Indonesia Art News Agency


Saut Di Persimpangan Teks Perlawanan*
Maret 4, 2008, 1:53 pm
Filed under: Literature


saut-11.jpg

Oleh : Matdon

Saut, memperhatikan ekspedisi sastramu ke pelosok desa dan kota, membaca orasimu di website dan millis-millis serta kutukanmu pada TUK, mengingatkan saya pada prajurit perang Salman Al-Farisi di abad ke 7 Masehi. Dengan gagah ia menyerang musuh meskipun musuhnya terlalu banyak sedangkan kekuatan tentara Salman sangat sedikit, untuk mundur tentu tak mungkin karena harus membela kebenaran yang diyakininya, iapun membuat parit-parit di sekitar jalan yang akan dilalui musuhnya, sehingga dengan leluasa ia bisa melihat musuhnya terjebak dan ia pun leluasa menembaki musuh dengan panah.

Saut, kau membuat parit-parit sastra perlawanan ketika sastra didosakan oleh pemilik modal yang kemudian hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas, sama sekali saya tidak ragu kalau parit parit yang kau buat tak mampu melawan hegemoni kekuasan dalam sastra, karena seperti katamu, setiap teks adalah sebuah penulisan kembali atas teks-teks lainnya, tak ada teks yang tidak memiliki interteksnya.

Sastra adalah teks, puisi adalah teks, perlawanan adalah teks. Gerakan perlawanan dalam sastra tentu banyak cara, selain yang engkau lakukan saat ini – mengembara seperti Marcopolo, menebarkan benih semangat pada anak anak muda, menyuntikan virus sastra yang tasbih pada para penyair yang belum faham soal teks diluar sastra ; teks kehidupan sosial.

Begitulah Saut,

Kau mungkin sudah faham dengan apa yang dikatakan seorang Valentinovich Plekhanov si pendiri markisme Rusia itu, masalah yang selalu lahir dalam setiap kesusastraan adalah hubungan seni dan kehidupan sosial, pada bagian lain saya setuju jika fungsi seni untuk membantu perkembangan kesadaran manusia. Meskipun kemudian kita tahu, puisi ditulis lalu disimpan dibawah bantal – tak bersejarah. Kumpulan puisi dibuat buku tapi hanya mampu menembus komumnitas tertentu, itu bukan berarti puisi tak mampu membantu perkembangan kesadaran manusia, tapi nyatanya kesadaran manusia terhadap seni sangat terbatas.

Bersyukurlah sekarang ada mahluk bernama internet sehingga kawan-kawan kita bisa leluasa membuat negeri puisi sendiri setelah pos-pos penjaga rubrik sastra di Koran-koran tidak dipegang oleh orang yang tepat – yakni orang-orang yang masih menilai puisi sebagai like and dislike, bukan dari kualitasnya. Kehadiran atau mendirikan komunitas, mendawamkan (intensif) karya, menjaga harga diri adalah teks perlawanan itu sendiri terhadap kekuatan penjaga rubrik yang anjing edan , itu adalah teks yang memiliki interteks dengan sastra (puisi)

Saut…

TUK adalah sebuah rumah yang didalamnya ada orang sastra, sastra dimanapun membutuhkan sesuatu diluar sastra, TUK memiliki segalanya, TUK memiliki sastra dan memiliki sesuatu di luar sastra, artinya mereka memiliki uang yang banyak untuk digunakan bersastra, itu sah-sah saja, kalau engkau kemudian mengutuk TUK, saya yakin bukan lantaran tak kebagian uangnya, tapi jatah sastra di mata TUK hanyalah orang-orang yang mengabdi pada TUK. Sama halnya ketika FSB menggelar berbagai acara festival, para penyair muda Bandung pasti tak kebagian tampil, tapi mereka nggak iri hari, karena penyair muda seperti Yopi, Wida, Dian, Bojes, Semmy dll tak butuh itu semua, mereka telah membuat perlawanan sendiri dengan cara mereka. Sehingga kerajaan FSB boleh tetap ada, dan penyair penyair muda tetap lahir di kota ini tanpa bantuan nya. Jadi sesunguhnya para penyair muda di kota ini jauh telah melakukan perlawanan terhadap hirarki sastra anehnya perlawanan itu tidak mereka sadari.

Jadi, ketika kau menyebarkan teks-teks perlawanan dengan mulut dan tubuh sastramu, banyak orang kepanasan dan berbalik mencacimu, tapi ketika itu pula kau tidak sendirian masih ada saya untuk ikut mengangkat senjata, meski cara kita berbeda, teks perlawanan yang saya usung dengan (misalnya) Rahmat Jabbaril, Tisna Sanjaya, Deddy Koral masih bersifat local, karena kami yakin jika hegemoni kekuasan lokal bisa dilawan tanpa darah – revolusi atau evolusi – maka teks perlawanan itu dengan sendirinya akan menyebar juga ke wilayah yang lebih luas secara geografis.

Apa yang sudah kau lakukan, akan menjadi sejarah panjang sastra Indonesia, suatu saat nanti jika kau sudah almarhum, para penyair abad 23 dan abad-abad seterusnya akan mencatat namamu.

Terakhir, jika ada pertanyaan, apakah perlawanan harus berhenti, maka jawabnya tidak!! – kecuali mati – bahkan setelah matipun – karya kita masih bisa dijadikan senjata untuk melawan.

Tapi Saut, fisik kita terbatas, jika mulut kita terlalu banyak digunakan orasi nanti sariawan, jadi sebenarnya jika istrirahat sejenak boleh boleh saja – minum bir misalnya – untuk menambah tenaga atau kekuatan fisik, sambil mengatur strategi baru, agar esok kita bisa teriak lagi. Nah……[]

Bandung, Februari 2008

* Disajikan dalam diskusi Peluncuran Biografi karya Saut Situmorang di Ultimus Bandung, 1 Maret 2008


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saut ada kebenarannya sebab sastra bukan semata selera. Saya bukan golongan yang kecewa, kalo kecewa sudah lama berhenti berkarya. Dan tidak kumpulan pendendam, sebab dendam membuat nalar tidak matang. Selamat memberontak kawan, sebab keyakinan HARUS diperjuangkan. Lebih murni pakai jesuit saja ya, agar ikhtiarnya semakin mantab, hehe…

Komentar oleh Nurel Javissyarqi

hahaha…
Nurel Sang Pujangga Lamongan, apa kabar?
memang “kecewa”, “sakit hati”, ato “dendam” cuman mainan anak-anak yang merasa diri udah dewasa. seperti yang sekarang kebanyakan menganggap diri mereka sebagai “sastrawan” Indonesia itu! mereka sebenarnya yang mengidap penyakit psikologis ini kerna “karya-karya” mereka memang obskur, atau sekedar, hahaha… makanya begitu ada kesempatan berpolitik sastra, apalagi sambil menjilatin sosok-sosok kaya baru, wah baru ketahuan kemaruknya! Skandal Pena Kencana itu adalah contoh paling nyata dan paling mutakhir! sampai gak malu-malu nyebutin diri sendiri yang “terbaik” di sastra Indonesia! kacian ya, hahaha…
horas, man!!!

Komentar oleh Saut Situmorang

Baik. Aku belum taraf jangga kawan, sebutan penyair saja belum merasa. Andai terasa, baru di kaki &durung sampai ke otak. Belumlah ada lembaga menyebutku laksana itu. (emm, bagi mereka: Apa sebutan itu dari lembaga? Atau kalau puisinya di koran bisa dikata penyair? Jika puisinya telah terantologi bersama /tunggal, dapat dibilang sastrawan? Apa yang juara menulis puisi itu penyair? Apa berpatokan kamus mengenai itu? Oh. Saya teringat kawan Hudan jika bilang oh atau aih-aih, semoga ia baik pula). Saya cuman suka nyatra &berusaha ingin jadi, maka doakan. Oya kawan, memang konyol, kalau menilai puisi lewat poling sms. Bisa-bisa kartu perdana diborong habis demi sebutan itu, hehe

Komentar oleh Nurel Javissyarqi




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s