Indonesia Art News Agency


Yuvita dan Kedok Bersulam
April 9, 2008, 9:34 pm
Filed under: visual arts | Tag: ,

yuvita

 

Teks : Frino Bariarcianur [] Foto : Dokumentasi Yuvita Dwi Raharti

 

Manusia sering terlihat menutupi wajahnya dengan topeng sehingga menghadirkan seraut wajah yang palsu. Sebuah identitas yang palsu. Kiranya efek misterius dari ‘pelindung wajah’  tersebut yang ingin diungkap oleh Yuvita Dwi Raharti dalam sejumlah karyanya yang dipamerkan di ViaVia Travelers Cafe, Yogyakarta.

 

Menurut Yuvita, topeng atau pelindung wajah atau kedok mampu menutupi karakter seseorang dengan identitas yang semu. Sebuah identitas yang dikonstruksi melalui image pelindung wajah. Bisa jadi orang yang pendiam bila menggunakan sebuah topeng tampak seperti orang yang penuh keceriaan dalam menghadapi hidup.

 

Atau kita juga bisa menyaksikan betapa tampak bahagianya seorang selebriti muda terkenal namun saat di rumah, ia tetap merasa sendiri dan sunyi. Kita kadang hanya mampu melihat permukaan dari seraut wajah seseorang yang tertutup “topeng”. Dan tak jarang kita kaget ketika mengetahui hal yang sebenarnya ketika topeng itu dilepas.

 

Kebiasaan menutupi wajah dengan topeng, menurut Yuvita, terjadi dimana saja dan dapat dilakukan oleh siapa saja. “Jika diamati, hampir semua tempat memiliki budaya ini.”

 

Tentunya dengan berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Budaya ini pula sudah hadir sejak jaman purbakala. Dan manusia menggunakan topeng atau kedok, menurut Yuvita untuk berbagai kepentingan, untuk acara spritual, pertunjukkan kesenian, souvenir, fashion, kepentingan medis dan keamanan, olah raga, topeng untuk mainan anak-anak. Tidak ketinggalan sampai kedok penutup muka yang digunakan penjahat ketika melaksanakan aksinya.

 

Di dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh ViaVia Cafe Traveler, menyebutkan bahwa kedok versi Yuvita terbuat dari kain . Kain yang sudah direntangkan dengan spanram tersebut, ditempeli atau dijahit dengan potongan kain lainnya. Lantas Yuvita memberikan sulaman tangan.

 

Lalu sebagai sentuhan akhir, Yuvita menjahitkan aplikasi berupa rajutan benang.

 

Pada karyanya terlihat Yuvita sangat cakap memadupadankan warna-warna dari benang dan kain. Dengan menggunakan ketrampilan yang sering dipandang jadul ini, karya Yuvita justru menjadi terlihat sangat baru dan ngepop. Pada karya Yuvita kita juga bisa menjumpai karakter ciptaan Yuvita; figur manusia atau binatang yang unik, sehingga membuat karya-karyanya lebih berkesan muda.

 

Yuvita Dwi Raharti adalah seorang alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mendalami seni serat yang lebih dikenal sebagai seni tekstil. Seni ini mempelajari mempelajari berbagai teknik pembuatan seperti tenun, sulam (bordir), tapestri, batik, pewarnaan tekstil, dan lain-lain. Sementara dalam pameran berjudul “Kedok Sulaman”, Yuvita lebih banyak membuat karya dengan teknik rajut yang dipelajarinya sejak sekolah. Mata pelajaran di bangku SMP yang bernama Pendidikan Kesejahteraan Keluarga [PKK] itu ternyata sangat berguna bagi Yuvita di kemudian hari.

 

Pembukaan pameran “Kedok Bersulam” ini berlangsung pada Kamis, 10 April 2008, pukul 19.30 WIB di ViaVia Travelers Cafe Jl. Prawirotaman nomor 30. Pembukaan akan diwarnai live musik akustik dari band “The Wonosari”. Band ini digawangi beberapa anak muda kreatif dari Wonosari yang sukses meniti karier di Yogyakarta dan menyukai musik. Pameran ini akan berakhir pada tanggal 5 Mei 2008.

 

O ya Yuvita, kalau lihat pameran “Kedok Bersulam”, gak perlu pake topeng kan? J []


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s