Indonesia Art News Agency


A n g i n A p r i l*
April 27, 2008, 8:33 am
Filed under: visual arts | Tag:

Oleh Bagus Dwi Danto
Bayu kupercaya sebagai seorang sahabat yang dapat menyegarkan suasana hatiku.

Biasanya, jika waktu sedang luang dan sedikit suntuk, di malam hari aku mencari-cari kesegaran untuk menyehatkan dan menghidupkan pikiran. Bayu Widodo cocok untuk itu. Ini ilmu otak-atik gathuk. Ketika Bayu adalah angin dan Widodo adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti hidup, atau sehat. Lalu aku membuat kencan dengannya. Kencan bermain bola di sembarang rental play station. Selanjutnya kami akan menjadi pemain-pemain bola kelas dunia. Kejar-kejaran, dorong-dorongan, atau sesekali melakukan pelanggaran berat, dan prriiiitt. Kartu merah. Games yang sudah dibuat semirip mungkin dengan peristiwa aslinya. Lapangan kaca yang selalu membuat kami jatuh bangun tanpa keringat. Cukup melonggarkan stress. Pernah pemain-pemain depannya ditandu keluar sekian orang, dan pemain-pemainku diganjar kartu merah karenanya. Di arena terjadi drama kericuhan. Beberapa pemain tampak mendekat, melancarkan protes atas keputusan wasit.

Sejenak keluar dari permainan, kata ‘protes’ selalu mengingatkanku pada kalimat Bayu, “Budayakanlah protes untuk kebaikan.”

Beberapa karya grafisnya memang mengusung kritik, entah itu tentang lingkungan hidup yang kian rusak, atau tema-tema tentang perubahan sosial-politik yang kadang terlalu aneh bin ajaib.

Kembali ke bola. Karena aku yang sering terpancing emosi, sembarangan menebang kaki lawan, mendapat banyak kartu merah, dan lain-lain. Maka sering kemenangan cukup telak berada di pihak Bayu. Lima-satu, enam-dua, kadang sedikit untung dengan seri, dua-dua atau kosong-kosong saja. Seru dan sport humor. Meskipun ketika tawanya mulai meledak-ledak, berpasang mata yang lain akan melirik kegaduhan yang tumbuh bersama kami. Sesekali kaki pelukis yang mengumpulkan banyak tattoo di tubuhnya ini diangkat-angkat seperti seolah ada bola di depannya, membuat gestur tendangan ke arah tivi atau ke arahku. Gemas. Tapi aku tahu sebenarnya di belakang humornya itu dia bermain serius dan tidak mau kalah.

Keseriusan itu juga pernah Bayu buktikan dengan menamatkan kuliah. Ini karena aku masih ingat sebuah kejadian. Hari itu rumah Bayu ramai. Ternyata kampung halaman sedang merapat ke rumahnya. Ibu, adik, kakak, saudara-saudaranya datang dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Hari itu Bayu wisuda. Hari itu Bayu yang sekarang sudah mahir memakai komputer jinjing dan kamera dijital ini, menamatkan studinya. Apalagi kebanggaan orang tua selain melihat anaknya bisa mengharumkan nama keluarga, meski ternyata itu bukan hal yang semata-mata membuat Bayu kuliah dan selesai. “Aku menghargai mereka yang lebih tahu, yang lebih pintar, yang lebih berpengalaman. Makanya aku sekolah..” Makanya dia bertanggung jawab dengan penghargaan itu. Dan benar, merakit penghargaan salah satunya bisa dengan jalan seperti itu. Kampus yang pernah suntuk ditekuninya, kini mengecil di belakang kaca spion hidupnya.

Kembali ke bola. Dua jam bermain bola akhirnya membawa kami ke sebuah kata ‘cukup’. Lima-satu, enam-dua, kadang sedikit untung dengan seri, dua-dua atau kosong-kosong saja tadi sudah menjadi lima-kosong, enam-satu, bahkan delapan-kosong. Kekalahan telak untuk karir bolaku di lapangan kaca harus diakhiri.

Biasanya setelah itu kami kembali pulang ke rumah sekaligus studio melukisnya. “Aku pingin punya studio yang agak besar. Pingin melukis sambil njoged-njoged, lari-lari.” Kenapa? Tanyaku. “Rumah itu sesuatu yang penting. Rumah dan studio adalah modal utama untuk bekerja sebagai seniman.” Katanya. Di atas motor, Bayu meletakkan dagu di bahu kananku. Tangannya melingkari pinggangku, sesekali mulutnya mendekat ke telinga, menggoda, membisikkan kalimat-kalimat mesra. Lalu kami mampir ke warung membeli mi instan, membeli kerupuk. Sepeda motor berjalan pelan membelah Nitiprayan, menuju rumahnya di Kalipakis. Tak jarang Bayu mbengok-mbengok jika melihat hal yang menarik. Terkadang melihat aksi hidupnya membuat sebuah lipatan pada wajahku di bagian kening. Fiuh. Dan rumahnya yang sunyi menyambut kami. Kami segera menambatkan lapar. Memetik daun singkong di belakang. Membuat irisan kecil cabai rawit. Makan.

Kami punya kebiasaan memasak bersama. Kebiasaan yang pernah membuat Bayu bercerita sambil menerawang ke masa kecilnya. “Dapur dan ruang makan adalah ruangan penting dalam sebuah rumah. Makan bersama dalam sebuah keluarga sebenarnya adalah hal yang utama. Dari situ kita bisa mendapat banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Bertukar cerita tentang apa saja yang telah dikerjakan oleh masing-masing anggota keluarga pada hari itu. Dan hal tersebut menumbuhkan semangat kebersamaan yang positif.” Tetapi? “Waktu kecil aku selalu makan sendiri di depan tivi, ibuku di dalam warung, dan saudara-saudaraku membawa piringnya ke dalam kamar.” Katanya dengan wajah berselubung mendung.

Sekarang rumahnya yang masih mengontrak seperti hendak melunasi mimpi-mimpi masa kecilnya. Rumah itu tumbuh dalam semangat kerukunan dan kebersamaan. Bayu dan adik perempuannya yang tinggal bersamanya benar-benar merawat toleransi dan memelihara rasa keadilan. “Aku kadang kasihan sama adikku. Apalagi jika teman-teman sedang berkumpul dan ngobrol hingga pagi. Tapi syukurlah, adikku tidak pernah mengeluh.” Sahabat-sahabatnya memang sering memadati beranda sempit di belakang rumah itu. Sahabat yang asalnya dari mana-mana. Ada yang Purwokerto, Madiun, Magelang, Cilacap, Jakarta, Timor-Leste, Afrika Selatan, Amerika, Belanda, Italia, Australia. Astaga, mungkinkah orang dari setiap benua pernah berada di situ? Antartika tentu saja tidak.

Selesai makan biasanya pelukis berumur duapuluh sembilan dan belum menikah ini kembali menekuni pekerjaannya. Malam sudah larut, tetapi nafas senimannya masih tersambung dengan cat, kuas dan kanvasnya. Sementara aku sudah menggambari kamarnya dengan bunga-bunga tidur. Hariku selesai sampai di situ. Segar.

Dan kita tak dapat sembunyi dari waktu. Hari ini pameran tunggalnya dibuka. Judulnya “Membaca Angin”.

Bayu sedang mengipasi kita dengan karyanya…

Jogja, April 2008 []

* Tulisan ini merupakan pengantar pameran seni rupa karya Bayu Widodo di Museum dan Tanah Liat [MDTL], Yogyakarta, 26 April – 10 Mei 2008.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s