Indonesia Art News Agency


Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa
Maret 28, 2008, 1:18 pm
Filed under: Literature | Tag: , ,

Oleh Katrin Bandel*

Akhir tahun 2007 novel Saman karya Ayu Utami diterbitkan dalam terjemahan bahasa Jerman oleh penerbit Horlemann. Tentu saja penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar, sebab Horlemann hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman. Namun meskipun begitu, peristiwa penerbitan novel itu, seperti hampir setiap penerbitan buku baru, direspon dalam bentuk resensi di beberapa media, dan buku itu diiklankan oleh penerbitnya.

Wacana seputar Ayu Utami dalam bahasa Jerman itu ingin saya bicarakan di sini karena saya merasa terganggu dengan representasi Ayu Utami (dan khususnya novel Saman) yang sangat tidak tepat, dalam arti tidak sesuai dengan apa yang saya ketahui tentang (peran) Ayu Utami di Indonesia, teks novel Saman, dan reaksi pembaca terhadapnya di Indonesia. Rasa terganggu tersebut saya anggap relevan dibagi dengan masyarakat sastra di Indonesia, bukan hanya karena resepsi karya sastra Indonesia di luar negeri menarik untuk diikuti oleh orang Indonesia sendiri, tapi lebih-lebih karena tampaknya representasi Ayu Utami yang sangat tendensius dan “melenceng” itu bisa terjadi bukan hanya karena ketidaktahuan atau kesalahpahaman penerbit, peresensi dan pembaca Jerman tentang Indonesia dan dunia sastranya atau pada strategi pemasaran penerbit Horlemann, tapi juga karena politik sastra yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri, yaitu khususnya Komunitas Utan Kayu [KUK].

Saya ingin memulai dengan membahas sebuah laporan wawancara dengan Ayu Utami oleh Katrin Figge dari Goethe Institut Jakarta. Laporan singkat yang diterbitkan di majalah sastra berbahasa Jerman LiteraturNachrichten (Nr. 94, musim gugur 2007) itu diberi judul “Wilde Ehe, Bier und Pornographie” (“Perkawinan Liar, Bir dan Pornografi”). Pada awal tulisan tersebut Katrin Figge menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Ayu Utami di café KUK untuk melakukan wawancara, sesuai dengan janji yang dibuat sebelumnya. Namun ketika mereka bertemu, Ayu lalu mengusulkan agar wawancara dilakukan di rumahnya saja karena di café KUK “terlalu bising”. Sebelum berangkat, dengan suara lantang Ayu memesan empat botol bir untuk dibawa pulang. Katrin Figge berkomentar:

“In vielen Ländern wäre dies wohl nichts Besonderes, auch wenn die Uhr erst halb zwölf am Mittag anzeigt. Doch wir sind in Indonesien, im Land mit der größten muslimischen Bevölkerung der Welt. Bier trinkende Frauen existieren nicht, jedenfalls nicht in der Öffentlichkeit. Da spielt es auch keine Rolle, dass Ayu Utami keine Muslimin, sondern Katholikin ist. Ein Lächeln huscht über ihr Gesicht, als sie die Plastiktüte mit den Flaschen in Empfang nimmt. Die erstaunten Blicke der anderen Café-Besucher stören sie nicht im Geringsten.”

[“Di banyak negara lain hal itu tidak akan dianggap istimewa, meskipun baru jam 12 siang. Tapi kita berada di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Di sini tidak ada perempuan yang minum bir, paling tidak di ruang publik. Dalam konteks itu tidak penting bahwa Ayu Utami bukan orang Muslim, tapi Katolik. Dia tersenyum simpul ketika menerima tas plastik yang berisi botol bir. Pandangan mata heran dari pengunjung café yang lain tidak mengusiknya sedikit pun.”]

Sudah jelas pesan apa yang ingin disampaikan Figge lewat penilaian stereotipikalnya tentang bir, perempuan dan agama dalam masyarakat Indonesia itu: bahwa Ayu Utami merupakan perempuan yang luar biasa berani – seorang pemberontak sejati. Dengan nada yang sama Figge membicarakan keputusan Ayu Utami untuk hidup serumah dengan pasangannya tanpa menikah yang konon sangat sulit diterima masyarakat Indonesia, dan pandangan Ayu mengenai RUU-APP.

Lebih jauh lagi, Ayu Utami digambarkannya bukan hanya sebagai pemberontak terhadap nilai-nilai moral yang “kolot”, tapi juga sebagai bagian dari gerakan perlawanan di dunia politik, khususnya sebelum jatuhnya Soeharto. Figge melaporkan keterlibatan Ayu Utami di Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dengan keterangan bahwa disebabkan oleh keterlibatan tersebut Ayu Utami “kehilangan pekerjaannya di majalah Matra dan selanjutnya terpaksa menerbitkan artikel dan eseinya di majalah-majalah underground.”

Tentang isi novel Saman Figge hanya memberi komentar singkat, yaitu bahwa novel tersebut membicarakan “penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan pemerintah, konflik etnis, minoritas agama – dan seks”, dan bahwa banyak penganut “Islam konservatif” kaget dan tidak bisa menerima novel yang “terlalu terbuka” itu.

Pesan yang serupa tentang novel Saman sebagai sebuah pemberontakan dan perlawanan yang luar biasa berani kita temukan pada “ringkasan” novel di website penerbit Horlemann, antara lain lewat klaim berikut:

“Der Debütroman „Saman“ wurde in Indonesien als literarische Sensation gefeiert: Er erschien kurz vor der Entmachtung General Suhartos, gleichsam als Vorbote des politischen Wandels. Der offene Umgang mit gesellschaftlichen Tabus stellt einen Bruch mit der bisherigen indonesischen Literatur dar.”

[“Novel pertamanya “Saman” dirayakan sebagai sensasi literer di Indonesia: Novel itu terbit tidak lama sebelum jatuhnya Jenderal Suharto, seakan-akan menjadi pertanda perubahan politis. Novel itu mempersoalkan tabu-tabu masyarakat dengan terbuka, seperti yang belum pernah dilakukan dalam sastra Indonesia sampai saat itu.”]

Konon, begitu keterangan selanjutnya, dalam novel Saman Ayu Utami “membicarakan seksualitas dengan terbuka, dan mempersoalkan relasi yang problematis antara orang Muslim dan orang Kristen dan kebencian pada minoritas Tionghoa”.

Bagi saya – dan saya yakin juga bagi sebagian besar pembaca Indonesia – imaji Ayu Utami dan novelnya Saman yang disampaikan lewat kedua teks Jerman tersebut terasa sangat ganjil. Bagaimana mungkin pengarang yang kita kenal sebagai bagian dari mainstream sastra saat ini dan sebagai anggota komunitas sastra yang dominan, tiba-tiba seakan-akan menjadi pemberontak yang subversif? Dan mengapa tema-tema seperti relasi antar-agama dan minoritas Tionghoa yang tidak dipersoalkan atau hanya disinggung sekilas dalam novel Saman, tiba-tiba seakan-akan menjadi tema utamanya?

Apakah pencitraan Ayu Utami yang ganjil tersebut merupakan sesuatu yang baru, mungkin image yang sengaja diciptakan oleh Horlemann sebagai bagian dari strategi pemasaran novel Saman? Ternyata tidak. Di dua sumber berbahasa Jerman yang berasal dari beberapa tahun sebelum novel Saman terbit di Jerman saya menemukan keterangan yang hampir sama. Sumber pertama adalah website Internationales Literaturfestival Berlin (Festival Sastra International Berlin) yang memperkenalkan Ayu Utami sebagai salah satu pengarang yang diundang ke festival sastra tersebut pada tahun 2004. Keterangan tentang isi novel Saman di situ hampir sepenuhnya sama dengan keterangan dari penerbit Horlemann yang saya kutip di atas. Keterlibatannya di AJI dan kegiatan jurnalistiknya yang “terpaksa dilanjutkannya di bawah tanah” pun disebut, dengan tambahan bahwa di masa Orde Baru Ayu Utami pernah menulis buku anonim tentang korupsi rejim Soeharto. Mungkin tambahan itu dirasakan perlu karena selain membaca dari novelnya, di Berlin Ayu Utami juga dijadikan pembicara di sebuah forum diskusi berjudul “Was ist Korruption?” [“Apa itu Korupsi?”].

Sumber kedua lebih tua lagi. Pada tahun 2002 Ayu Utami menjadi salah satu pengajar di sebuah program pelajaran mengarang on-line di Vienna, Austria (schule für dichtung/vienna poetry school), dengan latihan mengarang cerita masokis mengomentari seri-foto tentang permainan sado-masokis (dengan Ayu Utami sendiri dalam peran penyiksa). Selain foto tersebut dan sebuah tulisan Ayu Utami tentang masokisme, website itu memuat dua teks lain sebagai informasi latar belakang tentang Ayu Utami, yaitu tulisan Peter Sternagel (penerjemah Saman) dan Martin Amanshauser (pengarang Austria). Semua teks itu singkat saja, yaitu 2-3 halaman. Tulisan Sternagel merupakan ringkasan Saman, sekaligus pujian terhadap novel itu yang jelas-jelas ditulis antara lain dalam rangka menemukan penerbit untuk buku yang sedang diterjemahkannya tersebut (rupanya Sternagel dan Ayu Utami awalnya berharap menemukan penerbit yang lebih “bergengsi” daripada Horlemann, tapi tidak berhasil). Antara lain dia mengatakan bahwa Ayu Utami “memperlihatkan struktur penindasan politis di negaranya, mengungkapkan pendapatnya, menuntut tanggung jawab etis dan moral”. Entah di mana semua itu dilakukan Ayu – jawabannya pun tidak saya temukan dalam tulisan Sternagel tersebut.

Tulisan Amanshauser pun penuh pujian gombal yang membosankan terhadap Ayu Utami, tapi sambil lalu dia memberi informasi yang sangat menarik. Dua kali Amanshauser mengutip sebuah teks yang dijadikannya rujukan untuk “membuktikan” kehebatan Ayu Utami, yaitu pidato yang disampaikan pada saat Ayu Utami menerima penghargaan Prince Claus Award di Belanda pada tahun 2000. Pidato tersebut ditulis oleh seseorang yang namanya tentu tidak asing lagi bagi kita: Goenawan Mohamad.

Berikut salah satu dari kedua kutipan tersebut:

“the novel is a new departure from the tradition of indonesian prose writing also in its treatment of god, politics and sexuality. underlying its lyricism is an urge to discover freedom at each stage of writing and reading. one can see the novel as a story of liberation in which the words are no longer sacrificial horses – as if to anticipate the historical moment of 1998, when suharto’s dictatorship collapsed.” [pemakaian huruf kecil adalah bagian dari gaya sok eksentrik Amanshauser.]

Sudah jelaslah sekarang dari mana asal klaim tentang Saman sebagai pertanda perubahan politis dan gagasan bahwa Saman sama sekali berbeda dari karya-karya sastra Indonesia sebelumnya!

Setelah menemukan kutipan tersebut, saya berusaha mencari keseluruhan pidato Goenawan Mohamad tersebut lewat internet, tapi tidak berhasil menemukannya. Di website Prince Claus Fund saya hanya menemukan penjelasan yang sangat singkat tentang alasan kemenangan Ayu Utami. Bahwa Goenawan Mohamad terlibat pembuatan pidato pemberian penghargaan sama sekali tidak disebut-sebut. Entah kegagalan saya mencari informasi dan mencari teks pidato tersebut disebabkan oleh kekurangtelitian saya dalam pencarian, atau pidato itu memang sengaja disembunyikan dari kita agar kita tidak sadar akan keterlibatan Goenawan Mohamad dalam pemberian Prince Claus Award pada Ayu Utami, sejarah nanti yang akan membuktikannya.

Kutipan dari Goenawan Mohamad yang kedua lebih pendek, menceritakan peristiwa Ayu Utami kehilangan pekerjaan karena keterlibatannya di AJI.

Berkaitan dengan kegiatan Ayu Utami sebelum Saman terbit, disamping pekerjaannya sebagai wartawan, Amanshauser menyebut bahwa “di masa perjuangannya sebagai disiden tersebut dia menulis beberapa novel yang semuanya ditolak oleh penerbit”.

Sejauh mana Ayu Utami memang mengalami pemecatan dan pencekalan akibat tandatangannya di deklarasi Sirnagalih (pembentukan AJI) tidak bisa saya nilai – mungkin hal semacam itu lebih tepat dilakukan wartawan Indonesia yang bergelut di dunia jurnalistik pada masa itu. Tapi terlepas dari benar atau tidaknya informasi yang diberikan seputar hal itu, saya rasa menarik untuk direnungkan mengapa kegiatan tulis-menulis Ayu Utami di masa Orde Baru begitu banyak disebut-sebut dalam teks-teks berbahasa Jerman itu. Dalam keterangan tentang penulis di edisi Saman berbahasa Indonesia yang saya miliki [cetakan ke-15, Agustus 2000] hanya dikatakan bahwa:

“Sekitar tahun 1991 menulis kolom mingguan Sketsa di Berita Buana edisi Minggu. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di Matra, Forum Keadilan dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik tahun 1994, Ayu ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen [AJI] yang memprotes pembredelan, dan setahun kemudian dipecat dari Forum Keadilan sehubungan dengan itu.”

Mengapa di Jerman dan Austria tambahan mengenai artikel dan esei “di media underground”, buku anonim tentang rejim Soeharto dan novel-novel yang tidak pernah diterbitkan (bertentangan dengan keterangan dalam edisi Indonesia bahwa Ayu Utami “jarang menulis fiksi”) dirasakan perlu? Sepertinya kesan yang ingin ditimbulkan adalah bahwa sejak dulu Ayu Utami sudah giat menulis, tapi karena tulisan dan kegiatan lainnya terlalu “subversif”, dia baru dapat menampakkan bakatnya secara terbuka setelah Orde Baru tumbang. Mungkin keterangan-keterangan itu dirasakan perlu untuk menjustifikasi apresiasi yang diberikan padanya, antara lain pemberian penghargaan Prince Claus, yang akan terasa janggal kalau dipertimbangkan bahwa Ayu Utami saat itu baru menerbitkan satu novel saja dan namanya pun tidak dikenal secara luas sebelumnya. (Dan akan terkesan lebih janggal lagi kalau kita mengetahui bahwa terjemahan ke dalam bahasa Belanda belum selesai pada waktu Ayu Utami memenangkan Prince Claus Award, dan versi bahasa Inggrisnya pun belum ada.)

Mengapa di Indonesia sendiri tulisan-tulisan “bawah tanah” Ayu Utami itu jarang atau tidak pernah disebut? Saya tidak tahu jawabannya. Tapi saya yakin bahwa seandainya tulisan-tulisan itu disebut, pasti publik Indonesia, khususnya orang yang punya kepedulian terhadap sastra Indonesia, akan bertanya: di manakah tulisan yang begitu banyak dan beragam itu? Di media “underground” mana Ayu Utami menulis, di mana buku anonim tentang korupsi rejim Soeharto itu, di mana novel-novel yang ditolak penerbit itu? Saya rasa bukan tidak mungkin bahwa tulisan-tulisan “bawah tanah” itu sengaja tidak disebut di Indonesia karena Ayu Utami tidak siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu!

Dengan latar belakang informasi tentang politik pencitraan Ayu Utami sebagai pemberontak yang subversif di atas bisa dipahami mengapa novel Saman bisa muncul di sebuah website yang menurut pandangan saya sama sekali bukan tempatnya, yaitu website amnesty international. Buku Saman dengan keterangan singkat mengenai isinya saya temukan di website kelompok “Verfolgte AutorInnen und JournalistInnen” (pengarang dan wartawan yang dicekal/terancam secara politis, atau “persecuted writers and jounalists” dalam bahasa Inggris) yang menjadi bagian dari amnesty international Jerman. Ayu Utami sebagai pengarang yang terancam secara politis? Sebagai pengarang yang berhak dan perlu dibela amnesty international? Bukan main!

Kasus amnesty international itu menunjukkan betapa jauh pengaruh politik sastra KUK. Saya tidak tahu atas usul siapa Saman dimasukkan ke website tersebut, dan saya tidak bermaksud menuduh Ayu Utami, KUK atau penerbit Horlemann melakukan rekayasa agar Saman dimasukkan. Tapi masuknya Ayu Utami ke dalam daftar buku di halaman website amnesty international itu tentu tidak bisa dilepaskan dari politik pencitraan dirinya sebagai “disiden” dan “pemberontak” yang saya bicarakan di atas. Dan dengan adanya pidato Goenawan Mohamad yang saya sebut di atas, semakin nyata bahwa citra itu tidak timbul begitu saja, atau hanya diciptakan penerbit dan penerjemahnya, tapi bahwa KUK pun mendukung dan dengan aktif dan sengaja mengarahkan pencitraan Ayu Utami yang demikian rupa di luar Indonesia.

Pencitraan Ayu Utami tersebut menyebabkan terciptanya reputasi yang tidak sesuai dengan kenyataan dan tidak adil bagi sastra Indonesia secara umum – bukankah banyak pengarang Indonesia lain yang juga (atau malah lebih) layak mendapat perhatian? Lebih jauh lagi, pencitraan itu juga menjadi bagian dari representasi Indonesia di mata orang asing yang cenderung sangat negatif. Mari kita kembali sejenak pada laporan wawancara Katrin Frigge yang sudah saya bicarakan di awal tulisan ini. Figge membuka laporannya dengan kedua kalimat berikut:

“Ayu Utami kommt zu spät. Eine typisch indonesische Angewohnheit – aber wohl ihre einzige.”

[“Ayu Utami datang terlambat. Kebiasaan yang khas Indonesia - tapi sepertinya satu-satunya kebiasaannya yang khas Indonesia.”]

Bukankah penggambaran ini luar biasa rasis? Keterlambatan Ayu Utami dalam memenuhi janjinya dengan Figge itu merupakan satu-satunya hal negatif yang dilaporkan, sebelum Figge kemudian mulai memuji keberanian Ayu sebagai pemberontak. Dan keterlambatan itulah yang diakuinya sebagai satu-satunya ciri Ayu Utami yang “Indonesia”! Berarti semua sikap Ayu Utami yang dipujinya sebagai sikap yang “maju”, “berani”, “pemberontak” atau “feminis” merupakan sesuatu yang “bukan Indonesia”! Laporan mengenai bir, “perkawinan liar” dan pornografi yang sudah saya kutip sebagian di atas pun kemudian mengukuhkan imaji stereotipikal Indonesia sebagai negara (bermayoritas) Muslim yang kolot, restriktif, patriarkal dan tertinggal.

Kasus ini menunjukkan betapa pencitraan Ayu Utami sebagai pemberontak dan disiden tidak bisa dilepaskan dari pencitraan Indonesia sebagai negara kolot dan tertutup. Hanya kalau Indonesia digambarkan sebagai negara di mana “tidak ada perempuan yang minum bir”, misalnya, maka aksi demonstratif Ayu Utami memesan bir dengan suara lantang di café KUK bisa diinterpretasi sebagai sebuah perlawanan. (Dan di sini kita belum lagi mempertanyakan apakah memang tepat tindakan minum bir dihubungkan dengan kemajuan dan keterbukaan.) Maka kalau kita pertimbangkan bahwa Ayu Utami (dan KUK pada umumnya) tampaknya dengan sengaja menimbulkan dan menjaga reputasi semacam itu, saya rasa kata “antek-antek imperialis” yang digunakan jurnal sastra boemipoetra untuk mendeskripsikan KUK tidak terlalu berlebihan.

Kelihatannya Ayu Utami adalah anggota KUK yang paling “laku” dipasarkan sebagai “pengarang” di luar negeri, dibandingkan misalnya dengan Goenawan Mohamad atau Sitok Srengenge. Saya rasa wajar demikian: Dapat dibayangkan betapa cerita tentang seorang pengarang “perempuan muda” dari negara “Dunia Ketiga” yang “berani” menulis tentang hal-hal yang “tabu” namun sulit diterima masyarakat negaranya yang “kolot”, “patriarkis” dan “tertinggal”, akan dengan sangat mudah mengundang simpati. Informasi bahwa Ayu Utami banyak dikritik di Indonesia dalam konteks itu umumnya bukan membuat pembaca waspada dan kritis, tapi justru memancing simpati. Martin Amanshauser, misalnya, dengan sangat emosional berkomentar tentang “spekulasi kotor media-media skandal” yang meragukan kepengarangan Ayu Utami “sebab bagi masyarakat Indonesia yang didominasi laki-laki hampir tidak terbayangkan bahwa seorang perempuan, apalagi perempuan muda, mampu menulis buku sehebat Saman dan Larung”!

Meskipun demikian bukan berarti bahwa hanya karya Ayu Utami saja yang mewakili KUK di luar negeri. Citra KUK sendiri sebagai komunitas dan sebagai tempat pun cukup berhasil dikonstruksi sesuai dengan kepentingan komunitas itu sendiri. Di website Prince Claus Fund saya menemukan keterangan bahwa Komunitas Utan Kayu menjadi Network Partner Prince Claus Fund dari tahun 2004 sampai 2007, dan menerima dana sebesar 163.746 Euro selama 3 tahun tersebut. Sebagai alasan mengapa KUK dianggap pantas didukung serupa itu, antara lain dijelaskan:

“Komunitas Utan Kayu operates in a newly democratic Indonesia where freedom of thought has not been fully accepted. Therefore, its political concerns involve combating narrow-mindedness along with its mission to promote quality in the arts. However, even with the changing political landscape it has detected a level of intolerance amongst civil groups that prevents the development of free thought. Most of the recent cases of intolerance are based on the manipulation of religious identity.”

Seperti Ayu Utami, Komunitas Utan Kayu direpresentasikan sebagai perkecualian dalam masyarakat Indonesia: Masyarakat Indonesia konon belum mampu hidup demokratis, tidak bisa menerima “kebebasan berpikir” dan bersifat intoleran, sehingga membutuhkan KUK sebagai contoh kemajuan, demokrasi dan toleransi!

Klaim sejenis yang lebih mencolok lagi kebohongannya muncul di sebuah artikel majalah mingguan Jerman Der Spiegel edisi 23 Desember 2005. Setelah mengunjungi KUK dan berbincang dengan Ayu Utami (lagi!), wartawan Jürgen Kremb menulis:

“Hier sind vor noch nicht allzu langer Zeit die Grundlagen für das moderne Indonesien gelegt worden. Im Sommer 1994, als Suharto drei Nachrichtenmagazine verbieten ließ, kauften Journalisten und Schriftsteller die heruntergekommenen Häuser mit der Adresse Utan Kayu 68 H und trotzten der Diktatur mit einem Buchverlag. Eine linksalternative Szene entstand, und 1998 nahmen die Massendemonstrationen, die zum Sturz des Diktators führten, von diesem Ort ihren Ausgang.”

[“Di tempat ini [i.e. di KUK] dasar-dasar Indonesia modern diletakkan beberapa waktu yang lalu. Pada musim panas 1994 ketika atas perintah Suharto tiga majalah berita dibredel, sekelompok wartawan dan pengarang membeli rumah yang tidak terawat dengan alamat Utan Kayu 68 H dan melawan rejim diktator dengan mendirikan sebuah penerbit. Kelompok alternatif kiri terbentuk, dan demonstrasi massal 1998 yang menyebabkan jatuhnya sang diktator dimulai dari sini.”]

Kalau kita melihat betapa Ayu Utami dan KUK direpresentasikan dengan cara yang begitu tendensius dan menyesatkan di beberapa media di Jerman dan negara lain di Eropa, wajar kalau kemudian timbul sebuah pertanyaan: Apakah pembaca Eropa memang begitu mudah tertipu? Dalam kasus representasi KUK di website Prince Claus Fund dan di Der Spiegel saya rasa pembaca awam hampir tidak mungkin memeriksa kebenaran informasi yang diberikan. Prince Claus Fund dan Der Spiegel yang seharusnya lebih bertanggungjawab dalam melakukan riset. Dan tentu KUK pun seharusnya bertanggung jawab dalam memberi keterangan mengenai dirinya.

Tapi bagaimana dalam kasus Saman? Bukankah pembaca Jerman bebas membentuk pendapatnya sendiri dengan membaca novel itu secara langsung? Saya rasa memang demikian, tapi kebebasan itu ada batasnya bagi pembaca Jerman yang tidak mengenal dunia sastra Indonesia. Contoh yang menarik adalah resensi Birgit Koß di radio Jerman Deutschlandradio (17 Desember 2007). Koß membandingkan Saman dengan sebuah puzzle yang tidak berhasil diselesaikan sehingga gambar yang utuh dan dapat dipahami tidak terbentuk. Dengan kata lain, Koß bingung, apa sebetulnya yang ingin disampaikan Saman. Namun kebingungan itu tidak membuatnya menyimpulkan bahwa novel itu kurang berhasil, tapi justru dipahaminya sebagai bagian dari pengalaman baca “sebagai pembaca Barat” yang berhadapan dengan karya sastra asing. Mungkin memang begitulah cara bercerita khas Indonesia, spekulasinya.

Saya yakin bahwa serupa dengan Koß, sebagian pembaca Jerman yang membeli buku terjemahan sejenis Saman membacanya dengan kesiapan untuk menghormati perbedaan tradisi sastra sehingga mereka cenderung menerima hal-hal yang terasa janggal sebagai kekhasan lokal yang tidak bisa sepenuhnya mereka pahami. Maka kalau Saman yang dipilih di antara sekian banyak karya sastra Indonesia untuk disuguhkan kepada pembaca Jerman, wajar kalau cara bercerita ala Samanlah yang akan dianggap pembaca Jerman sebagai cara bercerita “khas Indonesia”. Menurut pandangan saya, penilaian terhadap karya terjemahan itu tidak bisa sepenuhnya dipercayakan atau dibebankan kepada pembaca Jerman. Karena penilaian mereka sejak awal sudah diarahkan, lewat pilihan karya yang dianggap pantas diterjemahkan, kemudian diarahkan lebih lanjut lewat informasi yang diberikan kepada mereka mengenai pengarang dan latar belakang karya. Maka institusi dan orang-orang yang terlibat dalam proses pemilihan karya tersebut memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Dalam kasus Saman, menurut pengamatan saya, tanggung jawab tersebut sudah diselewengkan.[]

*Katrin Bandel, kritikus sastra, tinggal di Jogjakarta. Tulisan ini sendiri pernah dipresentasikan di Meja Budaya PDS HB Jassin, TIM, pada Jumat 24 Maret 2008.


43 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Katrin Bandel menuai kritik dari pelbagai kalangan intelektual di Indonesia. Ada pro dan kontra. Analisa Katrin yang berjudul “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” atau “Politik Sastra Gombal” sampai saat ini pun masih diperbincangkan di milis-milis, diantaranya : jurnal perempuan dan apresiasi sastra.

Polemik ini penting sebagai salah satu referensi polemik-polemik yang pernah hadir di dalam dunia sastra Indonesia. Untuk itulah, redaksi beritaseni menampilkan berbagai komentar yang ditujukan kepada Katrin Bandel.

Mohon ijin…..

salam
Frino Bariarcianur Barus

—————————————————–
Tulisan di Republika mengenai Ayu Utami oleh Katrin Bandel berjudul Membongkar Kasus “Politik Sastra Gombal” dimuat 20 Maret 2008, menurut saya sangat mendeskreditkan suatu karya yang seharusnya diapresiasi dan dibanggakan sebagai novel yang telah banyak meraih penghargaan.

Tulisan tersebut tidak membahas kekuatan ataupun kelemahan novel Ayu Utami, “Saman”, melainkan menyajikan opini soal-soal yang tidak berkaitan dengan sebuah karya. Saya tidak mengerti argumen yang ditulis oleh Katrin Bandel karena argumen-argumen tersebut tidak ada hubungannya dengan karya besar yang telah dilahirkan oleh Ayu Utami. Suatu karya besar Ayu Utami telah lahir dan berhasil baik di dunia intelektual Indonesia maupun di pasar nasional maupun Internasional, memberikan inspirasi dan kontribusi besar pada pemikiran Indonesia. Alasan-alasan tersebut sudah cukup untuk sebuah penghargaan.

Argumen soal Gunawan Muhammad menuliskan pidato Ayu Utami pada penerimaan
penghargaan Prince Claus Award atau tidak dan soal apakah Ayu Utami sebelumnya menulis atau tidak, bukan fokus dari penilaian suatu karya sastra. Sangat disayangkan bahwa “gosip-gosip” lebih dianggap penting oleh koran Republika ketimbang membahas si karya.

Soal bahwa Amnesty Internasional menganggap Ayu Utami perlu dibela atau
tidak itu sepenuhnya hak organisasi tersebut dan segala keluhan atau protes sebaiknya ditujukan kepada organisasi tersebut tapi bukan mendeskreditkan suatu karya karena tindakan sebuah organisasi.

Saya pun tidak melihat apa keterkaitan KUK (Komunitas Utan Kayu) dalam semua
ini. KUK sebagai organisasi komunitas yang mendorong kreatifitas sastra menurut saya perlu diperhitungkan kontribusi besar mereka pada sastra Indonesia. Bahkan saya berpendapat KUK lebih besar kontribusinya dalam kegiatan sastra dan budaya dari pada Universitas Indonesia khususnya FIB, UI, yang seharusnya lebih kredibel di bidang ini tapi miskin penelitian dan produktifitas.

Tentu banyak karya dan penulis lain yang juga cukup baik. Mari kita tumbuhkan dan diskusikan kekuatan dan kelemahan karya-karya tersebut. Namun, jangan membunuh karakter satu penulis demi memunculkan penulis lainnya. Cara-cara seperti ini tidak fair dan tidak etis. Karya hanya dapat dinilai dari karya dan bukan di luar itu. Jadi, marilah kita mendiskusikan isi karya dan bukan “gosip-gosip” di luar karya.

Salam,
Gadis Arivia

Komentar oleh beritaseni

Apakah Katrin Bandel punya bukti konkrit bahwa pidato Ayu dituliskan oleh GM?

Dia sendiri mengaku cari-cari data atau dokumennya di berbagai sumber tapi tak ketemu. Jadi, pernyataannya itu didasarkan pada sumber apa atau bukti apa? Saya pikir, jika Ayu atau GM mau menuntut Katrin dengan tuduhan fitnah bisa saja dilakukan.

Kalau kita lihat rekam jejak Katrin Bandel, sejak semula sekali dia memang getol menyerang Ayu Utami. bahkan, bisa dikatakan, namanya di blantika kritik sastra Indonesia menjadi bergaung persis karena serangannya yang sangat konsisten dan provokatif terhadap Ayu Utami. Aneh tapi nyata: ternyata keduanya ber”simbiotik”, cuma saya sifat simbiosisnya adalah “parasitisme”, bukan “mutualisme”. Sang kritikus hidup dengan cara mencaci-maki si penulis, dan dengan cara itulah eksistensinya sebagai
kritikus lahir.

Di mata Katrin, seluruh dunia ini, termasuk orang-orang di Australia, Eropa dan Amerika, lembaga-lembaga internasional yang mengakui prestasi Ayu, itu semuanya goblok, dan cuma dirinya sendiri yang pinter.

Makanya, dia tak kunjung paham kenapa orang dunia internasional bisa mengapresiasi karya Ayu yang di matanya cuma seonggok sampah itu.

Manneke

Komentar oleh apresiasi-sastra I

Bung Manneke,
Kalau mau nakal, kita bisa juga memakai perspektifnya Edward Said untuk “mengusili” Si Katrin yang “bandel” ini. Saya bisa saja mengatakan, orang “bule” macam Katrin ini memandang “rendah” orang-orang kulit coklat macam Ayu Utami. Orang kulit coklat, apalagi dari Indonesia, mustahil mencapai reputasi besar di mata orang Eropa dalam bidang sastra, kecuali dengan “tipuan”, dan sedikit “make up”.

Jadi, Katrin ini diam-diam melaksanakan “orientalisme” dalam bentuknya yang sangat buruk.

Itu kalau kita mau “suuzzann” atau berburuk sangka.

Tapi, ya ngapain. Yang jelas, saya menikmati Saman sebagai karya yang baik, dengan kualitas berbahasa yang menurut saya, sebagai orang awam dalam bidang sastra, sangat baik.

Saya harus jujur, tulisan Katrin itu disampaikan dengan bahasa Indonesia yang sangat baik, dengan artikulasi yang baik pula. Saya begitu terkesan dengan kemampuan berbahasa si “bule” ini.

Lagi-lagi, kalau saya mau bersikap “usil”, saya bisa bertanya: apakah ini artikel tulisan Katrin sendiri, atau “buatan” Si “SS” yang terkenal itu? Atau kolaborasi antara Katrin dan “SS”?

Saya tak mau usil. Jadi pertanyaan itu hanya “penghandaian” saja. Saya menghargai kritiknya Katrin, walaupun kritiknya ini dilaksanakan bukan dengan cara menelisik teks Saman, sebaliknya bermain-main dengan aspek politik dari karya itu. Dan tidak apa-apa toh kritik sastra hanya mengudak-udak aspek politik sebuah karya?

Salam,
Ulil Abshar-Abdalla

Komentar oleh apresiasi-sastra II dan Jurnal Perempuan

Dear Ulil dan Manneke,

Cobalah berdebat langsung dengan Si Katrin
Saya bertemu dengan Katrin (dari Jerman, tapi gayanya tinggal di Yogyakarta) pada bulan desember tahun lalu di seminar ‘dinamika kemaritiman dalam perspektif sastra dan sejarah’ (tanggal 15, Undip Semarang). Waktu itu dia membawa makalah ‘Perempuan pesisir dalam novel gadis pantai karya Pramoedya Ananta toer dan Jamangilak tak
pernah menangis karya Martin Alaida’. Waktu saya membaca makalahnya saya merasa analisis substansi dua novel itu sangat “sophisticated” dan saya bisa menambah sekarang sama sekali tidak ada unsur merendahkan dua karya sastra tersebut ataupun pengarangnya.

Saya tidak sempat membaca tulisannya mengenai karya Ayu Utami sehingga tidak bisa menilai apakah mengandung unsur merendahkan tersebut. Tapi dia menyebut karya Ayu Utami dalam alinea terakhir makalahnya. Saya kutip:

“Apakah itu berarti bahwa Gadis Pantai dan Jamangilak Tak Pernah Menangis tidak relevan dibaca dalam konteks studi gender dan feminisme? Menurut pandangan saya kedua novel justru sangat menarik dibaca dalam konteks itu karena dapat membuat kita menyadari betapa beragamnya persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia. Khususnya
representasi perempuan dalam kedua novel itu menarik dibandingkan dengan imaji perempuan yang dipopulerkan lewat karya-karya pengarang perempuan yang sering disebut “sastrawangi”, misalnya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu. Unsur yang sangat ditekankan dalam karya-karya “sastrawangi” adalah seksualitas, sampai-sampai tidak jarang timbul kesan bahwa yang paling penting demi “kemajuan” perempuan adalah kebebasan seksual. Sayangnya, tidak banyak pengarang perempuan mengangkat persoalan-persoalan lain yang dihadapi perempuan, seperti persoalan kerusakan lingkungan dalam Jamangilak Tak Pernah Menangis dan feodalisme dalam Gadis Pantai.”

Pasti ada karya sastra hasil pengarang perempuan yang mengupas aspek kehidupan perempuan lain. Contoh karya-karya Oka Rusmini tentang kehidupan perempuan Bali. Dan juga seperti Ayat-ayat Cinta. Buku itu sedang dibaca anak saya yang 16 tahun. Dia tidak dapat berhenti baca sampai ‘tamat’! Seru, katanya. Anak saya (dari keluarga Hindu)
menyadari bahwa buku ini ‘islamiah’, tapi rupanya itu tidak membuat dia menolak karya sastra ini. Ternyata gaya tulis buku ini dan alur ceria begitu menarik sampai bisa mengikat perhatian anak saya.

Sebenarnya nilai sastra sebuah karya sastra baru akan nampak kalau buku itu tetap diapresiasi di lain zaman. Contoh, Max Havelaar. Karyanya sampai sekarang masih diminati, gayanya bukan saja karena melawan sistem pemerintahan kolonial dan feodalisme pamong praja, tapi juga karena a) gaya tulis begitu memukau, dan b) menyentuh perasaan tentang keadilan dan kemanusiaan yang rupanya cukup
universal. Padahal, kalau kebenaran faktual dari apa yang ditulis diuji berdasarkan sumber sejarah tentang kasus tersebut, boleh dikatakan gambaran tentang perannya sendiri (Multatuli=Max Havelaar) dan orang yang disajikan dapat dikritik.

Maksud saya, kita dapat mengagumkan karya sastra berdasarkan berbagai indikator. Bisa saja gaya tulis bagus, alur cerita mempesona.

Penilaian terhadap substansi sangat ditentukan apa yang sedang ‘hot’, seperti seksualitas perempuan di Indonesia, (di negara Barat sudah biasa-biasa saja) atau pegangan normatif bagi kalangan perempuan Islam. Kita juga bisa menilai suatu karya – yang mungkin bagus atau ngetop dari segi indikator2 di atas dan lainnya – dari sudut pandang mendukung atau tidak kesetaraan gender atau mengukuhkan pembelengguan perempuan yang sudah ada atau menciptakan bentuk penindasan baru.

Ma’af saya bukan ahli sastra, hanya pelaku studi gender…

Sita

Komentar oleh apresiasi-sastra III dan Jurnal Perempuan

Untuk Gadis, Ulil dan Manneke
Juga untuk Sita dengan klarifikasi yang jernih

Soal Katrin Bandel selalu mengungkit-ungkit Ayu atau Djenar, saya pribadi merasa agak aneh. Termasuk selalu mengkaitkan dengan istilah “sastra wangi”

Jika, istilah “sastra wangi” dilekatkan kepada Ayu dan Djenar, tentu tidak tepat. Terutama jika kita mengacu pada definisi sastra wangi itu sendiri. Saya kira, siapapun yang melekatkan istilah “sastra wangi” kepada Ayu dan Djenar, kiranya agak salah kaprah menggunakan istilah tersebut.

Saya curiga sesungguhnya, dengan pelabelan istilah tersebut kepada 2 orang sastrawan kita yang kebetulan berjenis kelamin perempuan tersebut. (Sesungguhnya label “Sastra Wangi” juga dilekatkan kepada 2 orang penulis novel yang lainnya) apakah ini bagian dari mysoginist dunia sastra Indonesia, yang selama bertahun-tahun terhegemoni oleh patriarkh-patriarkh yang berjenis kelamin laki-laki tersebut?

Dalam pendekatan feminisme, kita mengenal istilah “Sex-Positive Feminism”. Dan jika pada karya kedua orang tersebut Ayu dan Djenar, sex-positive dikemukakan, apa salahnya?

Jika cap atau label yang digunakan kemudian, oleh kelompok tersebut ini
–aduuh.. saya udah bosen lah dengan kelompok ini, apakah si Saut, apakah si Katrin, apakah Taufik Ismail—Cap atau Label yang diberikan “Sastra Selangkangan”

Menurut saya, ini sedang terjadi “the other victorian regime” dalam dunia sastra kita yang diwakili oleh kelompok yang..aduuh nyebelin.

Menyebalkan karena, pada beberapa tulisannya, memang Katrin cukup bernas dan konsisten secara ilmiah. Seperti yang ditunjukkan oleh Sita di bawah ini.

Namun apa yang digunakan dalam tulisan di Republika, menurut saya, hanya sekedar mau “obok-obok” sesuatu yang sudah mulai tenang kembali.

Saya tahu, betapa terganggu nya Gunawan Mohammad, dengan “obok-obok” ini. Juga beberapa kawan lain, seperti Titarubi (perupa) yang sempat juga menanggapi beberapa bulan lalu. Manneke kan juga tahu, hal ini sempat dibicarakan waktu pertemuan sastra Indonesia Internasional.

Para indonesianist pengkaji sastra Indonesia juga sudah punya penilaian tersendiri kok, dengan kelompok yang … aduuh males deh ngomonginnya.

Tapi, lepas dari saya males ngomonginnya, memang ada kecurigaan bahwa permasalahan ini sengaja di obok-obok. Udah tenang juga di obok-obok lagi, biar naik lagi. Karena persoalan banyak yang mau jadi “the other victorian” itu, karena mau menaikkan bahwa sastra pun perlu “dikontrol”. Kecurigaan saya ini, bisa sampai pada bentuk lain dari backlash.

Lebih baik ditanggapi secara kritis, pada forum-forum ilmiah.

Saya tahu, mungkin Mannekke sudah males juga tanggapi. Tapi tulisan M. Bodden di RIMA tentang Djenar bagus juga. Saya kira, tulisan-tulisan macam itu yang perlu terus diupayakan untuk mengatasi obok-obok nggak mutu tersebut.

Salam dalam Solidaritas
Gayatri

Komentar oleh apresiasi-sastra IV dan Jurnal Perempuan

Kalian bagaimana sih?! Sita di bawah sudah capek-capek mengutip kalimat dari makalah saya, di mana saya mengatakan bahwa “khususnya representasi perempuan dalam kedua novel itu menarik dibandingkan dengan imaji perempuan yang dipopulerkan lewat karya-karya pengarang perempuan yang sering disebut “sastrawangi” , misalnya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu”. YANG SERING DISEBUT “SASTRAWANGI” !

Saya di situ sama sekali mempersoalkan apakah istilah “sastrawangi” itu tepat atau tidak, apa sejarah istilah tersebut dsb. Tapi kan memang kenyataannya bahwa ada sekelompok karya pengarang perempuan yang umumnya disebut “sastrawangi” di dunia sastra Indonesia saat ini. Dan meskipun benar bahwa karya-karya tersebut juga membahas tema lain
selain seks, tema sekslah yang paling banyak dihebohkan, dan kecenderungan tematis itu juga yang umumnya dimaksudkan orang dengan “sastrawangi” . Pengertian umum itu saja yang saya rujuk, dengan menggunakan tanda kutip!

Entah siapa yang menciptakan istikah “sastrawangi” . Istilah itu tentu saja negatif, alias mengejek. Di satu sisi pilihan kata dalam ejekan tersebut (“wangi” dikaitkan dengan perempuan dan seks) memang bisa dikatakan seksis. Tapi di sisi lain saya rasa tidak masuk akal kalau kita tidak memperhatikan konteks di mana kata itu muncul dan
digunakan, yaitu sebagai ekspresi kekesalan atau kemarahan atas beberapa kejadian dan kecenderungan yang dirasakan sebagai ketidakadilan oleh sebagian sastrawan Indonesia.

Yang saya maksudkan adalah kehebohan seputar beberapa pengarang perempuan dan karyanya, dan seputar tema seksualitas dalam karya itu. Kalau saya memahami kata “sastrawangi” sebagai ungkapan ketidaksetujuan dengan kehebohan yang tidak proporsional itu, saya dapat menyetujuinya, meskipun aspek seksis dalam kata itu tetap membuat saya merasa perlu menggunakannya dalam tanda kutip.

Katrin Bandel

Komentar oleh apresiasi-sastra V dan Jurnal Perempuan

Terima kasih kepada moderator yang mengundang saya ikut nimbrung di milis yang rupanya sedang “mendiskusikan” tulisan saya ini.

kepada Gadis Arivia:
Hanya satu yang ingin saya tanyakan: Memangnya kenapa kalau dalam esei saya di Republika itu saya tidak membahas teks novel Ayu Utami, tapi teks-teks lain yang menjadi bagian dari wacana seputarnya? Kata siapa bahwa itu tidak sah atau tidak relevan? (Kalau ingin tahu pandangan saya tentang teks Saman dan Larung, silakan baca esei saya tentang heteronormatifitas dan falosentrisme dalam karya Ayu Utami.

kepada Manneke:
Seperti yang bisa dibaca dalam esei saya, saya mengatakan bahwa Martin “Amanshauser mengutip sebuah teks yang dijadikannya rujukan untuk “membuktikan” kehebatan Ayu Utami, yaitu pidato yang disampaikan pada saat Ayu Utami menerima penghargaan Prince Claus Award di Belanda pada tahun 2000″, ditulis oleh Goenawan Mohamad. Amanshauser yang menerangkan bahwa teks itu adalah pidato yang ditulis oleh GM – berarti kalau keterangan itu mau dianggap fitnah, yang melakukan fitnah bukan saya, tapi Amanshauser.

Apakah teks yang dikutip Amanshauser memang benar dibacakan sebagai pidato pada acara pemberian hadiah Prince Claus, tidak saya ketahui. Mungkin saja Amanshauser keliru. Belakangan (setelah esei saya itu sudah saya kirim ke Republika) saya menemukan kutipan yang sama, dikutip dari tulisan Goenawan Moehamad berjudul “Ayu Utami, The Body Is Heard” yang dimuat di Prince Claus Awards Book tahun 2000 (tidak bisa didownload lewat internet). Bagi saya tidak begitu penting apakah benar tulisan GM itu dibacakan sebagai pidato atau tidak.

Tapi saya rasa menarik dicatat bahwa 1. GM menjadi juri Prince Claus, meskipun bukan pada tahun Ayu Utami menang, dan 2. GM menulis tentang Ayu Utami di buku Prince Claus (dengan nada menuji tentunya). Artinya, GM bukan tidak terlibat dalam pemberian hadiah tersebut. Tepatnya apa wujud keterlibatan itu tidak saya ketahui.

Tapi meskipun begitu bukankah wajar dan relevan kalau saya sekadar BERTANYA-TANYA tentang keterlibatan GM tersebut?

kepada Ulil:
Terima kasih untuk komentar Anda yang rasis, seksis dan orientalis itu. Jadi menurut Anda sebagai bule yang baik dan benar saya seharusnya sibuk memuja-muji Ayu Utami dalam bahasa Indonesia yang patah-patah, begitu? Hah?

Salam,
Katrin Bandel
[2008/4/1]

Komentar oleh Dari Milis Jurnal Perempuan

Salam kenal dan senang bisa berdiskusi dengan Katrin di milis ini. Saya sudah membaca beberapa karya anda sebelumnya dan sangat mengagumi tulisan-tulisan anda. Hanya memang untuk tulisan yang di Republika saya tidak sependapat dengan anda. Karena menurut saya, anda terlalu fokus pada persoalan politik (personal politics) di sekitar karya Saman, Ayu Utami. Dan saya tidak paham mengapa “personal politics” tersebut penting buat anda.

Seperti yang telah saya email ke Dewi (dalam topik Taufik Ismail), bagi saya yang bergelut di studi gender, karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu penting dalam pembahasan sastra kontemporer Indonesia. Bila saya bandingkan tulisan “pengalaman perempuan” di tahun-tahun 1960-an hingga 1980-an, tulisan baik Ayu maupun Djenar memberikan konstruksi berpikir baru tentang tubuh perempuan. Tentu banyak tema yang dibahas di “Saman” dan “Menyusu Ayah”, tapi tema tubuh perempuan dan seksualitas perempuan bagi saya yang menarik.

Mungkin karena berhubungan dengan pekerjaan saya.

Jadi, kembali kepada diskusi kita, ada dua pertanyaan saya sebenarnya:

1. Mengapa soal “personal politics” tentang GM dan KUK menjadi penting dalam pembahasan karya Saman, Ayu Utami.
2. Kadang pembahasan “personal politics” menjadi gosip bila tidak bisa dibuktikan. Apakah Katrin telah mewawancara baik GM secara pribadi dan KUK sebagai lembaga agar asumsi Katrin bisa diuji?

Terima kasih Katrin atas waktunya. Saya berharap dapat belajar banyak dari anda.

Salam,
Gadis Arivia.

Komentar oleh Gadis Arivia dari Milis Jurnal Perempuan

Saya langsung akan menjawab kedua pertanyaan Anda:
1. Mengapa soal “personal politics” tentang GM dan KUK menjadi penting dalam pembahasan karya Saman, Ayu Utami.

Tidak begitu jelas bagi saya apa yang Anda maksudkan dengan “personal politics”. Yang saya bahas dalam esei saya di Republika adalah pencitraan KUK, khususnya Ayu Utami, di Eropa. Dalam kasus Ayu Utami, saya mengamati bahwa baik menyangkut isi novel “Saman” maupun biografi penulisnya, banyak keterangan tendensius dalam teks-teks tentang Ayu Utami dan “Saman” di Jerman dan Austria. Ayu Utami digambarkan sebagai perempuan yang luar biasa berani dan yang tulisannya sangat subversif.

Ketika mulai menulis esei itu, saya sebetulnya tidak berniat membahas GM sama sekali. Tapi karena memang tulisan GM-lah yang disebut Amanshauser, dan karena klaim yang kita temukan dalam tulisan GM diulang-ulang di beberapa sumber berbahasa Jerman (yang sudah saya sebutkan dalam esei saya), saya anggap pengaruh GM perlu dan relevan dibicarakan. Dan karena tulisan GM itu dibuat dalam rangka pemberian Prince Claus Award pada Ayu Utami, dan award itu pula yang sering disebut-sebut baik di Indonesia maupun di luar negeri sebagai “bukti” bahwa Ayu Utami memang penulis hebat, persoalan penghargaan itu pun menjadi penting dibahas.

Kalau kita membicarakan politik sastra tentu kita tidak mungkin hanya berbicara tentang teks karya sastra. Politik sastra dilakukan orang/komunitas tertentu, dengan kepentingan tertentu. Saya tidak tahu bagaimana dan mengapa saya mesti membahas politik tanpa menyebut orang/komunitas yang terlibat, kalau itu yang Anda maksudkan dengan “personal politics”.

Lalu mengapa itu penting dalam pembahasan karya “Saman”? Karena penilaian “Saman”, seperti penilaian setiap karya sastra, tidak lepas dari persoalan politik sastra. Karena teks “Saman” bukan hadir begitu saja di ruang kosong lalu secara kebetulan saja muncul di depan mata pembaca. Tapi novel itu hadir dalam bentuk buku oleh penerbit tertentu, dibeli orang karena ada nama “Ayu Utami” di covernya, penulis yang banyak dihebohkan itu, yang sering dibahas di media itu, yang menang lomba DKJ itu, yang dapat Prince Claus Award itu, yang diterjemahkan ke beberapa bahasa asing itu. Atau dibeli karena komentar-komentar para “pakar” yang memujinya di cover belakang, termasuk komentar Pram yang diselewengkan itu!

2. Kadang pembahasan “personal politics” menjadi gosip bila tidak bisa dibuktikan. Apakah Katrin telah mewawancara baik GM secara pribadi dan KUK sebagai lembaga agar asumsi Katrin bisa diuji?

Saya tidak mengerti atas dasar apa beberapa orang di milis ini menganggap bahwa apa yang saya lakukan dalam esei saya di Republika hanya gosip belaka. Yang saya analisis dalam esei saya semuanya teks yang memang ada (tulisan Katrin Figge, iklan “Saman” di website Horlemann, website amnesty, tulisan Amanshauser dsb), sumbernya juga saya sebutkan, bisa dicek setiap orang yang punya akses internet. Jadi saya ingin tanya pada Anda, di manakah saya sekedar menyebarkan gosip atau melakukan asumsi yang tidak dibuktikan?

Mengapa saya mesti mewawancarai GM atau KUK? Saya sama sekali tidak punya kepentingan untuk melakukan hal itu. Saya menulis tentang citra KUK di Eropa, dan untuk itu sumbernya adalah teks-teks yang dipublikasikan di Eropa sendiri. Dalam membaca teks-teks tersebut, saya menemukan bahwa Ayu Utami dan KUK secara umum direpresentasikan dengan cara yang berlebihan dan tidak realistis. Representasi itu jelas menguntungkan bagi KUK. Namun sejauh mana semua itu disengaja oleh KUK atau tidak, tidak bisa saya jawab. Yang jelas, sejauh saya tahu sampai saat ini tidak ada protes atau ralat dari KUK. Tak masuk akallah kalau saya disarankan mewawancarai orang KUK sendiri mengenai hal itu. Memangnya saya mesti mendatangi GM, lalu bertanya: “Mas Goen, apakah Anda sengaja menyebarkan informasi yang salah tentang Ayu Utami dan KUK agar komunitas Anda beken dan funding tetap lancar?” Lalu saya mengharapkan keterangan yang jujur dan mencerdaskan, begitu?

Salam,
Katrin Bandel

Komentar oleh Katrin Bandel

Dear Katrin,

Thanks atas jawabannya. Saya kira sudah jelas posisi Katrin terhadap karya Saman karangan Ayu Utami. Mungkin benar pendapat Katrin bahwa politik seputar karya Saman perlu diungkap dan menjadi bahan pembelajaran yang penting.

Hanya saya menilai politik tersebut tidak berpengaruh pada suatu karya yang dihasilkan. Saya menganggap bahwa karya yang dihasilkan dinilai baik karena isi karya tersebut dan bukan unsur-unsur politisnya. Seperti yang sudah saya utarakan, dari sisi studi gender, karya Saman berhasil membongkar persoalan tubuh perempuan dan seksualitas perempuan. Tapi tentu saya menghargai pendapat Katrin dan menganggap masukan Katrin berguna.

Untuk poin kedua, saya pikir sah saja bila penelitian Katrin didasarkan pada sumber Figge dan Amanshauser mengupas soal hal-hal politis diseputar karya Saman dan tiba pada kesimpulan dari hasil sumber-sumber tersebut. Namun, sebagai peneliti tentu saya akan mempertimbangkan juga pendapat pelaku politis dalam hal ini GM dan KUK. Hasil wawancara Katrin pada mereka mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan akan tetapi dari hasil tersebut kita bisa mendapatkan interpretasi yang lebih mendalam lagi. Mungkin saya salah, tapi persoalan pembahasan politis sebuah karya sastra perlu konfirmasi dari berbagai pihak yang terlibat sebelum kita sampai pada suatu kesimpulan.

Any way, thanks for your thoughts, I appreciated very much.

Hugs,
Gadis Arivia

Komentar oleh Gadis Arivia Jurnal Perempuan

Pembaca Beritaseni yang terhormat,
Situasi milis Jurnal Perempuan semakin menarik untuk dicermati. Katrin Bandel menjadi titik fokusnya. Akibat tulisan Katrin yang TAJAM, doi “diserang” dari seluruh penjuru mata angin, mulai dari yang bersifat olok-olok sampai yang paling serius. Padahal tulisannya belum selesai dipublish oleh Republika. Keren!

Untuk saat ini, setelah berpuluh-puluh tahun berselang, akhirnya muncul juga POLEMIK yang menyehatkan sastra indonesia. Salut untuk Katrin!

Perlu kami sampaikan dan ingatkan, bahwa seluruh komentar-komentar yang ada pada tulisan “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” oleh Katrin Bandel, merupakan hasil pencarian redaksi BERITASENI di milis Apresiasi Sastra dan Jurnal Perempuan. Komentar ini kami munculkan karena mengingat tidak setiap pembaca beritaseni menjadi anggota kedua milis tersebut. Selain itu polemik yang sedang “panas” ini bukanlah RAHASIA.

Tujuannya sederhana agar polemik ini dapat dibaca oleh seluruh pihak, terutama pembaca setia beritaseni.

Dan apabila diantara pembaca [atau siapa pun] ada yang ingin tetap dan terus memberikan komentar, pintu beritaseni tetap terbuka lebar. Bikin yang sehat! Dan apabila diantara pembaca menilai, hasil pencarian redaksi beritaseni kurang lengkap mohon bantuannya untuk melengkapi. Biar kita sama-sama menjadi paham duduk persoalannya!

tuhan yang ada di cyberspace, beritaseni bersyukur ada polemik seperti ini.

salam
Frino Bariarcianur B

n.b setiap komentar di beritaseni tidak dimoderasi. Namun tetaplah menjaga kebebasan ini.

Komentar oleh beritaseni

GENERE CAFE
CAFE PUSTAKA

Untuk Pertama kalinya, kami undang untuk berkunjung ke sebuah Cafe Pustaka. Berkunjunglah ke Cafe kami.

Kunjungi kami di :

http://generecafe.blogspot.com.

Sebuah Ruang Pustaka yang kami suguhkan bagi para pengunjung setia penikmat Blogger di Seluruh Indonesia.

Simpanlah undangan kami ini, apabila suatu saat nanti anda membutuhkan sebuah Cafe Pustaka sebagai bahan refrensi anda.

Hormat kami,

Genere Cafe

Komentar oleh Merapendra

Ulil,

ketika anda bilang; ‘jika mau suuuzaan’

-apakah ini tidak termasuk ‘sudah suuzaan’?

ketika anda kata pula; ‘Kalau mau nakal, kita bisa juga memakai perspektifnya Edward Said untuk “mengusili” Si Katrin yang “bandel” ini. Saya bisa saja mengatakan, orang “bule” macam Katrin ini memandang “rendah” orang-orang kulit coklat macam Ayu Utami’.

-apakah ini tidak termasuk sudah memakai persfektif orang lain (edward said) untuk ‘megusili’ katrin?

Kemudian Anda juga bilang; ‘Jadi, Katrin ini diam-diam melaksanakan “orientalisme” dalam bentuknya yang sangat buruk’.

-apakah ini bukan pernyataan rasis?

Ulil, pernyataan-pernyataan seperti yang anda sampaikan ini, adalah ‘hija” dari praktik mantiq yang tidak dibarengi kerendahan hati. saya kira, anda sebagai orang yang dibesarkan di dunia pesanten –
apalagi sebagai mantu dari kyai musthofa bisri – lebih tahu hal ini. dan praktik2 seperti inilah yang kemudian kenapa mantiq (retorika) banyak diharamkan oleh para kyai.

Sebagaimana harapan saya kepada manneke, harapan saya kepada anda pun juga demikian. yaitu adanya tanggapan di mana saya – juga kawan-kawan di milis ini saya kira – dapat memetik pelajaran dari perbedaan cara pandang terhadap sastra, bukan komentar-komentar yang semakin
bikin runyam.

salam,
Fahmi

Komentar oleh Fahmi [Mengomentari Ulil Abshar-Abdalla]

note: posting ini pertama kali diumumkan di apsas kemarin (31/3/2008),
karena saya bukan anggota milis jurnal perempuan saya tidak
memasukkannya ke sana tapi saya minta kepada teman untuk meng-crosspost ke sana. belum sempat dia melakukan itu saya dapat kabar japri dari salah satu crossposters kronis di apsas kalau dia sudah berusaha
melakukan itu tapi postingan ini tidak diloloskan oleh moderator milis
jp. ada yg bisa mengkonfirmasi ini benar atau tidak?

GADIS ASERSIVIA
Sebelum saya tulis komentar pendek ini baik saya beritahu saya pernah kerja di Jurnal Perempuan sampai kemudian berhenti karena berselisih paham dengan Gadis Arivia. Jadi nanti kalau ada yg menuduh saya berkomentar seperti nanti di bawah hanya gara2 saya bitter aja ya mungkin dia memang benar hahaha.

Saya cuma ingin tertawa membaca argumen Gadis yang seperti argument-argumennya waktu berargumen dengan saya (tak usah dijelaskan ttg apa dulu ntar gue di-sue libel lagi) sangat meminjam kata SAUT SITUMORANG (is it that hard to say his name?) SAUT SITUMORANG tuh sy sebutin lagi SAUT SITUMORANG tuh gak papa kan, ‘asersif’, tanpa bukti, dan di sini menurut saya sangat moralistis. baiklah saya jelaskan satu2 kenapa (kan saya gak asersif):

Gadis Arivia, “suatu karya yang seharusnya diapresiasi dan dibanggakan sebagai novel yang telah banyak meraih penghargaan.”

— kenapa seharusnya? kenapa harus diapresiasi dan dibanggakan? sebagai novel yang telah banyak meraih penghargaan? bukankah itu sama saja dengan bilang Hitler patut diapresiasi dan dibanggakan karena dia sudah dapat jumlah pol bintang ss? Bukankah Gadis nanti menganjurkan membaca hanya isi karyanya saja? nah ini? Selain malah sama sekali tidak menggunakan bukti dari ISI karya itu untuk appeal-nya supaya karya ini diapresiasi dan dibanggakan dia malah appealing to something DI LUAR ISI karya tadi, penghargaan! Gimana sih, di filsafat UI gak diajarin ya cara berpikir jernih (ini asersif gak ya? haha) atau kalaupun gak jernih konsisten aja deh?

Gadis Arivia,” ‘karya besar yang telah dilahirkan oleh Ayu Utami. Suatu karya besar Ayu Utami telah lahir dan berhasil baik di dunia intelektual Indonesia maupun di pasar nasional maupun Internasional, memberikan inspirasi dan kontribusi besar pada pemikiran Indonesia. Alasan-alasan tersebut sudah cukup untuk sebuah penghargaan.”

— karya besar kenapa besar? buktikan! berhasil baik di dunia intelektual indonesia maupun di pasar nasional maupun internasional? Apakah gadis telah membaca ISI kritik Katrin? apa dia tidak mengerti karena belum benar-benar membaca, atau memang dia tidak mengerti saja, hahaha, kedua2nya sama2 menggelikan. Pernyataannya bahwa Ayu Utami berhasil di pasar internasional itu bahkan salah aja gila. Apakah gadis tidak membaca BUKTI-BUKTI yang disodorkan Katrin bahwa Saman yangg digembar-gemborkan meledak di luar negeri (paling tidak di kortem hehe) akhirnya harus puas diterbitkan oleh penerbit alternatif di Jerman maupun Prancis, masih jauh dari keberhasilan seorang Pramoedya yang bahkan saya jamin kalau Anda ke Shakespeare & co trus tanya punya bukunya dia nggak backpackers-cum-young writers yangg diperbudak melayani george di situ juga gak bakal tahu siapa dia. biarin asersif! haha! buktiin aja sendiri! prove me wrong! the onus is on you!

apakah gadis tidak mengerti bahwa poin Katrin justru mempertanyakan apakah ‘kesuksesan’ saman selama ini [1.] Benar-benar sesukses yang digembar-gemborkan dan [2.] diperoleh karena ISI-nya memang pantas sukses atau justru dari faktor-faktor di luar isinya, salah satunya politik itu tadi. Tentang poin 2 itu tadi, masa dilarang aja gitu? halo? masa melarang hume aja gitu karena dia skeptis kepada tuhan? karena tuhan pasti ada? duh. Dan ttg poin 1, kalau gadis memang menganggap diterbitkan oleh equinox adalah ukuran sukses (terjemahan inggris saman) kenapa dia nggak menjelaskan aja kenapa menurut dia itu sukses? mungkin dia tidak percaya dengan the mainstream book publishing market atau apalah setidaknya jelasin nek!

Gadis Arivia,”KUK sebagai organisasi komunitas yang mendorong kreatifitas sastra menurut saya perlu diperhitungkan kontribusi besar mereka pada sastra Indonesia.”

–sekalian aja ‘dengan semangat gotong royong dan her basuki mawa bea meningkatkan kreativitas (pake v kalau dikatabendakan, bu) sastra dalam rangka memompa kinerja bangsa menyambut iso 900′. duh. Buktiin dulu dong nek. Orang Katrin menunjukkan bukti-bukti bahwa KUK tidak melakukan itu semua malah mungkin sebaliknya kok dibalas hanya dengan pernyataan ASERSIF seperti itu. tuk jelek krn abcd. NGGAK NGGAK POKOKNYA NGGAK!

Gadis Arivia,”…..Cara-cara seperti ini tidak fair dan tidak etis.”

— duh ini lagi ini lagi. fairisme hahaha. etis-isme. Main-main obral moralitas aja. mana yg lebih etis, sok atau berasumsi berada di pihak yg benar tanpa membuktikan kebenaranmu atau apa yg dilakukan Katrin? btw, mencap apa yg dilakukan katrin sebagai pembunuhan karakter adalah simplifikasi yang gawat dan MANA BUKTINYA?

Gadis Arivia,”..Karya hanya dapat dinilai dari karya dan bukan di luar itu. Jadi, marilah kita mendiskusikan isi karya dan bukan “gosip-gosip” di luar karya.”

—well, you havent done it, bu. gimana dong? nggak usah ngomong dulu deh tentang bener nggaknya asersimu. Dan perhatikan nada moralistis di balik ‘marilah kita’ itu! Seakan-akan yg dianjurkannya pasti benar dan bermanfaat dan yang sebaliknya pasti penuh mudarat dan celaka. ill choose mudarat dan celaka anytime!

p.s. walaupun komentar ulil lebih moderat hahaha dan kalem, tuduhannya tentang orientalisme Katrin juga salah aja. Siapa yg membela Eka Kurniawan dan—yang paling penting—membuktikan bahwa “Cantik itu Luka” is a great novel dari cercaan akademik-akademik garing indonesia lain (yes im talking to you Maman s. Mahaya, duh nekgaringnya), siapa satu-satunya orang yang di sayembara esei DKJ 2008 berusaha menunjukkan kehebatan penulis perempuan lain selain the usual suspects ayu utami, nukila amal, intan paramadhita, ie, clara ng? siapa coba?

Mikael.

Komentar oleh Mikail [mengomentari komentar Gadis Arivia di awal polemik]

Sudah sekian lama polemik berselang, Ayu Utami dan KUk tetap diam. Lagi bikin projek apa sih?

Komentar oleh Frino Bariarcianur

Saya orang awam sastra. Pembaca pemula. Namun, sekali waktu, para pelaku polemik, baik Mbak Katrin maupun Jeng Gadis (aih, apa benar ini malah jd polemik keduanya? Gak selevel, sepertinya, kalo saya lihat kekuatan argumen keduanya. Tp KUK emang memilih tenggelam di dunia teks tanpa peduli konteks kan? buktinya diam aja hehe) dan semua stake holdernya ada baiknya menyadari bahwa para pembaca seperti saya (yang semestinya merdeka dan tdk segampang Prince Claus Award utk dipengaruhi) juga mendapat tempat untuk didengarkan. Ehm.

Baru beberapa hari yang lalu saya ikuti perdebatan ini, termasuk membaca tulisan2 lain yang terkait (tulisan2 Saut suami Katrin juga, yg kadang bernas dan bermuatan lmiah tapi lebih sering terlalu najis hingga menghilangkan selera membaca dan berpikir, sekaligus, mohon maaf, terkesan kurang beradab–terlalu normatif moraliskah? diganyang bang saut nanti :).

Jujur saja, meski menangkap kesan “kesumat” yang pekat dalam tulisan Katrin (tentu tidak menafikan kakuatan analisisnya), apalagi Saut, saya sebagai pembaca juga tiba2 jadi merasa begitu gundah. Lama saya menerawang, melihat2 rak buku saya, mengidentifikasi semua buku saya, dan… masyaallah…. saya terkesiap. Ternyata, koleksi buku sastra saya memang didominasi oleh buku2 dari para penulis lingkar KUK (kalo boleh saya menyebut begitu, demi simplifikasi :) Lalu, apa benar saya juga salah satu dari ribuan pembaca indonesia yang menjadi korban yang rapuh dari sebuah proyek kanonisasi? Kalo ya, waduh, kepada siapa saya harus mengadu? (terlalu “tumbak cucukan” kalo harus langsung mengadu sama tuhan). Maksud hati merayakan kemerdekaan dari pemasungan kebebasan membaca pasca orba, ternyata kemerdekaan diri (barangkali) terenggut oleh kuasa kebenaran yang lambat laun tercipta dan menampakkan dirinya. aih aih.. Rezim baru yang memunculkan kekuatannya lebih karena mampu membangun akses kuat ke para penerbit berkapital besar yang mau menjalankan “proyek rugi penerbitan sastra” (wabil khusus sastra koran)…

Mustahilkah itu? Makanya, saya geleng2 kepala membaca reply Jeng Doktor Gadis Arivia yang sepertinya ngotot meminta Mbak Katrin untuk melihat kualitas Saman dari teksnya sendiri (meski ini lebih sebagai cermin kecerobohan seorang doktor feminis yang kasih komentar tanpa lihat kiri kanan, karena toh Katrin sdh pernah mengulas Saman dengan detil di tahun 2005). Saya langsung membayangkan Jeng Gadis sebagai gadis (dengan g kecil) mahasiswi sastra semester dua yang masih keasyikan dengan srukturalime ortodox, dan belum masuk ke silabus lanjut mata kuliah intertekstualitas ataupun estetika resepsi dll.

Lebih jauh, Gadis seolah lupa (atau memang lupa?), bahwa pengetahuan adalah praktik politik kekuasaan sebagai produk modernisme lanjut, yang akhirnya meniscayakan obyektivisme sebagai bias, dan kebenaran sebagai versi. (maka, saya sih setuju saja sama komentar di atas yg bilang bahwa terlalu naif bila Gadis menyebut Saman bermutu karena diberi penghargaan hahaha. Lalu apa artinya Nobel Sastra tak pernah jatuh ke pangkuan Pram? Dengan cara apa dia melihat nyaris tak adanya kamerad dari kubu pro blok timur yg dapat door prize sastra yang konon paling prestisius itu?)

Gadis–yang saya salut karena tetap ngomong dengan santun gak kayak beberapa feminis yang saya kenal–juga mengenyahkan fakta bahwa sastra juga merupakan produk industri, sementara di industri, citra adalah sang penentu. Ujungnya bukan cuma cara kita menilai sebuah karya, greng ato tidaknya, tapi bahkan juga cara kita membaca. Ya to?

So?

Iqbal Aji Daryono
– tengkulak buku nan licik dan culas,
yang sering menjadi tersangka
dalam proyek manipulasi citra kecil2an:
menyulap naskah mawut menjadi tambang uang,
hanya dengan memoleskan gincu di sana-sini.

– belum berpihak pada salah satu pelaku di
polemik ini.

Komentar oleh iqbal aji daryono

dari posting Manneke:

“Esai di Republika itu menjadi “ilmiah” di mata pembaca karena ditulis oleh seorang Katrin Bandel. Tapi dengan mudah, jika nama itu diganti nama lain, seperti Saut Situmorang misalnya, maka pandangan pembaca atas keilmiahan esai itu juga bisa berubah. Ini faktor esktratekstual dalam pemaknaan sebuah genre yang tak kalah penting dari karakteristik generak yang dikandung sebuah tulisan. Saya pikir, jika bukan Katrin Bandel yang menulis artikel itu, perhatian orang mungkin tak akan sebesar seperti sekarang.”

Nah, Gadis Arivia, coba Anda lihat, kawan Anda Manneke sendiri mengakui betapa pentingnya faktor ekstratekstual dalam penilaian sebuah tulisan. Tulisan jelek dan tidak “ilmiah” menjadi bagus dan ilmiah di mata pembaca hanya karena nama penulisnya Katrin Bandel yang bule itu, begitu argumentasi Manneke.

Lalu mengapa Anda terus-menerus mempertahankan bahwa “Saman” itu dianggap bagus karena teksnya memang bagus, dan segala sesuatu di luar itu tidak berpengaruh?

Kalau kita tidak boleh memperhitungkan unsur ekstrateksual, bukankah gender penulis “Saman” juga tidak boleh diperhitungkan? Lalu mengapa Anda sibuk membicarakan kontribusi dan posisi Ayu Utami sebagai “pengarang perempuan”?

Kembali pada esei saya. Ya, tentu saya sadari bahwa nama saya, dan khususnya identitas saya sebagai orang asing, punya pengaruh terhadap resepsi pembaca. Itu memberi saya keleluasaan untuk mengekspresikan pendapat, tapi juga membuat tanggung jawab saya relatif berat. Saya menulis esei itu dengan kesadaran bahwa saya punya tanggung jawab moral terhadap sastra Indonesia. Kalau Anda tidak suka pada cara saya memahami tanggung jawab moral tersebut, terserah Anda.

Katrin Bandel [www.katrinbandel.com]
3 April 2008

Komentar oleh Gadis Arivia kepada Katrin Bandel [milis Jurnal Perempuan]

Hi Katrin,

Terima kasih emailnya. Ya tentu saya menganggap interpretasi ekstra tekstual penting dalam sebuah karya. Di dalam sejarah karya sastra Indonesia kita telah mengenalnya dalam diskusi karya-karya seperti Pramoedya Ananta Toer juga Alisjahbana. Seluruh karya-karya mereka tidak terlepas dari atau ada kaitannya (bila ingin dikaitkan) dengan posisi aktifitas politik mereka. Demikian pula dengan karya-karya asing antara lain yang pernah saya geluti adalah karya de Beauvoir dan Sartre. Jadi, saya paham dan menerima argumen ekstra tekstual.

Email saya kepada Katrin adalah justeru bukan mengesampingkan interpretasi ekstra tekstual tapi menanyakan apa kontribusinya dalam kasus karya Saman dan sejauh mana argumen Katrin tidak dianggap gosip. Dan Katrin telah menjawabnya dengan baik.

Saya menganggap karya Saman sangat menyumbang pada kemajuan sastra di Indonesia. Terutama dalam studi gender. Saya bisa mengatakan ini karena banyak mahasiswa saya yang sangat antusias dengan karya Saman bukan saja di Indonesia tapi di luar negeri. Jadi, dalam hal ini menurut saya karya Saman berhasil menarik perhatian baik di Indonesia maupun di luar negeri. Tapi bila Katrin menganggap tidak demikian tidak menjadi persoalan buat saya karena Katrin pasti punya pertimbangan lain. Pertimbangan saya adalah resepsi dunia akademik di Indonesia (khusus pengalaman saya di FIB UI dan Kajian Wanita UI) dan juga seminar-seminar yang saya diundang untuk presentasi karya pengarang perempuan Indonesia. Di dalam seminar-seminar tersebut apresiasi terhadap karya Ayu Utami terutama karangannya Saman sangat disambut.

Sekarang setelah memiliki pemahaman ekstra tekstual yang Katrin tulis mengenai Saman, saya mulai berpikir ulang. Tentu masukan Katrin penting tapi saya sedang bertanya pada diri saya sendiri apakah politik seputar karya Saman yang Katrin ungakapkan itu (seperti peranan GM, KUK dan Amnesty) akan mengurangi sumbangan Saman pada sastra Indonesia? Pertanyaan ini belum bisa saya jawab karena saya belum mengajar lagi. Nanti, kalau saya mengajar soal sastra dan feminisme akan saya juga sertakan tulisan Katrin dan diskusikan dengan mahasiswa. Sejauh ini saya hanya fokus pada pembongkaran dan kritik terhadap isi Saman, itu pun lebih pada studi gendernya.

Jadi Katrin, I appreciate very much your work dan diskusi di milis ini dengan Katrin dan juga dengan teman-teman milis di sini sangat bermanfaat buat saya termasuk olok2an antara saut dan manneke (mereka juga memiliki kontribusi penting).

Lain kali, kalau saya ketemu GM dan Ayu, saya akan tanya juga soal seputar politik karya Saman dengan rujukan tulisan Katrin. Hanya sekedar untuk melengkapi pengetahuan saya karena berguna bila sewaktu-waktu ada mahasiswa yang ingin menulis soal Saman lagi.

Salam manis,
Gadis Arivia.
4 April 2008, 15:54

Komentar oleh Gadis Arivia

Teman-teman,

Saya ingin cerita aja, saya nggak tahu apakah email saya ini relevan atau ngga dengan perdebatan tentang membongkar kasus politik sastra gombal ini. Karena saya tak membaca secara keseluruhan perdebatan tentang ini, ramai bgt sih.

tapi secara sekilas saya menangkap (maaf kalau salah) bahwa katrin beranggapan bahwa penghargaan yang ayu utami dapatkan dari prince klause ini dikarenakan GM dan TUk, bukan karena kualitas karya ayu itu sendiri yang memang layak menerimanya. ini yang disebut sastra di luar teks.

Kemarin saya ngobrol2 dg ayu dan bertanya soal ini. saya tanya ke dia apakah dia berniat menanggapi soal2 yang berkembang di milis atau lebih luasnya jagad kesusteraan ini karena kata saya ramai banget.

Trus dia bilang, “aku lagi hamil tua nong, aku nih ngga bisa diganggu sebulan ini. mungkin setelah sebulan ini atau dua atau tiga bulan ke depan aku akan menjawab dan menanggapi itu semua.”

Eit, jangan salah paham dulu. yang dimaksud ayu dengan hamil tua itu maksudnya dia sekarang dalam proses paling ujung penulisan novelnya setelah saman dan larung. rencananya dalam 3 bulan novelnya akan terbit. jadi dia merasa masa2 sekarang ini seperti benar2 lagi hamil tua, lagi2 di ujung-ujungnya, meneliti kata perkata, kalimat perkalimat, cerita dan endingnya. Jadi dia merasa ngga bisa diganggu apapun kecuali dia sendiri yang minta diganggu hehe…

Trus saya minta dia cerita tentang penghargaan prince klause itu. Ia bilang ia mendapatkan penghargaan itu bukan karena pertimbangan GM atau tidak ada faktor GM sama sekali sebab GM waktu itu tidak menjadi dewan juri dan belum ada kontak sebelum-sebelumnya dengan pihak Prince klause.

Baru setelah ayu dapat penghargaan, pihak prince klause intens dan merasa cocok dg GM. kata ayu, yang menjadi juri dari Indonesia itu Jim Supangkat dan siapa gitu satu orang lagi yang saya lupa namanya. Ayu mengira pihak Prince Klause mengenal dirinya setelah ada ulasan satu halaman di Herald Tribune yang mengulas tentang karyanya. Dari situ ia mulai dikontak2 pihak Prince Klause dan kemudian mendapatkan penghargaannya. setiap yang mendapatkan penghargaan prince klause pasti pihak panitia akan meminta seseorang yang dianggap kenal pada si pemenang utk menuliskannya. panitia bertanya ke juri indonesia dan mereka kasih nama GM. Nah, makanya GM yang menulis komentar ttg ayu di buku programnya itu.

Penghargaan untuk Ayu ini diserahkan di jakarta, di rumah dubes belanda. Kebetulan saya juga ikut menghadirinya stelah diingetin dia (katanya, keterlaluan kamu nong, kok bisa lupa gitu bow… trus aku bilang, abis waktu itu aku masih muda banget jadi banyak urusan hehe..). di situ ayu pidato secara spontan dan sangat rendah hati bahwa sebenarnya masih banyak sastrawan2 atau org lain yang layak mendptkan penghargaan dibanding dirinya. namun terlepas dari itu ia mengapresiasi putusan pihak prince klause dan ia senang dan berterima kasih krn telah dipercaya mendptkan penghargaan itu. jadi ngga ada pidato yang dibuatkan naskahnya sama GM.

Nah baru setelah Ayu ini, GM menjadi juri di prince klause dan selalu mengusulkan orang atau lembaga yang berhak mendapat penghargaan misalnya LKIS Jogya yg mendapatkan penghargaan ini di 2 tahun lalu kalau ngga salah. slamet gundono juga akan diusulkan dan mudah-mudah menang.

Moga email saya berkenan dan bermanfaat untuk sekalian alam hehe…

salam,
Nong

Sat, 5 Apr 2008 04:50:23 +0100 (BST)
di milis jurnal perempuan [JP]

Komentar oleh Nong [di milis jurnal perempuan]

[...] terkait : Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa Tidak ada Komentar sejauh ini Tinggalkan komentar RSS umpan untuk komentar-komentar dalam [...]

Ping balik oleh Katrin Bandel dan Gadis Arivia Saling Kritik « Indonesian Art News Agency

soal pidato yang disampaikan atau tidak disampaikan GM:

Martin Amanshauser mengutip tulisan GM (yang saya kutip ulang dalam esei saya) sebagai “Laudatio” GM dalam rangka pemberian Prince Claus Award. “Laudatio” (bhs. Jerman) adalah pidato untuk merayakan pemberian sebuah penghargaan atau untuk memperingati orang yang sudah meninggal. Fungsinya adalah untuk menerangkan di mana letak prestasi orang yang menerima hadiah tersebut, atau apa jasa orang yang sudah meninggal tersebut.

Menanggapi cerita Nong tentang penyerahan penghargaan Prince Claus pada Ayu Utami, saya melihat ada beberapa kemungkinan: Kalau memang benar bahwa tidak ada pidato “Laudatio” yang disampaikan, mungkin

a. Amanshauser keliru/salah informasi
b. Amanshauser menggunakan kata “Laudatio” itu dalam arti yang agak luas, yaitu bahwa teks GM dalam Prince Claus Awards Book itu merupakan “Laudatio” yang disampaikan secara tertulis, bukan secara lisan.

Detail-detail itu bukan persoalan yang substanstial bagi pesan dan argumentasi esei saya. Entah teks GM itu disampaikan secara lisan sebagai pidato atau secara tertulis dalam Prince Claus Book, fungsi teks itu tetaplah untuk merayakan kemenangan Ayu Utami dan “menjelaskan” mengapa Ayu Utami “pantas” mendapat penghargaan tersebut. Dan bagi saya sangatlah aneh dan tidak etis kalau teks semacam itu ditulis oleh orang yang sekomunitas dengan yang menerima penghargaan!

Katrin Bandel
http://www.katrinbandel.com

Komentar oleh Katrin Bandel

Katrin, saya pernah meng-e-mail dan meminta artikel-artikel Anda, dan saya senang sekali membacanya. Memang lebih bagus kalau perolokan dihentikan dan saya sendiri minta maaf bila saya telah menulis hal-hal yang salah baik yang ditujukan untuk Katrin, Saut atau anggota milis lainnya.

Secara pribadi, saya kagum dengan Saman dan bangga Indonesia punya novel seperti itu. Namun, saya tidak setuju kalau kualitas karya hanya diukur dari fenomenalitas karya tersebut. Sekali lagi, saya akan menyebut van Gogh, yang tidak laku. Tapi, sesudah mati, baru karyanya dipuji-puji. Terkadang kematian menjadi puncak karir
beberapa seniman.

Ada lagi banyak contoh selain van Gogh. Beberapa nama komponis perempuan bahkan tenggelam tanpa dikenal (sorri, ngomong komponis lagi, karena saya juga komponis). Kakak W.A. Mozart adalah musisi yang andal juga, namun karena jenis kelaminnya, dia menghilang begitu saja. Begitu juga saudari Felix Mendelssohn, dia sempat
menggubah beberapa lagu namun namanya tidak disebut-sebut.

Tentang GM memberi komentar Ayu. . . Tentu saja yang lebih bisa dianggap obyektif bila komentar Ayu datang dari anggota di luar komunitas. Namun, komentar ini kan bukan penjurian? Kalau penjurian, tentu saja ini jadi tidak etis dan lain tujuannya. Kalau komentar yang tujuannya untuk mendukung penjurian tersebut, mengapa
tidak dari seseorang yang mengenal secara pribadi? Justru ini cukup sesuai dengan tujuan.

Komentar oleh Soe Tjen

Saya kira, argumen Katrin bahwa rekan sekomunitas tidak etis menyampaikan sambutan, kurang berdasar. Apa salahnya rekan sendiri kasih sambutan? Sepanjang itu bukan sebagai penjurian itu sendiri, sebagaimana dikatakan Soe Tjen, saya kira lazim2 saja dan normal2 saja rekan sejawat memberikan pujian. Tak jauh beda dengan endorsement di cover belakang. (oiya, manipulasi kutipan Pram detailnya gimana sih? Kok gak ada yg kasih penjelasan?)

Yang jadi masalah kan substansi sambutan tersebut yang amat terasa sebagai sebuah aksi glorifikasi, bombastifikasi yang berlebihan, atas kehebatan Ayu Utami dan Saman.

Komentar oleh iqbal aji daryono

buat si Nong, eks manajer JIL yang sekarang jadi manajer umum Freedom Institute si Om Bakrie di atas.

apa memang benar Goenawan Mohamad “selalu mengusulkan orang atau lembaga yang berhak mendapat penghargaan misalnya LKIS Jogya yg mendapatkan penghargaan ini di 2 tahun lalu”!!!
Dongeng dari mana ini, sayang? hahaha…

bukankah yang benar adalah Goenawan Mohamad yang mengusulkan kelompoknya sendiri yaitu Jaringan Islam Liberal alias JIL untuk menang tapi presentasinya dimentahkan oleh seorang peneliti Islam di Jawa asal Belanda (?) sehingga LKiS Jogja yang menang Prince Claus Award tahun itu!!!

bo’ong mulu!!!

hahaha…

Komentar oleh Saut Situmorang

Katrin Figge Keberatan Dicitrakan Rasis oleh Katrin Bandel

Kawan-kawan yang indah,
Katrin Bandel yang indah,

1. Katrin Figge Bukan Orang Asing
Berikut ada kiriman lagi dari seorang sahabat. Tentang siapa sebenarnya Katrin Figge, yang dikutip pernyataannya oleh Katrin Bandel
dalam tulisan Bag 2 di Harian Republika. Katrin Bandel menyebutkan Katrin Figge sebagai “orang asing”. Sementara Katrin Figge menulis bahwa dirinya “half Indonesian myself”.

2. Katrin Figge sangat keberatan dicitrakan sbg “Rasis”
Ketika pernyataan Katrin Figge dicitrakan oleh Katrin Bandel sebagai “luar biasa rasis”, Katrin Figge menulis: “Me, HALF INDONESIAN MYSELF,
is said to be racist against my own people? The people of this country I love? Please!”

Lengkapnya, silahkan dibaca tulisan Katrin Figge di bawah ini. Semoga Katrin Bandel bersedia membaca juga. Dan, memberikan tanggapan. Terima
kasih,

dan salam indah,

dewi.

3. Tanggapan Katrin Figge atas Katrin Bandel
Katrin Figge Menulis, sumber : http://smilefromheaven.blogspot.com/
Wednesday, April 02, 2008

Idyll’s End

An abstract from an article by Katrin Bandel published in “Republika”:

‘Mari kita kembali sejenak pada laporan wawancara Katrin Frigge yang sudah saya bicarakan di awal tulisan ini. Figge membuka laporannya dengan kedua kalimat:

“Ayu Utami kommt zu spaet. Eine typisch indonesische Angewohnheit —
aber wohl ihre einzige.” (Ayu Utami datang terlambat. Kebiasaan yang khas Indonesia — tapi sepertinya satu-satunya kebiasaannya yang khas
Indonesia.”)

Bukankah penggambaran tersebut luar biasa rasis?’

I guess you can say many things about me. But being a RACIST is certainly the most ridiculous thing I’ve ever heard. At first, I was
really HURT by this accusation. Now I’m mostly pissed off.

Please, woman, use your head. Me, HALF INDONESIAN MYSELF, is said to be racist against my own people? The people of this country I LOVE?
Please!

If I use the sentence “Ayu Utami is late. A habit typical for Indonesians – but probably her only one” in an article, does that make me a racist? You could tell me, I use stereotypes, you can tell me I use clichés. But RACIST?

Are you fucking kidding me?

Komentar oleh Dewi Candraningrum di milis JP, 12 April 2008

Kawan-kawan yang indah,

1. Penerbit Horlemann yang kecil & kurang bergengsi itu Saya barusan mendapatkan informasi dari kolega perempuan yang mengawaki LSM Eine Welt Forum Aachen, Mbak Sri Ningsih. Mbak Sri menginformasi kisah yang sangat inspiratif. Dia menceritakan bahwa Penerbit Horlemann memang “kecil dan kurang bergengsi”, seperti tulisan Katrin Bandel (Bag 1), tetapi karya pengawaknya luar biasa.

Seorang perempuan yang rela hidup sederhana agar penerbitannya tetap hidup. Saat-saat pameran buku, Buchmesse, Verlag Horlemann tampak kecil di sekitar penerbit-penerbit kakap. Tetapi stand Verlag Horlemann berdiri gagah dengan keyakinan mendukung penerbitan juga penerjemahan, karya-karya para penulis, Asia bahkan, yang sama sekali kecil dan tidak terkenal. Kawan-kawan dapat mengakses link berikut:

http://www.horlemann.info/joomla/neuerscheinungen/neuerscheinungen.html

2.Sederhana, memperjuangkan suara yang jauh
Ada dua pelajaran yang saya petik dari kisah Mbak Sri ini. Pertama, kesederhanaan perempuan pengawak Verlag Horlemann untuk menghidupi penerbitannya yang idealis. Kedua, kesetiaan untuk memunculkan suara-suara dari jauh, yang bahkan tidak terdengar oleh publik di Jerman.

Lepas dari persoalan penerbitan, saya melihat bahwa Saman, karya Ayu Utami, tetap tumbuh, baik dikritik dan dipuji, di beberapa Universitas di Jerman.

Terima kasih Mbak Sri. Mbak Sri ada di milis kita ini juga. Saya
banyak belajar dari Mbak. Tentang perempuan dan negara, terutama.
Selengkapnya Mbak Sri akan menuliskannya untuk kita, nanti.

Dich fest umarme,
Dewi Chandraningrum

[Diposting di milis Jurnal Perempuan, 10 April 2008]

Komentar oleh Beritaseni

Penerbit Horlemann & Kesusasteraan Indonesia di Jerman

Kawan-kawan yang indah,

Berikut adalah tulisan dari Mbak Sri, seperti yang telah tempo hari kami janjikan bersama. Terima kasih kawan-kawan JP, yang telah sudi
memuatnya. Semoga berkenan dan selamat membaca. Dan, salam indah dari Aachen & Munster, (Mbak Sri & dewi).

http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-88%7CX

Artikel Perempuan
Jumat, 11 April 2008

Penerbit Horlemann dan Kesusasteraan Indonesia di Jerman
Oleh: Sri Ningsih

(Catatan atas tulisan Katrin Bandel di Harian Republika, Membongkar Kasus `Politik Sastra Gombal’, 23 Maret 2008).

Novel Saman karya Ayu Utami telah diterjemahkan dan diterbitkan di Perancis dan Jerman serta pemberian Prince Claus Award untuk Saman telah mengundang diskusi dan perdebatan yang cukup hangat dalam mailing list Jurnal Perempuan. Perbedaan terjadi dengan munculnya beberapa esei Katrin Bandel di Republika beberapa waktu yang lalu.

Beberapa tahun yang lampau, seorang anak muda pernah mempertanyakan “bagaimana sejatinya kearifan bisa dicapai? Apa bentuknya? Dan bagaimana pula ukurannya? Apakah kearifan adalah semata-mata sekumpulan teori dan adagium—atau sebaliknya, dibutuhkan kerangka dan cara pandang lain untuk mendapat penjelasan yang lebih masuk akal (?) Atau sedikit “bergenit” dengan istilah ilmiah: lebih empirik dan emplementatif?” (Agus Haryadi, 16 November 2004).

Pertanyaan ini menjadi aktual dalam menghadapi perbedaan pendapat baru-baru ini dalam memberikan penilaian terhadap Saman dan penulisnya. Sayang sekali, diskusi yang cukup hangat itu, hanya berputar-putar di sekitar kehidupan pribadi penulisnya—terutama hal-hal yang dianggap kelemahan-kelemahannya, bukan penilaian terhadap Saman sebagai hasil karya sastra. Perbedaan akan selalu dibutuhkan untuk bisa terus maju. Masalahnya, apakah kita sudah cukup menggunakan sekadar kearifan yang ada? Sehingga perbedaan-perbedaan itu bisa dihadapi dengan tujuan mencapai langkah-langkah yang lebih jauh maju.

Horlemann Verlag adalah penerbit yang menerjemahkan dan menerbitkan
Saman di Jerman, yang disebut oleh Katrin Bandel “hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman” oleh
karena itu “penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar”. Apa ukuran besar kecilnya Penerbit Horlemann itu? Apakah yang dimaksud `besar-kecil’ adalah jumlah omsetnya? Berapa kali bisa “melakukan obral buku” dan menurunkan harga yang disebabkan oleh over produksi? Apakah ukuran stand di Pameran Buku di Frankfurt? Apakah publikasinya di media-media besar? Atau penerbitannya yang bisa disinetronkan, lantas ia bisa disebut penerbit besar?

Dari segi fisik, memang Horlemann hanyalah sebuah penerbit kecil. Kalau dilihat dari ukuran gedung, jumlah pegawai, dan jumlah agennya. Kalau dibandingkan dengan Springer, atau Burda, atau RoRoRo di Jerman, Horlemann tentulah “hanya penerbit kecil, imut-imut’. Tetapi tunggu dulu, tengoklah hasilnya! Horlemann tidak hanya menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya dari Indonesia, namun dari hampir semua negara Asia Tenggara: Vietnam, Kamboja, India, Malaysia. Juga dari beberapa karya dari negara Amerika Latin, Afrika dan lain-lain. Kadang Horlemann justru menerbitkan karya-karya “kecil” dari Dunia Ketiga yang dikenal hanya oleh “segelintir orang”. Disinilah letak kebesaran Horlemann. Membuat penulis atau sastrwan yang tidak dikenal, menjadi dikenal. Membuat dari yang segelintir menjadi dua, tiga, seribu gelintir. Membuat publik Jerman mengenal dan bisa membaca karya-kaya dari berbagai bangsa dan tradisi-tradisi di luar Jerman.

Perjuangan Horlemann untuk terus memperkenalkan karya-karya kecil dari Dunia Berkembang merupakan jembatan di bumi manusia yang “tak kan lekang oleh panas, tak kan lapuk oleh hujan”. Juga tidak oleh perubahan klima. Untuk Indonesia saja, sudah beberapa hasil karya penulis Indonesia yang sudah diterbitkan oleh “penerbit kecil” ini. Mulai dari Armin Pane sampai Umar Kayam. Juga Leila S. Chudori dan sekarang Ayu Utami. Kunjungan Pramoedya Ananta Toer dan keliling Jerman di tahun 1999, antara lain didukung oleh Horlemann Verlag, dan bukan oleh penerbit lain. Buat pencinta sastra Indonesia di Jerman, penerbit Horlemann memiliki tempat istimewa tersendiri.

Di setiap Pameran Buku di Frankfurt, stand Horlemann terasa kecil memang apabila dibanding dengan penerbit-penerbit besar lainnya. Tetapi, ketegarannya untuk tetap bertahan dan hadir bukan hal yang sepele. Di pasaran buku Jerman, Horlemann nampak bagaikan ikan kecil yang sigap dan berani berenang di perairan yang penuh arus, di tengah ikan kakap dan hiu yang sewaktu-waktu bisa menelannya. Seperti pedagang kecil namun tangguh berjualan di tengah persaingan pasar bebas yang kejam.

Kleine Schritte, grosse Wirkung, langkah kecil, berakibat besar!

Aachen, 09 april 2008.

*Penulis adalah Board LSM Eine Welt Forum Aachen, Jerman.

Diposting dimilis JP, 10 April 2008 dan dipublish di JP Onine tanggal 11 April 2008

Komentar oleh beritaseni

Untuk Katrin F yang Rasis!

USE YOUR FUCKING HEAD YOURSELF, WOMAN!

do you think that just by being a “half” Indonesian it’s okay for you to use “sterotypes” of US Indonesian in an article intended to be read by Western foreigners! who created those stereotypes? US Indonesians? or white people the colonizer of the islands of Indonesia? not just white people created and used those fucking racist stereotypes but also “half” Indonesians or Indos like yourself! the so-called stereotype of “Indonesians are always late” (a habit typical for Indonesians!!!) was created together with another “stereotype”: THE LAZY MALAYS!

so you are one of US, eh! just because you are “half” Indonesian! look at your name. is it very “Indonesian” to you!!!

full-blooded Indonesians themselves can be racist towards Indonesia(ns), why a “half” Indonesian” can’t! are “half” Indonesians better “Indonesian”!!!

most racisms are unconscious, but in your case it is very obvious! as a full-blooded “Indonesian” I’m very very fucking pissed off with you, woman!

use you fuckin’ head next time you write about US!

how come a racist like you work for Goethe Institute?! you are only a disgrace to Goethe’s name!!!

Komentar oleh Saut Situmorang

untuk Sri Ningsih

setelah membaca promosi anda atas Horlemann, bukankah Katrin Bandel memang benar! penerbit Horlemann itu memang kecil! dan apa bukan karena kecilnya itulah maka Horlemann berusaha mencari pasar “lain” alternatif untuk bisa hidup! tentu saja dengan menjual/menerbitkan buku-buku dari Dunia Ketiga seperti Indonesia. dan ini klise! terutama di Barat sono. apalagi dengan makin malunya Barat saat ini dengan masa lalu mereka sebagai kekuatan kolonial di “Timur”! bukan cuman penerbitan buku aja yang mereka lakukan, pameran seni rupa, festival film Dunia Ketiga, sampai pemberian “beasiswa” kepada para elite intelektual Dunia Ketiga!

Salman Rushdie pernah bilang, dalam konteks pascakolonial negeri-negeri bekas jajahan Inggris, “The empire writes back!” dan Rushdie adalah salah satu dari mereka yang menulis kembali itu. apa Indonesia pernah menulis kembali?! cuma Pramoedya Ananta Toer!!! kenapa? kerna mayoritas “elite” Indonesia itu seperti anda, membela-bela sebuah aksi Barat yang konon “humanis” walo sebenarnya tak beda ama “kolonialisme terselubung”! kerna Horlemann “menerbitkan” seleksi fiksi Indonesia, dan ikut jadi sponsor kedatangan Pak Pram ke Jerman!, maka hebatlah Horlemann itu! walo hasil kerjanya secara umum di pasar pembaca sastra Internasional Jerman belom menunjukkan apa-apa!!! apa penerbitan fiksi Indonesia itu memang sudah membuat para pengarang yang beruntung itu dikenal luas di Jerman, di luar lingkaran akademik mahasiswa dan dosen yang belajar “bahasa” Indonesia!

jangan mengada-ada ah. kalok penerbitan fiksi Indonesia oleh Horlemann sudah menunjukkan hasil yang memuaskan pasti para penerbit besar Jerman akan berusaha menerbitkan karya sastra Indonesia juga! mereka akan berusaha ambil-alih hak terbit dari Horlemann! kerna sudah ada pasar yang menunggu karya-karya sastra Indonesia. kenyataannya apa begitu?!

justru karena hal ini tidak terjadi maka benarlah bahwa Horlemann itu cuma sebuah penerbit kecil doang. bahkan kecil dalam arti pengaruh penerbitannya atas dikenal luasnya atau tidak sastra Indonesia di Jerman. jadi benarlah tesis Katrin Bandelku tersayang itu!!!

hahaha…

Komentar oleh Saut Situmorang

coba kita simak “bahasa” postingan dari salah seorang “moderator” (moderat?!) milis jurnalperempuanhisteris yang mencekal aku Saut Situmorang untuk merespons serangan-serangan personal (gak ada yang di luar itu!) dari para kuntilanak betina dan jantan di milis gombalnya itu! namanya dewi chandraningrum.

Kawan-kawan yang indah,!
greetings macam apa ini! apa ada greetings kayak gini di bahasa apapun di planet ini! dalam bhs Inggris ada “beautiful friends” tapi apa itu artinya “kawan-kawan yang indah”! gawat! ato mungkin yang doi maksudkan kawan-kawannya yang “namanya” adalah “Indah”!!! hahaha…

Kawan-kawan yang indah,!
coba lihat istilah “pengawak” yang dipakeknya dalam pengawak penerbitan Horlemann itu. “pengawak”! macam mana pulak istilah ini! awak sampek kentut membacanya bah! hahaha… awak kapal itu semua orang tahu ada! awak urang awak pun ada! tapi “awak penerbitan”!!! alamakjang oi…

ada lagi!
dalam tulisan jeleknya yang konon untuk merespons esei mukjijat Katrin Bandel berjudul “Politik Etik Kesusasteraan”, dia pakek istilah “Kesusasteraan”. mana ada lagi istilah ini dalam sastra kontemporer Indonesia! mana ada itu “Fakultas Sastera”! mana ada itu “sasterawan”, ato “sastera(wan)wangi”! ke mane aje lo!!!

lalu soal “humanisme” dalam kritik sastra.
parah kali kadaluarsanya pengetahuan sastra dosen universitas muhamadiyah surakarta ini! dasar bukan orang sastra seh lo, hahaha… humanisme abad sembilanbelas yang lo pakek itu udah gak gaul lagi dalam membicarakan sastra! udah lama mampus. (kok gak Frankfurt School yang lo baca!) di sastra bhs inggris, mampus bersama mampusnya FR Leavis. tau lo siapa doi?! dimampusin ama TS Eliot dan New Criticism amrik dan Formalisme Rusia. kerna kritik “humanis” itu gak “ilmiah”, gak bawa studi sastra ke mana-mana! lalu tambah dimampusin ama Strukturalisme Prancis dan Pascastrukturalisme. baca lagi dong buku A Teeuw kalok lo gak bisa baca nyang versi internasional, hahaha…

humanisme diltheymu itu gak gitu berpengaruh dibanding humanisme Matthew Arnold dari inggris di dunia sastra! nah kalok elo emang cuman mampu nyang ngumanis, bacalah Arnold. bacalah Leavis. bacalah HB Jassin, hahaha…

untung elo gak nulis tulisan jelekmu itu di kalangan orang sastra Jerman. bisa dipertanyakan-kembali tuh beasiswa yang membuatmu bisa sekolah di negeri Katrin Bandelku sayang itu!!!

hahaha…

Komentar oleh Saut Situmorang

untuk KANTOR BERITASENI INDONESIA!

TERIMAKASIH BANYAK BAHWA KALIAN TELAH MEMBERIKAN RUANG UNTUK MELUASKAN DEBAT SOAL ESEI KATRIN BANDEL YANG TERBIT DI KORAN REPUBLIKA ITU! KALIAN JAUH LEBIH MENGERTI APA ITU “DEMOKRASI” DALAM MENGELUARKAN PENDAPAT DIBANDING MILIS GOMBAL JURNALPEREMPUAN. MILIS PARA KUNTILANAK ITU BERPRETENSI MENGERTI MAKNA “DEMOKRASI” (AKU MALAH DIKATAKAN “PENGKHIANAT DEMOKRASI” SETELAH AKU MEREKA CEKAL!), “FEMINIS”, “ILMIAH” DAN SEDERET KATA-KATA BESAR LAINNYA TAPI DALAM PRAKTEKNYA JUSTRU MENGENTUTIN SEMUA ISTILAH TERSEBUT! MEREKA MAMPUNYA CUMAN MELAKUKAN CHARACTER ASSASINATION TERUTAMA ATAS DIRIKU SAUT SITUMORANG (KETAWA “HAHAHA…” AJA AKU DILARANG!!!) DAN ITU MAKIN INTENS MEREKA LAKUKAN SETELAH “MEMODERASI” AKU DI MILIS GOMBAL MEREKA ITU. BAHKAN UNTUK MENGATAKAN “MENCEKAL” AJA PARA KUNTILANAK BETINA DAN JANTAN HISTERIS MILIS TERSEBUT KAGAK BERANI!!! KANTOR BERITASENI INDONESIA MERUPAKAN CONTOH PAR EXCELLENCE DARI SEBUAH MEDIA INTERNET YANG MENGHORMATI EKSPRESI PENDAPAT SIAPAPUN! KARENA INTERNET ADALAH SEBUAH RUANG, SEBUAH CYBERSPACE, YANG PALING MENGHORMATI KEBEBASAN BEREKSPRESI PARA CYBORG YANG MENGHUNINYA! BETAPA DEKADENNYA INDONESIA KALAU “ELITE INTELEKTUALNYA” MELAKUKAN APA YANG KONON MEREKA BENCI DARI REJIM FASCIS MILITER SUHARTO!!!

HORAS JALA GABE!!!
HIDUP DAN BERKEMBANGBIAKLAH PEMIKIRAN KRITIS DI KEPALA-KEPALA ORANG INDONESIA, BAIK YANG PENUH INDONESIA APALAGI YANG CUMAN SETENGAH INDONESIA!!!

HAHAHA…

Komentar oleh Saut Situmorang

Bang Saut, terima kasih banyak. Dan turut berduka atas kejadian yang menimpa dikau. Di beritaseni, kami percaya, bahwa kita semua bisa menjaga kebebasan itu.

O ya, dunia sastra Indonesia saat ini gak bekalan seru kalau gak ada kritik dari Saut Situmorang. Eh, kalau gak ada Katrin Bandel ding.

hehehe…

Tetap semangat dan jaga kesehatan Bang Saut!

salam
frino

Komentar oleh beritaseni

Sebenarnya saya malas ikut campur soal ini, tapi adanya pemojokkan saudara Katrin dr sisi lahir, saya yg bernafas dari bumi pertiwi ini juga, merasa tak nyaman jika tak menghargainya. Kalau di kalangan nadzliyin ada istilah Setengah Wali, saya sebut Katrin itu setengah K’tut Tantri, pun saya rasa Said sepakat hal ini (pengelana dr tlatah lamongan).

Komentar oleh Nurel Javissyarqi

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Komentar oleh Qinimain Zain

[...] *Katrin Bandel, kritikus sastra, tinggal di Jogjakarta. Tulisan ini sendiri pernah dipresentasikan di Meja Budaya PDS HB Jassin, TIM, pada Jumat 24 Maret 2008. http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/ [...]

Ping balik oleh Sastra-Indonesia.com » Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa

It’s really a nice and helpful piece of information. I’m happy
that you simply shared this useful information with us. Please keep us informed like this.
Thanks for sharing.

Komentar oleh backup software

My relatives always say that I am wasting my time here at net, but I know I am getting
experience every day by reading such good content.

Komentar oleh Riley

Ԝhat mɑkes tɦіs game worth it іs tҺіs fact іt’azines practically
almst endless. ” The 3 injuries are styles of your action-word which means that “tߋ switch”. However, no less than evereyone received’capital t sense thus foolish even though having fun with the action, suitable.

Komentar oleh download free scrabble

Just want to say your article is as astonishing. The clearness to your publish is simply great
and that i can suppose you are knowledgeable in this subject.

Fine along with your permission allow me
to grab your feed to keep up to date with approaching post.
Thank you one million and please continue the gratifying work.

Komentar oleh Le vocabulaire du cinéma pdf

What you posted made a lot of sense. However, consider this,
what if you were to write a killer headline? I ain’t saying your information isn’t
good, but suppose you added a title that makes people
desire more? I mean Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa
| Indonesia Art News Agency is a little plain. You should look at Yahoo’s home page and
watch how they create news titles to grab viewers to click.
You might add a video or a related picture or two to get
readers interested about what you’ve got to say.
In my opinion, it would bring your blog a little bit more
interesting.

Komentar oleh Amelia

Good response in return of this matter with solid arguments and describing all on the topic
of that.

Komentar oleh Venison Cookbook (A. D. Livingston Cookbook) pdf




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.