Indonesia Art News Agency


Lomografi : Sebuah Gaya Hidup
April 23, 2008, 1:02 pm
Filed under: photography | Tag: ,

Teks/foto : Adi Marsiela

Rian (12) tampak berkonsentrasi mengarahkan kamera saku digitalnya ke salah satu sudut ruangan di lantai satu Galeri Kita. Dia menahan nafas dan sekelibat lampu kilat dari kameranya menyala. Tanpa melihat hasil jepretan-nya, anak lelaki yang masih duduk di kelas I SMP Taruna Bakti, Bandung ini langsung berpindah ke ruangan lain. Misinya masih sama, memotret.

Bersama dia, ada Ajeng (12), Dinda (12), dan Fauzi (13) yang ikut berpindah ruangan. Mereka semua teman satu kelas di sekolahnya. Sama-sama, mendapat tugas dari guru seni rupa mereka, mendokumentasikan pameran. “Disuruh ke museum untuk memotret gambar atau apa saja. Pokoknya yang berhubungan dengan seni,” kata Rian yang tidak bisa membedakan antara museum dan galeri.

Dia sendiri mengaku tidak mengerti dengan gambar-gambar yang didokumentasikannya di galeri tersebut. “Kalau tidak ada bentuknya, seperti gambar yang aneh saja,” ungkapnya mengapresiasi pameran “Halomo” yang digelar semenjak tanggal 5 hingga 27 April 2008 .

Pameran yang digelar oleh para pehobi lomografi ini memang menampilkan beragam karya foto yang dirangkai menjadi satu bentuk tertentu dalam ukuran panjang 150 sentimeter dan lebar 90 sentimeter. “Jumlahnya mencapai 16 karya,” ujar Adityo Nugroho (25), salah satu penggiat Komunitas Lomography Society Bandung.

Sekilas, karya-karya yang ditampilkan di sana tampak seperti mozaik. Lengkap dengan keragaman warnanya. Namun, saat didekati panel-panel karya itu ternyata terdiri dari ratusan foto yang ukurannya beragam. Ada yang sebesar kartu pos, ada yang lebih kecil, ada yang lebih besar, dan ada juga yang berbentuk persegi panjang. Semuanya ditata sesuai dengan citra warna yang diinginkan oleh sang fotografer.

Menurut Rian, gambar yang paling menarik berada di lantai dua galeri. Judulnya, ‘Micmac Robo’. Mozaik berbentuk robot karya Enem alias Rizky ini dibentuk dari berbagai foto dengan warna dominan hijau dan kuning. “Robotnya keren. Itu gambar yang aku suka,” jawab Rian saat ditanya karya mana yang paling mengesankan buatnya.

Oki, sapaan akrab Adityo Nugroho mengungkapkan pameran ini sendiri sebagai bentuk perkenalan komunitasnya dengan masyarakat umum. “Masih banyak yang belum tahu soal Lomo,” ungkap dia.

Lomografi merupakan sebutan bagi karya-karya foto yang dihasilkan dari kamera Lomo buatan Rusia. Sampai saat ini, negeri beruang merah itu memproduksi sedikitnya 11 jenis kamera yang bisa digunakan oleh para pehobinya.

Tiap-tiap kamera memiliki karakteristik dan keunikan sendiri. Lihat saja karya Haviz yang diberi judul ‘Wilson’. Dengan kamera tipe Holga Fisheye #2, karya-karyanya kaya akan gambar-gambar cembung yang memiliki sudut pandang luas. Warna-warna yang dihasilkannya juga beragam. Bayangkan saja, warna langit bisa menjadi hijau, warna genting menjadi lebih jingga tidak seperti genting pada umumnya, merah bata. Semuanya itu karena efek mengejutkan dari kamera Lomo.

Aldo Kepank (26), salah seorang peserta pameran menyatakan kalau warna-wanra yang dihasilkan dari Lomo itu lebih beragam. “Karakter warnanya itu pop tanpa perlu diedit,” tegas dia.

Jenis kamera yang diproduksi Rusia ini memang cukup beragam. Makanya, tidak usah heran kalau penggemarnya rela meluangkan waktu untuk menjajal satu persatu karakter kameranya. Misal saja jenis Pop9 yang bisa menghasilkan 9 citra dalam satu frame foto. Jenis lainnya adalah Supersampler yang dapat menghasilkan 4 citra gambar secara berurutan dalam bentuk empat persegi panjang.

Karya yang mengeksplorasi jenis Supersampler ini terwakili oleh ‘Whirpool’ karya Panji Hardjakaprabon. Sesuai judulnya, Panji mengibaratkan sarana transportasi dalam hal ini kereta ekonomi, jalanan, serta aneka papan peraga di Kota Bandung sebagai sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena dari sanalah semangat atau kedinamisan sebuah kota berawal.

Tidak semua karya karya Lomografi ini mengeksploitasi warna. Karya Oki bertajuk ‘My Crucial Moment 1’ dan ‘My Crucial Moment 2’ yang menonjolkan eksplorasi dalam bentuk lain.

Frame foto yang diambil di Candi Borobudur ini, memang baru dicetaknya menjelang pameran ini. “Padahal mengambilnya (memotretnya) sudah dari beberapa tahun lalu. Hasilnya, dari satu frame ke frame yang lain, warnanya tampak memudar.”

Itu masih belum seberapa. Beragam eksplorasi lain sering dilakukan para lomografer ini. Kata Oki, selain dari objek, warna, dan jenis kamera, ada juga pehobi yang ‘menyiksa’ filmnya. “Ada yang dibakar, direndam setelah memotret. Itu semua agar mendapatkan efek yang tidak terduga saat kita mencetak fotonya,” papar dia.

Hasil karya yang menakjubkan itu tidak bisa dilepaskan juga dari sejarah kamera Lomo. Alkisah, Jenderal Igor Petrowitsch Kornitzky, orang kepercayaan Menteri Pertahanan dan Industri Uni Soviet (kala itu) penasaran dengan sebuah benda aneh, yang belakangan diketahui sebagai kamera mini buatan Jepang.

Petrowitsch sempat melemparkan kamera itu ke hadapan Michail Panfilowitsch Panfiloff, petinggi LOMO Russian Arms and Optical atau pabrik senjata dan alat-alat optik Uni Soviet. Bersama Panfilowitsch, jenderal itu sepakat untuk meniru dan mengembangkan desain kamera tersebut. Tujuannya memproduksi kamera serupa secara massal sehingga bisa menyenangkan dan menjadi kebanggaan warga Soviet.

Maka semenjak tahun 1982, diputuskan untuk membuat Lomo Kompakt Automat. Kedua orang itu ingin setiap warga terhormat komunis punya kamera ini. Kelahiran pertama Lomo ditandai keluaran jenis pertama yang akrab disebut Lomo LC-A.

Begitu era komunis usai, kisah Lomo ikut berhenti berdenyut. “Makanya kita kesulitan mencari barang-barang yang masih asli Soviet,” tutur Oki.

Adityo Nugroho menunjukkan kamera Lomo jenis Diana
yang menjadi pegangannya dalam berkarya. Kamera ini
bisa menggunakan film 120 milimeter dan 35 milimeter.[Adi Marsiela]

Posisi lomografi yang sekarang ini sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang, tidak dapat dilepaskan dari penjelajahan Matthias Fiegl dan Wolfgang Stranzinger, dua mahasiswa Viennese Austria yang kebetulan berjalan-jalan ke Ceko (negara pecahan Uni Soviet) pada tahun 1991 dan menemukan kamera Lomo LC-A yang tak terurus.

Mereka bereksplorasi dengan mengabadikan jalan-jalan di Praha, Ceko. Caranya pun unik. Memotret dengan sesuka hati, misalnya dari atas kaki, di antara kaki, dari pinggul, dan tidak membidikkan kameranya agar tajam hasil gambarnya. Keanehan terjadi saat mereka mencetak hasil-hasil fotonya.

“Hasilnya di luar dugaan. Makanya saya selalu penasaran menanti hasilnya,” papar Aldo.

Mendapati hasil foto yang tidak normal itu malah membuat Matthias Fiegl dan Wolfgang Stranzinger mengajak teman-temannya untuk mencoba Lomo. Akhirnya, mereka mendirikan klub pencinta Lomo: The Lomographic Society (Lomographische Gesellschaft) di Vienna. Tujuannya, menyebarkan pesan lomografi ke seluruh dunia. Kini, klub ini menampung lebih dari 500.000 pehobi Lomo yang setia, termasuk di Indonesia.

“Kita juga ingin teman-teman bergabung dalam satu komunitas. Karena ini bukan hanya urusan memotret, tapi sudah menjadi gaya hidup,” ungkap Oki. []


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Hai! Saya ingin sekali gabung dan ikutan ama Komunitas Lomography Society Bandung. Waktu itu liat liputan kalian di Hang Out. Karena saya udah sejak lama ingin ikut lomo, akhirnya saya ikutin liputan kalian itu. Eh tapi ternyata sampe akhir acara gak disebutin alamat komunitas kalian. Nah, dimana saya bisa ikutan share sama kalian.

Nuhun pisan,
Adhreza

Komentar oleh Adhreza




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s