Indonesia Art News Agency


Mimpi Indonesia : Trauma atawa Utopia?
Mei 10, 2008, 2:38 pm
Filed under: visual arts | Tag: ,

Teks/foto : Frino Bariarcianur
Para perupa yang berpameran di Lobby Rektorat Universitas Katolik Parahyangan [Unpar] mengungkap mimpi mereka tentang konsep ke-Indonesia-an.

Perupa yang berpameran itu antara lain: Tisna Sanjaya, Deden Sambas, Marintan Sirait, Diyanto, Rahmat Jabaril, dan Isa Perkasa. Mereka menyuguhkan karya instalasi, lukisan, dan grafis. Pameran yang berlangsung 3-10 Mei 2008 ini dikurasi oleh Prof. DR. Bambang Sugiharto.

Menurut Bambang pameran di Unpar dalam rangka peringatan Seabad Kebangkitan Nasional dengan tajuk “Mimpi Indonesia” ini, bermaksud mengamati gelagat baru tentang fenomena dunia politik, sosial dan budaya yang semakin kompleks lewat karya seni. Sangat beralasan pula jika Prof. Bambang “memilih” seniman yang turut berpameran berdasarkan kiprah mereka selama ini. Ke-enam nama seniman Bandung itu adalah jaminan.

Seniman Deden Sambas misalnya selalu memamerkan karya yang tak pernah lepas dari persoalan sosial-budaya yang melingkupinya. Ia sepanjang yang saya kenal, pernah terlibat aktif bersama kawan-kawan seniman Bandung lainnya saat “menyelamatkan” Babakan Siliwangi yang ingin dijadikan kawasan kondominium. Saat itu Deden menjadi ketua kelompok Sanggar Olah Seni Bandung.

Pada pameran kali ini Deden menyuguhkan karya instalasi berupa patung bertopeng setengah badan yang berjudul ”Pemandangan Negara” [2007]. Karya yang terbuat dari resin dan timah itu diletakkan di atas piano besar. Ia juga menampilkan topeng baja seperti topeng iron man dalam film-film kartun.

Deden Sambas tengah mencari titik fokus politik Indonesia. Dan wajah yang bertopeng atau topeng itu adalah salah satu bagian penting untuk membaca politik Indonesia yang carut marut saat ini. Deden bertanya,”Dibagian tubuh mana politik Indonesia itu ada? Selain hanya wilayah masyarakatnya yang ada dan hanya seperti kaca cermin yang terbuat dari daging-daging.”

Kemudian pada karya Tisna Sanjaya yang menyuguhkan 10 gambar dari 99 seri berjudul ”Atas Nama Tuhan” yang ia buat pada tahun 2007 terdapat sobekan lukisan pemandangan yang dirusak, flyer promosi, surat yasin, dan kantong plastik lumpur lapindo [Tisna menyebutnya lumpur Sidoarjo]. Kolase dari beberapa item tersebut kemudian ia ”corat-coret” sehingga mengaburkan semuanya.

Ia sedang menyoroti situasi chaos di Indonesia.

”Saya merasa senang sekaligus gelisah, berada dalam dunia mimpi di negeri Indonesia yang chaos. Sebuah catatan dari hidup seharian yang chaos di negeri mimpi, yang saya bangun dari imajinasi yang saya temukan dari kehidupan yang mengalir, keseharian yang chaos,” kata Tisna.

Dengan menggabungkan semua benda-benda yang ia temukan dari situasi Indonesia yang chaos, Tisna mengatakan ia tak ingin cepat-cepat membuat bentuk. Apalagi mendorong menjadi fragmatis seperti para teknolog atau mereka yang tergesa-gesa ditarik menjadi peristiwa yang berujung atau dibentengi moral.

”Biarkan saja,” kata Tisna.

Dan saran Tisna untuk menyikapi situasi chaos ini,”kita format menjadi ritual, menjadi komposisi, menjadi peristiwa estetik. Biar kita bisa bareng-bareng mem-blok segala konspirasi yang membuat kita jadi tak mau berpikir lagi, menjadi tanpa kritik, menjadi konspirasi tahu sama tahu.”

Seperti lukisan Tisna yang chaos ia mengajak kita menjalani duka dengan keberanian. Dan seniman seharusnya gelisah melihat peristiwa ini. Ia juga tak ingin di tengah konspirasi yang begitu telanjang kita sebagai bangsa Indonesia yang tengah bangkit ini tak bisa apa-apa.

”Jika punya energi yang baik, berjiwa dan berpihak pada kesejatian kemanusiaan akan mampu mengatasi kondisi ini dan membimbingnya menjadi mimpi yang inspiratif.” Kata Tisna.

Marintan Sirait, Indonesia Landscape in My Mind [2007]

Saya ingat ketika mengambil dokumentasi video Tisna pada tahun 2004 saat merespon pembangunan jalan layang Paspati atau Pasupati di simpang jalan besar Ir.Djuanda dekat taman Cikapayang. Ia mengajak kita bermain bola di sebuah kawasan yang pada saat sekarang telah menjadi kolong. Selain menyiapkan gawang kecil ia juga memasang beberapa kolecer [permainan khas orang Sunda seperti kincir angin yang terbuat dari bambu]. Menurut saya, Tisna mampu membungkus kesinisan dirinya terhadap pembangunan melalui permainan bola. Sebelumnya ia pernah menanam pohon jengkol di areal jalan Pasupati di dekat jalan Cihampelas. Tapi sayang, sudah sekian tahun tak tumbuh juga.

Kini Tisna lebih dikenal sebagai Kabayan Nyintrek karena sering muncul di sebuah stasiun televisi lokal Bandung. Dia si Kabayan yang suka membuat sketsa dan menyindir pemerintah kota Bandung.

Berikutnya karya Diyanto yang membawa tanah dan alat bajak sawah ke lobby rektorat Unpar. Tanah itu kering tak berair. Beberapa mahasiswa Unpar yang melewati lobby sering berhenti untuk melihat karya tersebut. Agak aneh memang, ada alat bajak ”ngeceng” di lobby Unpar. Karya Diyanto menyedot banyak perhatian pengunjung. Ia juga memajang 3 lukisan bergambar orang yang tengah melihat sebuah kapal kertas yang perlahan-lahan tenggelam. Karya itu diberi judul “Horror Planning” yang dibuat tahun 2008, cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 100 X 100 Cm.

Kedua karya tersebut kontekstual dengan situasi sosial Indonesia saat ini. Tanah tempat dimana para petani menanam padi kini menjadi persoalan besar rakyat Indonesia. Banyak sawah dijual untuk kepentingan perumahan, banyak sawah dijual karena petani juga butuh televisi, mini compo, hp dan segala macam alat teknologi, banyak sawah tak lagi berair karena sumbernya sudah diambil. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan dasar rakyat Indonesia yang jumlahnya ratusan juta ini, pemerintah kita pun harus mengimpor beras dari negeri seberang lautan.

Kita tengah melihat persoalan yang sangat dekat dengan mata kita, seperti orang yang melihat kapal kertas yang tenggelam, kita memang tak bisa berbuat banyak. []


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Salam dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Komentar oleh PMB Bandung




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s