya harga sebuah fanatisme.

[komentar ini telah diedit dengan menambahkan kalimat yang dimiringkan, waktu posting, Selasa, 12 Februari 2008, 05:50 AM]

Komentar oleh frino barus

bosss … & semuanya juga … lu coba baca tulisannya wenzz rawk [kontributornya rolling stone indonesia] soal ini di situs personalnya dia di multiply … lu googling aja … itu lebih obyektif …
dan saat ini kalo kita harus menyalahkan … maka semua pihak salah …
dari manajemen EO, attitude penonton, sampe juga pihak keamanan yang plonga plongo aja dan saat udah kejadian malahan menuding alkohol adalah biang kerok … tapi satu pelajaran yang harus ditarik dari semua ini adalah … konser apapun itu, harus memiliki standar penyelenggaraan yang komplit dan baik, sehingga penonton berhak untuk bersenang senang secara aman, bukan untuk berhak mati mengenaskan … terima kasih

Komentar oleh andripunk

Tak bisa dipungkiri dunia spt itu erat hubungannya dengan hal semacam itu dan sudah diingatkan oleh agama…

Komentar oleh mydin

mati konyol untuk sesuatu yang konyol juga……
Tapi musiknya gak konyol seh, sangat ekspresif dan impresif malah

Komentar oleh hildalexander

Manajemen pementasan selalu dianggap sepele.
Dikiranya hanya sebangsa jual tiket, bayar keamanan dan hiruk-pikuk cari sponsor..

Duh, Gusti…

Komentar oleh Mas Kopdang

innalillahi… semoga tidak mati sia-sia😦

Komentar oleh dobelden

innalillahiwainnailaihirojiun
semga kita dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari peristiwa tsb

Komentar oleh anikusnidah

untungnye ane gak doyan nonton konser live model gitu😀

Komentar oleh Yudhi Arie Baskoro

udah tau bakal banyak yang nonton, kapasitas yang disediakan malah terbatas

Komentar oleh citra

disayangkan

Komentar oleh aRuL

Inilah bukti kegoblokan sebagian dari kita, menjadi masyarakat yang selalu berpatron pada figur, kelompok, sekumpulan pendusta yang mengatas-namakan ideologi, aliran musik dan agama. Kemudian menyeret diri ke pusaran massa sehingga si tono menjadi ariel Peterpan, cahyo seakan menjadi mick jagger, bejo jadi Che Guevara, Thoib menjad i Bambang Pamungkas lalu bersedia berdesak-desakan, saling perang bahkan nyawa taruhannyapun setiap orang menjadi lupa. Padahal setiap ikatan itu adalah ilusi yang memperbudak kita, merubah pribadi menjadi setitik kerdil di antara massa. Kasihan sekali bunda mengandung dan mengasuh dengan susah payah kalau hidup ini hanya ada untuk memuliakan setiap bangsat bernama tokoh, selebritas, pahlawan dan sebangsanya. jadilah manusia! jadilah diri sendiri!

Komentar oleh alfred pontolondo

Innalillah wainna ilaihi rajiun. semangat anak muda yg kurang di menej dg baik oleh orang tua dan negara. Bisakah semangat semacam ini dialihkan untuk membangun bangsa yg sedang morat marit ini. Tentu bisa asal ada yg mau memulainya. Doa sy semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya. Selamat jalan adik-2ku

Komentar oleh Arta

Kenapa gak digelar di stadion siliwangi aja sih😐

Komentar oleh Hedwig™

ane ambil dari milis jurnalisme….

Dibawah ini sedikit tulisan dari seorang saksi mata di tragedi bandung kemarin. Eben si penulis ini, gitaris dari band Burgerkill. Saya foward kesini untuk balance, sebab saya kira saat ini sudah banyak media yg memberitakan dan bahkan menyalahkan dari sisi musiknya, dan terutama jenis musiknya. Seolah2 karena jenis musik tertentu ini (rock, heavy metal) maka tragedi ini terjadi. Padahal bukan itu masalahnya.

Kalo membaca tulisan dibawah, masalahnya ternyata justru dari aparat yg bertindak berlebihan, panitia yang tidak mempersiapkan diri dengan baik dan melanggar aturan (menjual karcil lebih dari kapasitas, tidak menyediakan P3K yg cukup), dan rumah sakit yang betindak seperti biasanya RS2 di Indonesia, mendahulukan administrasi daripada menyelamatkan nyawa. Alasan2 yang bisa terjadi pada pertunjukan apa saja.

rgds,
bi

———- Forwarded message ———-

Guys, tulisan ini dibuat oleh rekan saya yang menjadi saksi mata kejadian tersebut, Eben gitaris Burgerkill ..mudah mudahan bisa
menjadi satu bahan acuan untuk menjadi alternatif sudut pandang lain dalam menilai tragedi berdarah konser Beside kemarin ..

———————-

Bandung, 9 Februari 2008
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser musik Beside.

Tepat jam 19.00 wib saya tiba di gedung AACC di jalan Braga Bandung, tempat dimana launching album perdana band metal asal kota kembang Beside digelar. Suasana diluar gedung sangat ramai dipenuhi teman-teman dari komunitas yang berkumpul untuk menyaksikan konser tunggal dari band yang baru saja meluncurkan album bertitel “Against Ourselves” ini. Di depan gerbang gedung yang berkapasitas 500 orang ini saya melihat ratusan metalhead yang terus mengantri berusaha masuk
kedalam gedung, terlihat juga beberapa orang aparat keamanan yang sedang bersantai duduk diatas motor yang diparkir di depan gedung.

Tidak lama kemudian dari luar terdengar Beside sudah mulai menggeber lagu pertama dari set list konser mereka malam ini, tanpa banyak menunggu saya langsung masuk melalui pintu samping gedung yang dikhususkan untuk para undangan dan teman-teman media.

Dari pinggir panggung saya melihat hampir 800 metalhead memadati crowd yang intens berpogo ria diiringi penampilan Beside yang powerfull, setelah saya perhatikan nampaknya pihak panitia telah menjual jumlah tiket yang melebihi kapasitas gedung. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa penonton yang mabuk dan pingsan dehidrasi dikarenakan kurangnya sirkulasi udara segar di dalam gedung, tapi sangat disayangkan pihak panitia tidak sigap menyediakan bantuan yang maksimal seperti PMI atau tim khusus untuk menangani kejadian seperti ini, sehingga beberapa penonton yang pingsan hanya dibiarkan tergeletak di lorong samping panggung tanpa pertolongan yang benar.

Memang udara didalam gedung sangat panas dan pengap hingga dipertengahan konser saya berjalan keluar melalui jalan samping untuk membeli minuman dingin. Dari depan pintu samping saya melihat kerumunan penonton tanpa tiket yang beramai-ramai berusaha merubuhkan gerbang utama gedung AACC ini, namun sayangnya para aparat yang berada di sekitar gerbang tidak melakukan tindakan antisipasi dan hanya berdiri merokok menyaksikan kejadian tersebut. Sempat saya mengingatkan salah seorang aparat untuk segera bertindak tapi hanya sebuah jawaban sederhana yang saya terima, “Udah biarin aja ada
panitia yang jaga, kamu ga usah ikut-ikutan” tuturnya. Aneh mendengarnya, seharusnya mereka lebih sigap dan segera mengamankan kejadian tersebut. Merasa tidak digubris saya kembali masuk kedalam gedung dan memberi tahu kondisi diluar gedung ke pihak panitia yang berjaga didalam, akhirnya beberapa panitia berlarian keluar untuk ikut membantu.

Setelah pemutaran video klip “Holyman” melalui big screen di kanan kiri panggung para personil Beside terlihat membagikan beberapa gelas bir kepada penonton yang berada di barisan depan panggung, tentunya suguhan ini dengan gembira ditanggapi oleh para penonton yang memang kehausan setelah terus berpogo. Tak berselang lama Beside kembali bersiap dan melanjutkan konser mereka.

Sekitar jam 20.30 konser yang berjalan lancar ini berakhir, kerumunan penonton yang mengantri untuk keluar pun terlihat aman dan tertib. Didalam gedung terdapat beberapa penonton yang kelelahan dan beristirahat sambil menunggu antrian yang
cukup panjang. Dan tragedi buruk ini pun dimulai, tidak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa diluar ada dua orang penonton yang meninggal karena kehabisan nafas.

Tiba-tiba seorang aparat tanpa seragam naik ke atas panggung dan langsung berteriak-teriak menyuruh semua penonton yang ada didalam gedung untuk segera keluar. Tanpa basa-basi pun beberapa polisi lainnya ikut masuk kedalam dan dengan kasar mengusir semua penonton yang tersisa. Kembali saya coba mengingatkan para aparat untuk tidak bertindak kasar dan menerangkan bahwa diluar antrian penonton masih panjang. Namun sekali lagi omongan saya tidak digubris dan mereka
terus bertindak seenaknya mendorong dan menendang para penonton, dan akhirnya suasana antrian menjadi tidak terkendali.

Beberapa penonton dibagian belakang terus mendorong kedepan karena takut terkena pukulan para aparat yang terus memaksa keluar, sangat jelas terlihat bertambahnya korban yang pingsan karena terinjak-injak antrian yang terus menumpuk. Dalam kondisi panik saya berusaha membantu seorang penonton yang tergeletak pingsan didepan gedung dan membopongnya untuk dibawa kedalam mobil salah satu panitia. Tiba-tiba salah seorang teman saya yang juga ikut membantu korban dipukul
wajahnya oleh seorang oknum aparat tanpa alasan yang jelas, dengan sigap saya berusaha melerai mereka. Dan sekali lagi sikap angkuh dan sok jagoan dari seorang oknum aparat pun dipertontonkan, dengan sikap yang kampungan hampir 20 orang aparat langsung menyerang saya dan mengeroyok membabi buta seperti segerombolan preman yang haus berkelahi.

Akhirnya suasana kembali tidak terkendali dan kerusuhan pun terjadi, beberapa teman yang ikut melawan dan melindungi saya pun ikut terkena pukulan dan tendangan dari oknum-oknum aparat yang terus bertambah sehingga kami semua berpencaran berlari jauh untuk menghindar. Dari kejauhan saya melihat beberapa korban yang pingsan didepan gedung diusir dengan kasar oleh beberapa aparat, dan mereka pun langsung memasang Police Line agar tidak ada lagi penonton yang masuk kedalam
gedung. Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya dibawa ke Polwiltabes Bandung sebagai saksi untuk dimintai keterangan perihal kejadian tersebut, dan saya pun langsung menuju kesana untuk mencari tahu kepastian beritanya.

Sesampai di kantor polisi saya melihat beberapa panitia yang berkumpul sambil menunggu giliran untuk di interogasi. Saya mencoba menghampiri dan bertanya kepada mereka tentang berita terakhir korban tragedi tersebut dan ternyata jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 10 orang yang tersebar di 2 Rumah Sakit. Beberapa korban yang tidak tertolong meninggal di RS Bungsu dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan menurut panitia yang ikut mengantar ke rumah sakit bercerita setibanya
di rumah sakit hampir sebagian besar korban tidak dilayani dan hanya dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit hingga akhirnya mereka meninggal dunia. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan pihak rumah sakit takut akan tidak selesainya urusan admistrasi dari masing-masing korban.

Sungguh kondisi yang sangat mengecewakan dan menyesakan dada, namun apa daya semuanya sudah terlewati dan kami sudah tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

Dunia musik Indonesia kembali berduka, sebuah konser musik yang menelan korban jiwa kembali terjadi. Lalu siapa yang bisa disalahkan?

Apakah buruknya persiapan antisipasi panitia yang nakal dengan menjual tiket diluar kapasitas gedung? Apakah juga bobroknya sikap aparat sebagai pihak yang seharusnya mengatur keamanan di lokasi konser? Atau terlalu banyaknya teman-teman kita yang terlalu mabuk ketika menonton konser? Lalu bagaimana dengan parahnya pelayanan di rumah sakit yang terkesan acuh untuk menangani korban? Saya rasa semua itu bisa menjadi penyebabnya, dan kita hanya bisa menyesalinya. Tentunya setelah
tragedi ini rasa pesimis teman-teman di komunitas akan sulitnya izin untuk bisa menyelenggarakan konser-konser akan semakin bertambah.

Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan berita miring di media yang terkesan memojokan teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah konser musik. Tulisan ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang musisi, teman, dan penikmat musik yang sangat mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah konser.
Dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili komunitas musik sejagad Indonesia turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga teman-teman kami yang telah pergi dapat beristirahat dengan tenang dan segala kebaikannya diterima disisi Allah SWT, Amien…

Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers, we’re gonna miss u…

Posted by Megabenz.(Eben BKHC)

Komentar oleh wezt

Smuanya berpulang pd diri masing2. Ini adalah barometer kedisiplinan yg ada di negara kt tercinta ini. Tanpa kedisiplinan smua pasti berantakan

Komentar oleh dharmasuhendri

Huh… sesuatu yang benar-benar harus kita soroti adalah, masalah prosedural…. menyelenggarakan sebuah konser musik dengan benar.
termasuk prosedur PENGAMANAN yang benar!

Kiranya semakin banyak saksi yang bicara, dan menuliskan apa yang mereka lihat, seperti yang dilakukan oleh EBEN, dapat lebih membuka tabir dalam tragedi ini.

Seperti yang Michael Jackson bilang,
“There are people dying, and it’s time to lend a hand to live…”

Komentar oleh ismal_metalBADAG

Teman-teman, sedikit menambahkan mana tau lebih memperjelas persolannya.

Saya kira cerita eben BK menjadi versi yang lebih menarik ketimbang pemberitaan dibanyak media mainstream dengan segala barier yang harus dihadapi jurnalisnya saat meliput, semoga bukan karena ketidaktahuan mereka, peritiwa di AACC itu.

Teman-teman beside hanya bagian kecil dari band yang mencoba mengekspresikan sensitifitas musikalnya dengan menggunakan jalur independent dengan semangat do it your self. Semua proses mulai dari pencarian gagasan kreatif hingga pemasaran mereka urus sendiri dengan harapan mendapat keutuhan karya. Dalam istilah eben kemudian disebut komunitas.Saya kira teman-teman akan jauh lebih fasih menceritkannya, termasuk keberhasilan apa saja yang dicapai.

Pada penjelasan kecil tadi saya menangkap semangat perubahan yang besar hadir dari teman-teman tersebut. Semangat yang menurut saya lebih jelas penafsirannya ketimbang kelompok ormas pemuda yang mencitrakandirinya baik padahal busuk juga, sebuah penerjemahan terhadap masa muda yang tak ingin mati muda sia-sia.

Cerita eben sesungguhnya sedang mengingatkan kita tentang akumulasi persoalan yang dihadapi kita semua sebagai warga kota versus penguasa. Semangat besar untuk berekspresi dan melakukan perubahan, sekejap lenyap dengan anggapan mabuk-mabukan, panitia amatiran dan sejumlah tudingan buruk terhadap salah satu gendre musik entah itu metal, rock atau apapun yang urakan.

Padahal bila kita amati lebih jauh, semua bermula dari kurangnya sarana dalam wujud infrastruktur yang layak untuk segala hal yang mengundang kumpulan masa seperti yang beside lakukan tempo hari. Kalo pun tersedia tentu banyak hal menghalanginya, terutama harga tempat pertunjukan yang makin hari makin mahal. Padahal tempat yang keberadaanya integratif dengan kebutuhan bagi acara keramaian, mulai dari kapasitas, tingkat keamanan, hingga kesehatan, menjadi hal penting kemudian.

Sayangnya tema ini kurang banyak diobrolkan orang karena berkaitan dengan niat baik dari pemerintah dalam menerjemahkannya. Saya kira diantara kekusutan yang terjadi di AACC, saya masih sangat yakin potensi besar bagi perubahan yang dibawa teman-teman yang hadir disana, bukan hanya musisinya karena saya yakin penyelenggarannya, penontonnya sekalipun mempunyai niat besar membantu memunculkan ide-ide organik dalam menuangkan kreatifitas tanpa intervensi pasar yang menjemukan. Sebuah ruang diskusi yang jauh lebih penting untuk diobrolkan. Potensi itu butuh ruang ekspresinya.
Potensi itu bukan subversif, meski banyak kali penguasa takut akan sebuah perubahan, apalagi bila hal itu datang dari kaum muda.

Komentar oleh bowo usodo

Tergantung cara masing masing menikmati hidupnya. Sebuah momentum yang bagus saya kira, buat mereka yang mengenal kejadian yang berbeda.

Komentar oleh satria barus

berapa duit bwt beside bisa manggung di acara kami ,,tolong kasih tahu cs ..

Komentar oleh ivan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s