Indonesia Art News Agency


Pena Kencana atau Pena Bencana?
Maret 6, 2008, 9:37 am
Filed under: Literature

Oleh : Wayan Sunarta

Pertama-tama saya mengucapkan selamat kepada para penyair dan cerpenis yang karyanya masuk ke dalam 100 puisi pilihan dan 20 cerpen pilihan se-Indonesia versi Pena Kencana Award 2008. Dari karya yang terpilih, selain para senior terlihat pula benih-benih belia yang menjanjikan yang dipungut dari 12 koran lokal dan nasional di Indonesia.

iklan.jpgPena Kencana Award ini menarik karena bisa menjadi salah satu motivator para penulis untuk terus melahirkan karya-karya unggul. Namun Pena Kencana bisa juga menjadi Pena Bencana bagi kondisi Sastra Indonesia yang telah amburadul ini, bila dalam pemilihan (seleksi) karya-karya tersebut tidak dibarengi dengan sistem, standar dan tolak ukur penilaian dan penjurian yang jelas dan diketahui publik sastra secara luas. Dan pada akhir penjurian semestinya juga ada pertanggungjawaban dewan juri yang terpublikasikan secara luas (misalnya berupa artikel atau esai yang dimuat koran nasional atau via milis, jika dewan juri mau sedikit bercapek-capek).
Menurut situs Pena Kencana Award, ada 7 orang juri dengan latar belakang sastra yang sangat kompeten, memilih 20 cerita pendek dan 100 puisi Indonesia terbaik dari ribuan karya yang dipublikasikan selama setahun penuh, antara 1 November 2006 sampai 31 Oktober 2007.
Lalu apa ukuran kompetennya? Apakah kompeten bisa menjamin tidak adanya unsur keberpihakan yang subjektif? Apakah hanya berdasarkan asas kepercayaan saja dari pihak panitia kepada para juri untuk menilai dan menyeleksi? Atau hanya berdasarkan pertemanan antara panitia dan juri, biar kerjaan lebih mudah?

Saya masih belum paham apa sistem yang dipakai juri untuk menyeleksi karya-karya terpilih itu? Apakah asal comot saja (hanya melihat nama dan kenalan dekat) dari karya-karya yang termuat di 12 koran itu, tanpa membaca secara sungguh-sungguh isinya? Sebab saya kurang yakin kalau para juri membaca seluruh karya yang termuat di 12 koran lokal dan nasional yang terbit di Indonesia. Cuaapeekkk dechhh….Kalau kasusnya begini bisa saja… dan tentu ada saja sejumlah karya yang sesungguhnya berkualitas luput dari penilaian.
Atau, apakah panitia menunjuk dan menyediakan seseorang juri/penyeleksi di masing-masing daerah untuk mengakomodasi karya-karya yang termuat di koran lokal? Kalo jawabannya iya, lalu apakah orang yang ditunjuk menyeleksi itu bisa dipercaya kapasitas dan kualitas seleksiannya? Apakah tidak menutup kemungkinan keberpihakan subjektif terhadap beberapa nama tertentu dari penyeleksi di tingkat daerah? Hal ini mirip kasusnya dengan juri tahap satu KLA yang menilai buku-buku yang dilist panitia. Lolos atau tidak tergantung pada kekuatan, ketelitian dan ketidakberpihakan juri tahap satu dalam menilai buku. Kalau juri tahap satu tidak becus dan kerja asal-asalan, maka jangan harap karya berkualitas bisa dijaring.
Lalu, mengapa karya beberapa juri dan panitia juga masuk karya pilihan Pena Kencana, lalu dimana kode etiknya sebagai juri?? Bagaimana bisa karya juri juga dinilai dan diseleksi? Apakah ada alasan yang masuk akal untuk kasus ini?? Atau apakah antara juri yang satu dengan juri lain tidak saling mengetahui atau pura-pura tidak tahu? Ini menunjukkan Pena Kencana belum mempunyai aturan yang jelas tentang kriteria penjurian.
Dari 100 puisi yang masuk pilihan Pena Kencana, mengapa bisa beberapa penyair terpilih dua sampai tiga karya? Apakah karya-karya itu sangat dahsyat sehingga mengalahkan karya-karya yang luput dari penjurian dan seleksi seluruh puisi yang termuat di 12 koran itu? Apakah tidak bisa ditemukan puisi-puisi lain yang lebih menjanjikan dan lebih berkualitas secara estetika dan eksplorasi bentuk dan tema? Apakah para juri/penyeleksi buta atau membutakan diri terhadap kualitas puisi? Atau para juri/penyeleksi tidak sungguh-sungguh menilai? Atau hanya melihat nama-nama tertentu yang bisa memenuhi selera sempit subjektivitasnya saja?
Jangan sampai Pena Kencana melahirkan barisan sakit hati para sastrawan yang telah berdarah-darah dan bernanah-nanah menulis karya sastra, tapi pada kenyataannya bukan dikalahkan oleh ukuran mutu/kualitas karya yang dilahirkannya, melainkan oleh sistem tidak sehat yang sekarang ini semakin berkembang marak dalam tubuh Sastra Indonesia.
Untuk sponsor Pena Kencana, saya berharap jangan sampai Pena Kencana berubah menjadi Pena Bencana yang akan merusak dan menghancurkan kesusastraan Indonesia karena standar penilaian/penyeleksian yang tidak jelas juntrungannya dan apa maunya. Dan jangan sampai ajang award yang dimaksudkan untuk tujuan mulia ini dipakai ajang main-main dan iseng-iseng orang-orang tertentu yang punya kepentingan subjektif.

Atau saya menyarankan, daripada latah membuat award dan membuang duit secara percuma, lebih bagus membuka beasiswa penulisan yang dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak luas. Artinya para penulis yang melamar beasiswa penulisan itu diberikan dana yang cukup untuk menggarap karya sastra (kumpulan puisi, cerpen, novel, kritik sastra) dan membukukannya. Pihak sponsor bisa ikut mejeng logo di sampul buku itu nantinya. Akademi Kebudayaan Yogya (AKY) pernah melakukan ini beberapa tahun lalu. Bagi saya dengan beasiswa penulisan kreatif, akan banyak bermunculan buku-buku sastra yang bisa diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan untuk kemajuan Sastra Indonesia.

Akhir kata, semoga dunia Sastra Indonesia dijauhkan dari segala macam pena bencana.
Amin…[]

* Wayan Sunarta, penyair tinggal di Bali, email : myjengki@yahoo.com, http://www.jengki.com

Artikel terkait : “Surat Terbuka Untuk Pena Kencana Award”


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

masalah ini juga kerap kali disinggung oleh penyair Saut Situmorang dalam setiap kali sesi diskusi bersama komunitas-komunitas seni di pelbagai daerah tempat dia “mangkir” sejenak hehehe.
yang kita harapkan seperti yang penulis harapkan juga🙂 semoga indonesia dan masyarakat indonesia lebih dewasa untuk kedepannya😛

Komentar oleh shinobigatakutmati

kalo karya panitia dan juri ikut-ikutan masuk, itu bukan Pena Kencana, tapi Pena Kancil

Komentar oleh nurel




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s