Indonesia Art News Agency


Fragmen Kecil Sigit Pius Kuncoro
Maret 6, 2008, 8:56 am
Filed under: visual arts | Tag: ,

pertempuran-terakhir-sigit.jpg

Teks : Frino Bariarcianur Barus

Kematian seorang diktator seperti mantan Presiden RI HM. Soeharto, Minggu 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB lalu, menimbulkan beragam pernyataan. Suka juga duka. Begitu juga bagi seniman Jogyakarta, Sigit Pius Kuncoro. Ia melukis kenangan relasi kita bersama sosok HM Soeharto.

Sigit Pius Kuncoro membagi kehidupan alm. Soeharto ke dalam empat bagian. Setiap bagiannya ia menyatakan turut berduka cita. Sigit menyebut seorang Soeharto sebagai Anak Petani dari desa Kemusuk, Seorang Prajurit, Seorang Pemimpin dan seorang ayah dari enam orang putra-putri.

Anak Petani yang menjadi presiden ke-2 itu, menurut Sigit telah melewati berbagai keprihatinan dan kemelaratan, melewati puasa-puasa panjang yang melelahkan, hingga laku spiritual yang tidak rasional untuk mempertanyakan arti hidup.

Sebagai seorang Prajurit, dalam seperemmpat usia hidupnya yang kedua, Soeharto menurut Sigit telah melewatkan berbagai pertempuran dan kekejaman peradaban, melewati pertarungan-pertarungan berdarah yang tidak rasional untuk menjawab tantangan hidup.

Sebagai seorang pemimpin, alm. Soeharto telah melewatkan berbagai kemuliaan dan kejayaan, mewujudkan cita-cita dan harapan, hingga mimpi-mimpi besar yang tidak rasional untuk mendapatkan semua cinta dan kebahagiaan.

Dan seperempat terakhir, sebagai seorang ayah dari enam putra-putri, alm. Soeharto telah melewatkan pertempuran terakhirnya yang tidak rasional. Soeharto berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.

”Soeharto berhadapan dengan tubuh-jiwanya sendiri dalam pertarungan senyap yang sudah pasti merenggut dirinya sendiri, yang membuat cintanya diceraikan dan namanya dihancurkan, seperti ginjal, paru-paru, jantung dan hatinya, yang satu-persatu direnggut dalam kebisuan” ungkap Sigit di dalam pernyataan tertulisnya.

Di sisi yang lain Farah Wardhani, kurator dan Direktur Indonesian Visual Art Archive [IVAA], menyatakan di dalam catatan kurasi yang berjudul ”Ode Untuk Seorang Bapak: Tentang Memori, Doa, dan Waris Sebuah Bangsa – dan Kita, bahwa karya Pius Sigit Kuncoro bukanlah sebuah penghujatan, bukan pula pembelaan. ”Hanya kenangan akan relasi kita terhadapnya, dan juga relasi terhadap ke-menjadi-an kita sendiri yang pernah melihatnya sebagai seorang Figur Bapak. H.M Suharto.”

soeharto-melambai.jpgKenangan itu tulis Farah, bisa menjadi indah bagi yang pernah diuntungkan dan menyakitkan bagi yang merasa terugikan. Seperti halnya setiap memori tentang seorang manusia yang telah melewati asam-garam kehidupan. Relasinya pun menjadi kompleks, sebuah hubungan cinta-benci, benci tapi rindu.

Baik Pius dan Farah mengakui bahwa mereka tak bisa dilepaskan dari beragam relasi diri dengan sosok orang yang pernah puluhan tahun memimpin Indonesia. Karena mengenal sosok Soeharto adalah belajar mengenali bagaimana kekejaman seorang pemimpin, senyum yang penuh misteri juga yang pasti tentang baik dan buruk. Perasaan mereka berkecamuk.

”Habis sudah anak petani yang luar biasa itu, seperti cangkang telur yang pecah berkeping-keping. Dihancurkan oleh Generasi Baru yang telah lahir. Generasi yang kini sedang belajar berjalan. Mungkin cangkang telur itu akan terinjak-injak dan ditinggalkan begitu saja,” tulis Sigit.

Fragmen kecil Pius tentang perjalanan hidup Soeharto dikerjakan dalam waktu sebulan ketika Soeharto memasuki ruangan ICU RS Pertamina Jakarta. Karya Pius dapat kita nikmati di ruang pamer Indonesian Visual Art Archive [IVAA] Hobby Studio, Jalan Patehan Tengah 37 Yogyakarta. Mulai dari tanggal 3-28 Maret 2008.

Setelah fragmen kecil ini, setelah kematian diktator Soeharto, semoga kisah ini tak terulang kembali. []


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s