Indonesia Art News Agency


Catatan Sekilas SIP-AE 2008 di Surabaya
April 15, 2008, 3:16 pm
Filed under: festival, Performance Art | Tag:

Oleh : S.S. Listyowati*

Persoalan perkotaan di kota Surabaya sama seperti di kota besar lainnya, semakin kompleks. Masalah pertambahan penduduk hingga persoalan lingkungan serta isu global warming. Ditambah dengan persoalan koordinasi birokrasi dan interaksi sosial antara pemerintah dan warga. Surabaya, akhirnya hanya menjadi semacam romantisme sejarah semenjak kisah-kisah heroik lahir di masa berkibarnya bendera merah putih di gedung Yamato [hotel Orange] saat melawan tentara Sekutu [Inggris-Belanda] 10 November 1945.
Sekelompok para pelaku di bidang seni performa [performance art] di bawah payung Arek Performance Comunity menyelenggarakan untuk pertama kalinya di ibu kota Jawa Timur ini sebuah acara berjudul SIP-AE 2008 [Surabaya International Performance Art Event] sejak tanggal 7-8-9 April lalu di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali. “Probalance” adalah tema yang mereka angkat sehubungan dengan isyu-isyu tersebut di atas. Filosofi ‘Sura’ [yin] dan ‘Boyo’ [yang] menjadi dasar dari perwujudan tema event kali ini.

SIP-AE dapat juga diartikan sebagai ungkapan arek-arek Suroboyo untuk menyatakan sesuatu yang sangat berkenan dan disetujui serta berhasil dilakukan [Sip ae, rek….!].

SIP-AE 2008 terselenggara atas kerjasama antara Arek Performance Community, Gudang Community, Visual Artist Club Surabaya dan ikaISI Yogyakarta Jatim.

Acara yang dikoordinir oleh Ilham J Baday, salah seorang performer di kota ini, diikuti oleh para performance artist dari Jakarta [S S Listyowati, Santo Klingon], Bandung [Yoyoyogasmana], Yogyakarta [Yustoni Volunteero, Tono, Tio, Yoyo, Dody], dan Surabaya sendiri [Nanang Zul, Agus Koechink, Sjallabi Asja, Bilantiwi Ningsih, Didi Tirtosari, Resti, Dodi Tobong, Gunawan Kriwul, Yoyo Jewe, dll] serta beberapa grup [Banzai, Benny Wicaksono dkk, Beri dkk dan kelompok Limo dari Madura] hingga para partisipan yang berasal dari manca negara [Ani dan pasangannya Juadi, Maia, Manol, Mega, Micky] hingga para performer macam Rahmat Haron dari Malaysia, Valentin Torrens dari Spanyol hingga Chumpon Apisuk dari Thailand.

Acara performance ini didahului dengan bincang-seniman bersama Yoyoyogasmana, pendiri Bandung Performance Art Community [B+PAC] dimoderatori oleh S S Listyowati [Atieq] –yang tengah menekuni riset seputar performance art– sekaligus ajang sharing forum antara audiens bersama Valentin Torrens serta Chumpon Apisuk selaku para senior yang telah lama malang melintang dalam seni performa hingga ke berbagai negara di dunia, sekaligus penyelenggara di negara masing-masing [Chumpon dengan event tahunannya: Asiatopia].

Yoyoyogasmana kemudian menghadirkan aksi dengan melilitkan rangkaian tali karet ke wajahnya hingga mulutnya tak dapat mengeluarkan kata-kata yang jelas ketika ia berupaya menerangkan “performance art adalah…” hingga berkali-kali kepada salah satu audiens yang ia minta tampil bersamanya di depan forum dan menirukan apa saja yang dikatakan Yoyo.

Acara ini berlangsung lancar dan mengundang perhatian audiens [terdiri dari berbagai seniman dengan berbagai disiplin ilmu seperti teater, seni rupa dll serta publik umum] yang sebelumnya masih bertanya-tanya apa itu ‘performance art’ hingga akhirnya memberikan komentar sangat positif saat usai acara. [http://arekperformance.wordpress.com]

* Seniman performance dan peneliti


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s