Indonesia Art News Agency


Jemek Supardi dan Pesta Rakyat Pendoworejo
Maret 3, 2008, 3:25 pm
Filed under: traditional

ngguyang-jaran2.jpg

Teks/foto : Lian Eisdiarwan

Di bawah bayang-bayang dinding kapur Kayangan yang menjulang tinggi dan dalam suasana magis yang mengelilingi bendung Kayangan, aktor pantomim Jemek Supardi, pada hari Rabu, 5 Maret 2008 akan kembali menebar sensasi dengan ngguyang (memandikan) siluman danyang Kedung Kayangan, Pendoworejo – Kulon Progo. Tapi kali ini Jemek tidak sendirian, para seniman Jathilan dari dusun Ketileng, Krikil dan Sumberan juga akan ngguyang jaran kepang mereka di depan warga desa Pendoworejo.
Ritual ngguyang jaran kepang ini adalah bagian dari rangkaian acara Saparan Rebo Pungkasan yang diselenggarakan oleh Komunitas Kampung Budaya Menoreh. Menurut Pak Priyo Mustika selaku ketua panitia diharapkan di tahun-tahun mendatang lebih banyak seniman yang ikut ngguyang, tidak saja jaran kepang tetapi mungkin singa atau gajah kepang mereka.

Pemandangan alam yang menakjubkan dan ritual budaya yang sarat makna ini akan diabadikan oleh para perupa Nusantara dari Jogjakarta: Maryono, Ledek Sukadi, Sumadi, Hono Lette, Harsono, Mamik PA, Nunuk Ribanu, Darmiyatun, Titik Sidin, Ireng Larasati, Naima Parid, Rujiman, Yoyon, Hari Pribadi, Nick, Jatmiko, Sutopo, Kamiran Suryadi, Dewobroto, F Lukito, Herjoko, Agus Priyanto, Danang, Gajah; para perupa komunitas Galar Manunggal: Mahyar, Teguh Suwarto, Hatta Hambali, Sutopo Muda, Tulus Warsito, Indarin, Suradi, Hari Agung, Sumarjo dan Godod Sutejo; Untung BG dari Wonosari, Hadiwijaya dari Purwokerto, dari Klaten: GM Sidharta, Cak Min, Joko SP, Harjiyo serta komunitas Fotografi UPN Veteran.

Menurut Pak Godod Sutejo, salah satu perupa yang terlibat, mengatakan bahwa acara ritual seperti ini, pemandangan yang menakjubkan dan semangat guyub khas masyarakat desa sangat menantang semangat kreativitasnya. Apapun yang lahir dari alam, selalu indah baik yang disaksikan dari jauh ataupun dari sudut sempit. Semua elemen yang muncul dari hubungan antara keindahan alam dan keguyuban masyarakat desa selalu menginspirari para seniman.

“Kami benar-benar sangat beruntung dikelilingi begitu banyak objek inspiratif,” kata Pak Godod.

jathilan-pendoworejo.jpg

Ritual Ngguyang Jaran Kepang dan Dhahar Kembul Sewu Dulur diadakan di dekat tempuran Bendung Kayangan dengan latar belakang batu cadas besar tinggi menjulang dan gemericik suara air sungai. Upacara dimulai dengan pembacaan doa oleh tetua adapt untuk meminta berkah atas panen yang lebih baik, keselamatan dan ampunan.

Puncak acara adalah ngguyang atau memandikan Jaran Kepang di sungai. Setelah upacara ngguyang jaran kepang selesai, para peserta, warga Pendoworejo dan para tamu duduk bersama untuk dhahar kembul atau makan bersama. Dalam upacara ini seluruh warga –miskin atau kaya, berkumpul saling berbagi apapun makanan yang mereka bawa. Dhahar kembul ini sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Rangkaian upacara bersih desa ini sebagai penangkal bala bencana dan bentuk kesetaraan dalam hubungan sosial dan spiritual. Tujuan upacara bersih desa: doa bersama, ngguyang jaran kepang, dhahar kembul dan pentas Jathilan adalah pembersihan jiwa, hubungan antar masyarakat dan dengan alam lingkungan baik secara komunal atau individu. Dan yang paling penting untuk meninggalkan sifat-sifat rakus, egois dan sifat jahat lainnya.

Saparan Rebo Pungkasan ini juga akan dimeriahkan dengan Pasar Geger Kayangan yang digelar dari tanggal 5 sampai dengan 9 Maret. Para pengunjung dapat berbelanja aneka kerajinan seperti kerajinan bonggol bambu, lukisan wisata dan digital, jamu-jamuan, teh pegagan khas Kulon Progo, batik, mebel, wayang kulit, susu kambing Ettawa, tas serat alam, topeng, gula semut dan aneka penganan tradisi.

Acara ini juga akan dimeriahkan oleh pentas seni tradisi. Tarian Angguk Gaya Baru akan dipentaskan hari Rabu setelah acara Dhahar Kembul Sewu Dulur. Pada hari Jumat pukul satu siang dipentaskan wayang Golek Purwo gagrak Ngayogjakarta, sebuah pentas yangsudah sangat langka dan dicoba untuk dilestarikan kembali.

Sebagai puncak acara pada hari Sabtu malam akan digelar wayang kulit semalam suntuk yang dipentaskan di dua kelir terpisah. Semua acara akan diselenggarakan di Sanggar Bodronoyo, Pendoworejo yang terletak 22 km arah barat Jogjakarta.

Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam Pesta Rakyat Saparan Rebo Pungkasan Pendoworejo, dapat menghubungi Pak Godod Sutejo di (0274) 370-213. Tempat penyelenggaraan. Pendoworejo []

* Lian Eisdiarwan, penulis lepas tinggal di Jogyakarta, email : eisdiarwan@yahoo.com

JADWAL PESTA RAKYAT PENDOWOREJO

Rabu, 5 Maret 2008

10:30 WIB: Ritual Ngguyang Jarang Kepang di Bendung Kayangan

13:00 WIB: Dhahar Kembul Sewu Dulur di Bendung Kayangan

14:30 WIB: Tari Angguk Gaya Baru di Sanggar Bodronoyo

Jumat, 7 Maret 2008

13:00 WIB: Wayang Golek Purwo Gagrak Ngayogjakarta di Sanggar Bodronoyo

Sabtu, 8 Maret 2008

20:00 WIB: Wayang Kulit di Sanggar Bodronoyo

 

Tempat: Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo – Kulon Progo. Untuk infomasi hubungi (0274) 370-213 – Bp. Godod Sutejo.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wah Jathilanku di liput to….
Nuwun…

Komentar oleh Yoga




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s