Indonesia Art News Agency


Teater Kaum Tertindas
Mei 3, 2008, 6:11 am
Filed under: theatre | Tag: ,

Teks : Frino Bariarcianur
Seorang suami tengah mencari harapan di depan dokter. Tetapi sesampai di depan dokter semuanya pupus. Keputusan dokter sudah tegas bahwa isterinya tak bisa diperiksa. Alasannya karena mereka tak bisa membayar biaya pemeriksaan. Dan lagi sebagai buruh kontrak ia tak punya tunjangan kesehatan. Kisah ini saya ambil ketika menyaksikan teater dalam aksi demonstrasi memperingati Hari Buruh Sedunia, Kamis, 1 Mei 2008 di depan Gedung Sate, Bandung.
Suami itu pulang dengan wajah lesu. Dari dalam rumah kontrakan, isteri yang hamil tua berharap besar saat melihat suaminya pulang. “Bagaimana mas?” tanya si isteri. Laki-laki itu tak bisa apa-apa. “Kita ndak bisa periksa Bu. Kita harus punya uang,” katanya. Mereka berdua bingung. Saat itu juga terpikir untuk meminta bantuan kepada perusahaan tempat mereka bekerja. Kali ini bos pabrik yang mereka jadikan dewi fortuna demi kesehatan keturunan mereka.

Suami-isteri yang bekerja di pabrik itu pun lantas menuju kantor perusahaan. Mereka keluhkan kesulitan mereka. Tapi apa mau dikata. Sang pemilik perusahaan malah marah. “Kalian kan sudah tahu, di pabrik saya semua karyawan perempuan tidak boleh hamil! Tidak ada tunjangan untuk kalian. Kalian dipecat!” kata perempuan yang menjadi bos mereka.

Si isteri menangis. Si suami terus berharap. Sampai mereka berdua bersujud di kaki pemilik modal, memohon bantuan, si pemilik perusahaan tak bergeming sedikit pun. Lagi-lagi dewi fortuna tak ada di pihak mereka.

Apa yang dialami oleh suami [Abdul Rochman, 24] dan isteri [Ponisa, 26] menurut Bejo Atmodjo [26], yang bertindak sebagai pembawa cerita dan sutradara,”Sering terjadi pada buruh. Itulah kenapa kami mengangkat cerita berdasarkan kenyataan. Terutama kasus-kasus ibu hamil di perusahaan.”

Dari pertunjukkan tersebut saya dapat melihat betapa angkuhnya sistem kesehatan di negara ini. Dari mulut si dokter yang diperankan oleh Paijo [24] butuh berbagai persyaratan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Seperti penonton-penonton yang lain, saya juga sebel melihat dokter yang pongah itu. Begitu juga dengan si bos perempuan yang diperankan oleh Srintil [27]. Sinis sekali.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kesulitan hidup yang mereka alami. Perusahaan yang menyedot tenaga mereka tampak tak berprikemanusiaan. Bayangkan ketika dua manusia membutuhkan pertolongan tapi dijawab dengan pemecatan! Mereka dianggap melanggar aturan perusahaan, yakni buruh perempuan dilarang hamil. Alasannya, perempuan hamil tidak produktif dan itu tidak menguntungkan perusahaan.

Pertunjukkan teater yang dimainkan oleh buruh pabrik Kahatex Cimahi ini mendapat respon luar biasa dari penonton mereka yang juga buruh. Meski panggung pertunjukkan hanya berupa jalan, kostum seadanya dan naskah yang dibuat sendiri, teater rakyat itu terbilang berhasil.

Saya kagum melihat mereka. Disela-sela kesibukan bekerja sebagai buruh pabrik, mereka masih sanggup mengorganisir diri dalam berbagai kegiatan diantaranya seni teater. Mereka menyadari bahwa untuk menyampaikan aspirasi tidak melulu harus berorasi, tetapi juga bisa melalui seni. Dalam sejarah dunia seni perlawanan di Indonesia mutakhir, Wiji Thukul-lah ikon-nya.

Teater yang dimainkan oleh Bejo Atmodjo [26] dan kawan-kawan yang tergabung dalam Perjuangan Buruh Kontrak Menggugat [PBKM] – Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia [Kasbi] Jawa Barat, menunjukkan bahwa seni teater dapat dijadikan sebagai alat penyadaran untuk melawan ketidakadilan yang mereka terima di perusahaan. Teater seperti ini tak bisa lepas dari persoalan politik, sosial, budaya dan tentu saja persoalan-persoalan yang terjadi pada buruh. Selain itu bila melihat pertunjukkan teater Bejo dan kawan-kawan, bahasa yang mereka gunakan pun sangat lugas dan bersikap jelas dalam melihat setiap persoalan. Kata kuncinya, melawan semua bentuk penindasan.

Dengan kata lain seni teater yang dimainkan oleh buruh [grass root] pada peringatan Hari Buruh Sedunia [May Day] 2008 dapat disebut juga sebagai teater kaum tertindas. []


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s