Indonesia Art News Agency


Kuasa atas Raga
April 10, 2008, 12:00 am
Filed under: visual arts | Tag: ,

Oleh Bambang Asrini Widjanarko*

 

Tubuh Manusia, yang terekam dalam sejarah, sepertinya tak berdaya untuk menjadi “tuan” atas wujud fisik dan identitas stabil makna “aku” didalam dirinya sendiri. Mimpi-mimpi dan hasrat dari “dalam” si pemilik raga, seringkali dihambat oleh kuasa politis dari “luar” yang mengikat dan menghardiknya untuk patuh!

 

Wujud fisik raga dijadikan simbol dan dilakoni sebagai tuntutan akan keindahan, pancaran kekaguman atau malahan, kadangkala disalahkan secara personal. Sebaliknya, dari wilayah sosial dan budaya, sejak berabad-abad pula, raga menjadi obyek mutlak untuk dirayu, dibuat linglung, diseragamkan, diawasi atau mungkin saja dikutuk. Raga menjadi sebatang kara, memikul beban-beban kuasa atas dirinya sendiri. Mengadu pada sang pemilik? atau protes atas nasibnya sendiri dengan jalan: Monolog!

 

Pameran solo pelukis Kamto yang digelar Galeri Milenium, Jakarta, pada tanggal 15 April – 15 Mei 2008 ini, tak seperti layaknya sebuah pameran yang sekedar mempertanyakan dan menguar-nguarkan kehebatan teknik untuk membuat raga manusia yang “sempurna” tampil di kanvas. Torso, struktur anatomi tubuh atau keindahan goresan yang dipergunakan si senimannya dengan media seperti pensil, charcoal, acrylic atau oil pastel dll, dan penggunaan medium kertas, hardboard dan yang sejenis sebagai sebuah kewajaran belaka sebenarnya.

 

Apa yang kita selami dari pameran ini, mungkin memiliki makna lebih. Disana, yang terhampar adalah: tanda-tanda yang beragam, selain menyoal keindahan fisik, gestur eksotisme dan sensualitas tubuh secara internal, namun juga kesakitan yang bermuara secara kultural! Seperti yang terekam pada lukisan Yesus misalnya. Penderitaan yang bermuara pada kepatuhan tubuh privat yang dianggap spiritualkah dari makna ber-Agama kita? Sebagai bentuk pengabdian total raga terhadap ke-esaan Nya?

 

Atau yang lain, bagaimana representasi atas hasrat seksualitas yang terhambat pada lukisan dengan penanda seperti “lilitan-lilitan penis” sebagai represi “tabu” di wilayah privat versus sosial? Sebuah hak kepemilikan tubuh yang problematik tengah diperebutkan atau terobsesi sepanjang hayat. Lukisan lainnya, memiliki kesamaan, dengan penanda seperti tubuh telanjang perempuan, dengan pencitraan gambar kucing di dada dan “ikan teri” di wilayah bawah yang intim. Adakah ini menggambarkan ruang-ruang terdalam “kemunafikan” alter ego atas pemujaan hasrat seks pada masyarakat permisif kita dewasa ini?

 

Karyanya yang lain, dengan simbol puntung rokok, juga menjadi perwakilan atas simbol-simbol kebencian yang dianggap menjadi biang “kesakitan” dan ketegangan bagi tubuh pemiliknya dengan ranah diluar dirinya.

 

Dalam wawancara, Kamto berujar “ Tubuh, menurut saya adalah kendaraan dari jiwa. Sebagai contoh, jiwa yang sakit akan mempengaruhi tubuh, karena tubuhlah yang paling dekat dengan jiwa“. Kamto mencoba memahaminya, dengan hanya bermodal cermin, ia “merekam“ apa saja yang terjadi dengan tubuhnya sendiri, sebagai model yang „murah“ dan meneliti keinginan-keinginan dan respon sang tubuh, kemudian “rekaman“ tersebut di visualisasikan ke kertas atau kanvas berupa lukisan .

 

Kamto, dalam kesempatan lain, juga meyebutkan bahwa simbol-simbol yang muncul disekitar drawingnya sebagai penjelasan akan gagasan-gagasan yang disebutnya sebagai: ada apakah selain kepemilikan tubuh privat saja disana yang dipahami? “Tidak hanya tubuh saja akhirnya yang muncul, penanda yang lain, akhirnya lahir. Sebagai bagian tuturanku, maksudnya penjelajahan kreatif dengan adanya simbol-simbol ke-tubuhan yang aku “inginkan” sekaligus ketegangan “kuasa diluar” kepemilikanku dengan sang tubuh itu” ungkapnya.

 

Pelukis ini, mencoba berhenti pada dua kesimpulan, yakni mengajak berkomunikasi  (adanya proses dialog dengan sang tubuh) lukisan-lukisannya secara imajiner dan melukiskannya di kanvas-kanvasnya, atau yang menurut Kamto lebih dominan: membiarkan terjadinya Monolog (sebagai yang diimajinasikan) oleh lukisan tubuh-tubuh itu sendiri. Karya-karya itu, di ruang pameran pada akhirnya seperti “ngelindur” atau “mengigau”, seolah protes dan mencerocos meminta haknya berdaulat atas makna azali dalam diri fisiknya. Sementara, Anda, yang ingin mengapresiasi berhak pula menafsirkan sebebasnya untuk itu. []

 

* Kurator, tinggal di Jakarta, email ; puspaart@yahoo.com


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s