Indonesia Art News Agency


Aku ”Bukan Lagi” Binatang Jalang
Februari 18, 2008, 2:53 pm
Filed under: visual arts

Teks : Frino Bariarcianur Barus/Image : Dokumen Jogja Gallery

Jogja Gallery [JG] pada tanggal 19 Februari – 9 Maret 2008 menggelar pameran seni visual ‘ANIMAL KINGDOM: The Last Chronic’. Pameran ini diikuti oleh 35 perupa, yang menampilkan 62 karya dengan tema binatang. Kenapa binatang?

Mikke Susanto, dalam kurasinya yang berjudul “Aku (Bukan Lagi) Binatang Jalang”, menyatakan pameran ini bukanlah untuk membentuk satu pengukuhan aliran tertentu maupun berkeinginan memesan karya tentang binatang pada perupa yang diundang. Pameran ini lebih berkehendak untuk melakukan pembacaan terhadap fenomena para perupa yang telah melakukan sejumlah kreativitas dalam mengolah objek maupun tema tentang binatang.

iwan-effendi.jpg

Lebih lanjut Mikke menjelaskan bahwa perkembangan seni rupa dunia, termasuk di Indonesia, pelukisan binatang telah lama dilakukan. Hampir di setiap lini kebudayaan terdapat pembahasan mengenainya. Hal ini tidak dapat dihindarkan dari perkara bahwa kebutuhan mereka akan gambar binatang terkait dengan pola hidup sebuah komunitas manusia.

Menurut Mikke, metafora binatang sampai sejauh ini mengandung banyak kegunaan, mulai dari yang bersifat spiritual religi hingga kebutuhan ungkapan politik, mulai dari kegunaan yang bersifat kolektif hingga personal, mulai dari kegunaan aplikasi benda fungsional hingga non fungsional.

Meski metafora binatang sudah lama digunakan dalam seni rupa namun pada kenyataannya kajian tentang binatang dalam sejarah seni rupa Indonesia tergolong minim. Menurut Mikke, dibanding dengan kajian lain seperti isu politik, proses kreatif, formalisme, medium maupun tema-tema seperti lanskap, stillife, aliran seni dan sebagainya, praktik kajian binatang sungguh jauh dari harapan.

Mikke juga menilai bahwa perkembangan pemikiran seni yang bertitik tolak dari tema binatang masih berkisar pada persoalan ”penghormatan”, ”cacian”, dan ”penggalian atau eksplorasi peran”. Hal inilah yang menyebabkan peran binatang menjadi berlapis-lapis.

Pada realitas lain, masih menurut Mikke, tak bisa dihindari adalah bahwa binatang kini secara fisik dan alami tergusur oleh kebijakan dan ulah manusia sehingga ia mengalami keterdesakan dan penyempitan ruang hidup, tetapi dalam lukisan atau karya seni, senyatanya binatang justru sebagai bagian yang mempengaruhi hidup manusia dan makin luas ruang wacananya.

Dalam pameran ini, publik akan diajak ke dalam penjelajahan dunia binatang dalam konteks pameran seni rupa kontemporer. Publik diajak untuk menyelami kemungkinan- kemungkinan “cerita”, “image”, tentang binatang.

Beberapa seniman telah siap untuk diapresiasi. Seniman-senima yang berpartisipasi antara lain : AB. Dwiantoro, Agus Suwage, Alexander Ming, Asri Nugroho, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Bunga Jeruk P, Dadi Setiyadi, Djoko Pekik, Doel AB, Erica Hestu Wahyuni, F. Widayanto, Farhansiki, Husin, I Dewa Putu Mokoh, I Gede Arya Sucitra, I Kadek Agus Ardika, I Ketut Santoso, I Wayan Asta, I Wayan Cahya, I Wayan Sadu, I Wayan Sujana ‘Suklu’, I Wayan Sumantra, Iwan Effendi, Ketut Sugantika [Lekung], Pande Ketut Taman, Probo, RB Setiawanta, Sasya Tranggono, Setyo Priyo Nugroho, Suitbertus Sarwoko, Suraji, Syahrizal Zain Koto, Ugo Untoro, Wahyu Santoso, dan Yoga Budhi Wantoro.
Pameran ini dibuka hari Selasa, 19 Februari 2008, pukul 14.00 WIB dan dibuka oleh Bapak Moetaryanto Konsul Kehormatan Republik Tunisia untuk Indonesia di Yogyakarta. Pameran di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta.[]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s