Indonesia Art News Agency


Kamejemukan adalah Sunnatullah
Mei 3, 2008, 2:47 pm
Filed under: social-culture | Tag: ,

Teks : Frino Bariarcianur
Bangsa Indonesia dilahirkan dalam kondisi yang beragam. Ada yang berkulit gelap, ada juga berkulit terang, ada yang bermata belok ada juga yang bermata sipit, ada yang beragama Islam dengan berbagai aliran, juga ada yang beragama Katolik, Hindu, Budha dan seterusnya. Keberagaman ini adalah kekayaan tak ternilai. Tetapi kenapa persoalan SARA masih kental dan muncul dalam setiap perseteruan juga di dalam pergaulan diantara kita?

Harus diakui sulit menerima perbedaan meskipun perbedaan itu adalah suatu sunnatullah.

Dr. Rm. Dedy Pradipto, Pr., L.Th., M. hum, di dalam pengantar diskusi budaya bertema “Menguak Tabir Multikultulralisme” yang diselenggarakan oleh Sektretariat Kemanusiaan dan Keadilan [SEMADI] Keuskupan Bandung beberapa waktu lalu [26/4/08] di Gedung RRI Bandung, menyatakan,”kemajemukan adalah blessing in disguise bagi tanah ini, bagi bangsa ini. Alasannya sederhana saja; kemajemukan adalah sebuah sunnatullah, hukum alam dan bangsa ini sangat beruntung memilikinya.”

Kenyataan tak terbantahkan ini seharusnya disyukuri oleh setiap orang yang mengaku bangsa Indonesia. Kenyataan ini juga harus dirayakan karena tidak banyak negara-negara yang seberuntung Indonesia.

“Merayakan kemajemukan adalah merawat Indonesia,” kata Romo Dedy.

Menurut Romo Dedy tak ada nada sebuah entitas bangsa dan negara yang bernama Indonesia, jika yang ada hanyalah ke-ika-an ketunggalan dan monokulturalisme. Karena itulah kemajemukan negara-bangsa ini harus dipelihara, dirawat, diberdayakan, dan difungsionalisasikan untuk hari ini dan masa depan negara-negara Indonesia yang lebih baik.

Tetapi menurut Romo Dedy tidak mudah untuk merawat kemajemukan itu.

Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, kita pernah melihat pengorbanan yang begitu besar atau penghancuran nilai-nilai kemanusiaan diantara kita. Kita menjadi negara yang paling ditakuti. Dan saat ini tentu kita tak ingin lagi melihat peristiwa berdarah yang terjadi di Sambas, Sampit, Poso, atau pembakaran gereja, intimidasi dan pengrusakan oleh kelompok penjahat atas nama agama, penghinaan terhadap sebuah agama, kasus ahmadiyah, dan masih banyak lagi. Kita tak ingin melihat luka atau jiwa yang hilang gara-gara tak bisa menghargai perbedaan.

Berbagai peristiwa berdarah di Indonesia, menurut Romo Dedy, membutuhkan cetusan rekonstruksi masyarakat Indonesia ke arah pemahaman multikultural. Hal ini penting dilakukan karena hembusan angin konflik yang menjalari tubuh bangsa banyak bermula dari ketidaksadaran warga akan keragaman budaya.

Dengan memasyarakatkan kemajemukan etnis yang ada di Indonesia, menurut Romo Dedy, diharapkan dapat memantik kesadaran bangsa bahwa pluralitas budaya tidak bisa diingkari, dicaci-maki, bahkan di-peta-konflik-an.

Salah satu cara untuk memahami multikultralisme di Indonesia melalui lembaga pendidikan dari tingkat paling dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian implementasinya pemahaman multikulturalisme harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Di sinilah anak didik atau mahasiswa belajar berdialektika dalam pemahaman pentingnya menghargai perbedaan tersebut.

Pendidikan multikulturalisme pula tidak bisa diimplementasikan ke dalam satu metode yang hegemonik. Artinya ada partisipasi aktif selama proses pendidikan. Setiap anak didik diberikan hak untuk bicara dan mengeluarkan pendapat mengenai pandangan-pandangannya tentang suku temannya, agama temannya, kebiasaan-kebiasaan temannya, cara bicara temannya dan seterusnya dengan harapan mampu bermetamorfosa menjadi masyarakat berkebudayaan.

Pada akhirnya kita pun tak harus takut lagi atau bingung dengan identitas yang kita miliki sekarang. Sekali lagi kemajemukan diantara kita adalah sunnatullah. []


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s