Indonesia Art News Agency


Alam Sepi Diantara Lautan dan Gunung
Februari 28, 2008, 1:29 am
Filed under: visual arts

Oleh : Lian Eisdiarwan

sajian-doa-merapi.jpgGodod Sutejo pelukis asal Jogja yang dikenal lewat gaya lukisnya yang khas, figure-figure manusia atau hewan berarak-arak yang digambar sekecil mungkin dengan latar belakang bentangan alam yang luas kembali hadir di Jakarta untuk berpameran Tunggal di Rumah Budaya Tembi Jakarta.
Menurut Godod, lukisannya adalah visualisasi hubungan antara manusia sebagai ciptaan, Tuhan Sang Pencipta dan alam semesta. Lukisan semacam itu sering memberi nuansa kedamaian, tenang, teduh, adem, nglangut, dan semakin menegaskan betapa makhluk hidup itu demikian kecil dalam genggaman Sang Khalik yang terpancarkan melalui bentangan jagat raya yang tidak terbatas.

Dalam melukis Godod biasa memadukan sekian warna sehingga terbentuk tumpukan-tumpukan warna yag bergradasi, bercampur. Godod bisa menyapu, menarikan kuasnya di atas kanvas beratus bahkan ribuan kali sehingga terbentuk objek dan paduan warna yang diinginkannya. Latar belakang lukisan yang berupa gunung, pegunungan, laut, pantai, sungai, jalan yang luas sering tampak disapu dengan warna putih sehingga kenampakan objek yang menjadi latar belakang keseluruhan lukisannya itu kelihatan samar-samar
serta memberikan kesan yang misterius bahkan mistis. Objek yang disamarkan dengan sapuan warna putih itu juga memberi kesan penegasan pada arah tujuan (aktivitas) figur-figur makhluk (manusia) yang dilukiskan kelihatan kecil, jauh, namun dalam garis dan warna yang lebih tegas dan jelas.

Dua sasaran utama yang ingin dicapai Godod melalui karya lukisnya tampaknya memang telah berhasil dengan cara melukis seperti tersebut di atas. Sasaran pertama adalah kenikmatan mata. Sedangkan sasaran kedua adalah kenikmatan hati. Godod menginginkan setiap orang yang mengkoleksi, mengapresiasi, atau
melihat karyanya bisa mendapatkan dua kenikmatan tersebut sekaligus.

Apa yang dilakukan Godod terhadap karyanya barangkali tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Mpu Gandring ketika membuatkan keris pusaka untuk Ken Arok. Ia tidak bisa diburu-buru, diminta untuk segera jadi dalam sekejap. Barangkali Mpu Gandring bisa saja membuat keris dalam satu dua hari selesai. Namun ia tidak mau membuat sembarang keris. Ia menginginkan karyanya adalah karya yang berkualitas baik. Baik dari sisi fisik maupun nonfisiknya.

Godod pun kurang lebih berlaku demikian. Sejak ia merasa menemukan ciri khas lukisannya itu ia sudah memulai untuk berkarya dengan cara-cara atau laku seperti empu pembuat pusaka (keris). Bukan sekadar membuat karya untuk ageman, hiasan atau keindahan belaka. Namun ia berharap lukisannya bisa menjadi
semacam pusaka bagi kolektor atau penikmatnya. Ia tidak ingin orang hanya terjebak pada daya tarik keindahan fisik-visual lukisan belaka yang hanya populer sesaat. Godod ingin karyanya memiliki semacam tuah, memiliki daya, energi, atau aura yang benar-benar barokah (baik memberi kewibawaan, ketenangan,
kedamaian, ketenteraman, kesejukan, kenyamanan, tenteram, dan sebagainya) sesuai dengan karakter masing-masing kolektor atau penikmatnya serta sesuai pula dengan ruang pajangnya.

Godod juga melakukan penyatuan pancaindra yang dalam masyarakat Jawa disebut pandulu, pangrungu, pangganda, pangrasa, dan pangucap atau penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan perkataan. Hal ini dimaksudkan bahwa di dalam proses berkaryanya Godod menghindari godaan oleh pandangan lain, suara lain, bebauan lain, perasaan lain, dan tidak menuruti hawa nafsu untuk berucap yang tidak perlu apalagi ucapan kotor dan jahat.

Dengan demikian, karya yang dilahirkan pun akan menjadi karya yang tidak saja indah secara fisik atau visual, namun juga dapat memberikan kenikmatan hati atau semacam perasaan ekstase. Perasaan yang membuat orang seperti lahir kembali, suci.

Memang tema yang diusung oleh pelukis yang mengawali pameran tunggalnya pada tahun 1979 tidaklah sesederhana seperti lukisan yang dihasilkannya. Dalam karya berjudul”Hamparan Laut Anak Krakatau” dan “Mengadu Nasib Perahu Kecil di Lautan I & II”, Godod memvisualisasikan harmonisasi hubungan manusia dan alam, dan antara gunung, laut dan nelayan. Harmonisasi ini telah tercapai dan selesai di kanvas Godod. Tetapi yang terjadi di luar kanvas adalah dis-harmonisasi antara manusia dengan alam bahkan hubungan antara sesama manusia.

Demikian pula di lukisan “Damai Putih Mendalam” Godod mengajak setiap orang untuk mengibarkan bendea perdamaian dari generasi ke generasi. Sama seperti mengupayakan keharmonisan, perdamaian adalah idealisme yang semakin sulit diwujudkan di luar kanvas.

Kedamaian dan keharmonisan antara alam dan manusia serta di antara manusia adalah sesuatu yang patut diwujudkan tidak hanya di kanvas tetapi juga di alam kenyataan. Sesuatu yang patut diperjuangkan oleh setiap makhluk yang mendambakannya termasuk juga Godod Sutejo. []

* email :  eisdiarwan@yahoo.com

Judul Lukisan : Sajian Doa Merapi


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s